Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 383
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan.
Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh hormat: Malimbong. Ia bukan pujian ringan, apalagi sanjungan kosong. Malimbong adalah pengakuan sosial atas keluasan pandangan, keluasan bacaan, dan ketajaman nalar seseorang. Ia menandai perjalanan intelektual yang panjang—tentang seseorang yang telah lama bergulat dengan teks, realitas, dan logika. Malimbong adalah kecakapan berpikir yang tampak dan bisa diukur.

Namun, di lorong-lorong batin yang lebih sunyi, masyarakat Mandar mengenal istilah lain yang jauh lebih hening, tetapi justru lebih berat bobotnya: Madzilalang. Bagi saya, Madzilalang adalah tahap ketika ilmu berhenti menjadi sekadar isi kepala, lalu menjelma menjadi sikap hidup. Di titik ini, pengetahuan tidak lagi berdiri sebagai data, tetapi telah bersemayam sebagai laku, sebagai cara hadir di dunia. Jika Malimbong bertanya seberapa luas yang kau ketahui, Madzilalang bertanya sejauh apa ilmu itu mengubahmu. Bukan lagi soal “tahu”, melainkan soal “menjadi”.
Orang yang sampai pada maqam Madzilalang biasanya teduh. Ilmunya tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak merasa perlu membuktikan diri. Ia tidak sibuk menata kata agar terdengar pintar. Justru dari ketenangannya, kebijaksanaan memancar. Ia seperti cahaya: tidak berisik menjelaskan dirinya, tetapi kehadirannya membuat sekitar menjadi terang, arah menjadi jelas, dan orang lain merasa aman.

Diskusi dengan Kak Anchu tempo hari mengguncang kesadaran saya. Kita hidup di zaman ketika sekolah tinggi bukan lagi barang langka. Gelar akademik berderet, disiplin ilmu dikuasai, perdebatan dikelola dengan sangat lihai. Banyak di antara kita—tanpa ragu—layak disebut Malimbong. Namun, ada satu kegelisahan yang sulit disingkirkan: mengapa keluasan ilmu sering tidak berbanding lurus dengan keteduhan sikap?

Barangkali ini berat karena Madzilalang menuntut sesuatu yang lebih daripada kecerdasan yaitu penyelesaian terhadap ego. Pada tahap ini, seseorang mesti berdamai dengan kesombongan yang kerap bersembunyi di balik prestasi dan gelar. Ilmu tidak lagi dipakai untuk menaklukkan, mengalahkan, atau mendominasi. Yang memancar justru kesederhanaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang hidup. Ilmu berubah orientasi: dari alat kuasa menjadi jalan pengabdian.

benang merahnya terlihat jelas bahwa Tanggung jawab ilmu tidak boleh berhenti di kepala atau di lisan. Ia harus melampaui kepentingan diri, lalu kembali kepada orientasi yang lebih luhur—kepada Yang Maha Pengasih. Ilmu sejati mesti diurus dengan cinta. Dan cinta, barangkali, adalah bentuk tindakan manusia yang paling dekat dengan kebenaran sejatinya.

Sayangnya, ilmu yang bernyawa seperti ini sering tersingkir oleh arus zaman yang serba material. Kita terlalu sibuk mengoleksi pengakuan, prestise, dan legitimasi formal, tetapi lupa merawat ruhani—hati yang seharusnya menjadi pusat dari seluruh pengetahuan. Padahal, ukuran paling nyata dari ilmu seseorang bukanlah kefasihan argumennya, melainkan dampak kehadirannya: apakah ia membuat orang lain merasa aman, lapang, dan damai.

Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan juga teguran bagi keangkuhan saya sendiri—yang kerap merasa tahu banyak, tetapi lalai mengenal diri, dan lupa kepada Dia yang menggenggam seluruh pengetahuan dan keberadaan ini.
Kita sering terlena. Negara mungkin terus bergerak maju, semakin dinamis dalam percaturan global. Tetapi tanpa Madzilalang, kita kehilangan ruh spiritualitas. Tak heran bila banyak aktor pembangunan lahir sebagai pribadi-pribadi yang sangat cakap—Malimbong—namun gagal menyentuh hati dan tak memiliki daya ubah yang sungguh-sungguh, sebab pesan tak terpancar, ilmu tidak pernah benar-benar menetap dalam jiwanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengukuhkan susunan pengurus masa khidmah 2025–2030 dalam sebuah prosesi di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026). Pengukuhan dipimpin langsung Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan disaksikan Presiden RI Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional. Acara yang dirangkaikan dengan kegiatan “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” itu dihadiri […]

  • Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Malam Minggu (28/12/2025) menjadi malam yang penuh duka bagi Panti Werdha Damai, Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado. Sebanyak 16 lansia meninggal dunia dalam kebakaran hebat, sementara belasan lainnya selamat tetapi mengalami luka bakar dan trauma mendalam. Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan, menjelaskan bahwa pihak kepolisian dan Polda […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 491
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

  • Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Sejumlah elemen organisasi yang tergabung dalam Aliansi Tolak RUU TNI, yakni LMID Pembebasan, Sekolah Critis MU, Sekber, KPR, FSPBI, AMP, LPM Aspirasi, Aksi Kamisan, dan FIB, menggelar aksi demonstrasi jalanan. Aksi ini menolak revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang dinilai mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Ternate, 20 Maret 2025. Aksi dimulai di […]

  • Ketika Hujan Turun: Ini Doa dan Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

    Ketika Hujan Turun: Ini Doa dan Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Hujan merupakan rahmat dan berkah dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, turunnya hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga momen istimewa yang mengandung keberkahan dan doa yang mustajab. Rasulullah SAW banyak mencontohkan doa dan amalan yang bisa dilakukan saat hujan turun. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang berpijak pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, turut […]

  • Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Dalam upaya mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian dan pangan, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Launching & Talkshow Agrinext Center yang diselenggarakan oleh Bidang Pertanian dan Pangan KOPRI PB PMII. Agenda kolaborasi diselenggarakan di perpustakaan Nasional RI, 20 Juni 2025. Kegiatan bertema “Akselerasi Peran Petani […]

expand_less