Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pendidikan yang membebaskan tidak seharusnya melihat hubungan guru dan murid sebagai relasi antara si tahu dan si bodoh. Pendidikan adalah ruang pertemuan antara dua subjek yang sama-sama punya kesadaran dan pengalaman. Hubungan ini harusnya bersifat dialogis dan saling membentuk, di mana kebenaran dicari bersama lewat diskusi yang jujur, bukan dipaksakan oleh pihak yang punya kuasa. Ketika mahasiswa memilih bungkam karena takut pada dosennya, saat itulah ruang dialog berubah menjadi ruang dominasi yang hanya melahirkan kepatuhan semu. Padahal, masyarakat yang maju tidak dibangun oleh mentalitas asalkan bapak senang, melainkan oleh keberanian untuk berdialog secara sehat.
mestinya perubahan ini tidak bisa cuma berhenti di level jargon, pidato keren, atau analisis teori yang muluk-muluk. Terlalu banyak orang yang bisa bicara lantang soal demokrasi dan kebebasan berpikir di forum diskusi, tapi mendadak jadi feodal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang mengutuk hierarki, tapi tetap haus akan kepatuhan orang lain di sekitarnya.
Ukuran keberhasilan pendidikan yang membebaskan itu sebenarnya sederhana, yaitu sejauh mana kita benar-benar memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda pendapat, seberapa mampu kita menerima kritik tanpa merasa harga diri kita runtuh, dan apakah ruang kelas kita sudah menjadi tempat yang aman untuk berpikir tanpa rasa takut. Pendidikan yang sehat tidak lahir dari pemujaan terhadap kepintaran, melainkan dari kerendahan hati untuk terus belajar dan saling menguji gagasan secara setara. Di situlah esensi pendidikan yang sebenarnya menemukan makna: memanusiakan manusia, bukan menundukkannya.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar