Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 330
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan.
Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh hormat: Malimbong. Ia bukan pujian ringan, apalagi sanjungan kosong. Malimbong adalah pengakuan sosial atas keluasan pandangan, keluasan bacaan, dan ketajaman nalar seseorang. Ia menandai perjalanan intelektual yang panjang—tentang seseorang yang telah lama bergulat dengan teks, realitas, dan logika. Malimbong adalah kecakapan berpikir yang tampak dan bisa diukur.

Namun, di lorong-lorong batin yang lebih sunyi, masyarakat Mandar mengenal istilah lain yang jauh lebih hening, tetapi justru lebih berat bobotnya: Madzilalang. Bagi saya, Madzilalang adalah tahap ketika ilmu berhenti menjadi sekadar isi kepala, lalu menjelma menjadi sikap hidup. Di titik ini, pengetahuan tidak lagi berdiri sebagai data, tetapi telah bersemayam sebagai laku, sebagai cara hadir di dunia. Jika Malimbong bertanya seberapa luas yang kau ketahui, Madzilalang bertanya sejauh apa ilmu itu mengubahmu. Bukan lagi soal “tahu”, melainkan soal “menjadi”.
Orang yang sampai pada maqam Madzilalang biasanya teduh. Ilmunya tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak merasa perlu membuktikan diri. Ia tidak sibuk menata kata agar terdengar pintar. Justru dari ketenangannya, kebijaksanaan memancar. Ia seperti cahaya: tidak berisik menjelaskan dirinya, tetapi kehadirannya membuat sekitar menjadi terang, arah menjadi jelas, dan orang lain merasa aman.

Diskusi dengan Kak Anchu tempo hari mengguncang kesadaran saya. Kita hidup di zaman ketika sekolah tinggi bukan lagi barang langka. Gelar akademik berderet, disiplin ilmu dikuasai, perdebatan dikelola dengan sangat lihai. Banyak di antara kita—tanpa ragu—layak disebut Malimbong. Namun, ada satu kegelisahan yang sulit disingkirkan: mengapa keluasan ilmu sering tidak berbanding lurus dengan keteduhan sikap?

Barangkali ini berat karena Madzilalang menuntut sesuatu yang lebih daripada kecerdasan yaitu penyelesaian terhadap ego. Pada tahap ini, seseorang mesti berdamai dengan kesombongan yang kerap bersembunyi di balik prestasi dan gelar. Ilmu tidak lagi dipakai untuk menaklukkan, mengalahkan, atau mendominasi. Yang memancar justru kesederhanaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang hidup. Ilmu berubah orientasi: dari alat kuasa menjadi jalan pengabdian.

benang merahnya terlihat jelas bahwa Tanggung jawab ilmu tidak boleh berhenti di kepala atau di lisan. Ia harus melampaui kepentingan diri, lalu kembali kepada orientasi yang lebih luhur—kepada Yang Maha Pengasih. Ilmu sejati mesti diurus dengan cinta. Dan cinta, barangkali, adalah bentuk tindakan manusia yang paling dekat dengan kebenaran sejatinya.

Sayangnya, ilmu yang bernyawa seperti ini sering tersingkir oleh arus zaman yang serba material. Kita terlalu sibuk mengoleksi pengakuan, prestise, dan legitimasi formal, tetapi lupa merawat ruhani—hati yang seharusnya menjadi pusat dari seluruh pengetahuan. Padahal, ukuran paling nyata dari ilmu seseorang bukanlah kefasihan argumennya, melainkan dampak kehadirannya: apakah ia membuat orang lain merasa aman, lapang, dan damai.

Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan juga teguran bagi keangkuhan saya sendiri—yang kerap merasa tahu banyak, tetapi lalai mengenal diri, dan lupa kepada Dia yang menggenggam seluruh pengetahuan dan keberadaan ini.
Kita sering terlena. Negara mungkin terus bergerak maju, semakin dinamis dalam percaturan global. Tetapi tanpa Madzilalang, kita kehilangan ruh spiritualitas. Tak heran bila banyak aktor pembangunan lahir sebagai pribadi-pribadi yang sangat cakap—Malimbong—namun gagal menyentuh hati dan tak memiliki daya ubah yang sungguh-sungguh, sebab pesan tak terpancar, ilmu tidak pernah benar-benar menetap dalam jiwanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 208
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tiga jet tempur Amerika Serikat jenis F-15E Strike Eagle ditembak jatuh secara tidak sengaja oleh sistem pertahanan udara Kuwait saat operasi tempur aktif di kawasan tersebut, Senin (2/3/2026). Seluruh enam awak pesawat dilaporkan selamat dan dalam kondisi stabil. Insiden itu terjadi di tengah ofensif gabungan Washington bersama Israel terhadap Iran yang telah memasuki […]

  • Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 418
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivitas pertambangan yang dilakukan PT Pantas Indomining di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kembali menuai sorotan publik. Kali ini, isu dugaan kriminalisasi terhadap warga yang memprotes aktivitas tambang memicu kritik dari kalangan aktivis lingkungan. Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan (APPLI) Sulawesi Tengah melalui ketuanya, Aulia Hakim, menyampaikan bahwa masyarakat setempat sejak awal telah […]

  • Rahmat Aries Bawa Asta Aksi ke Forum ASEAN

    Rahmat Aries Bawa Asta Aksi ke Forum ASEAN

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Prestasi membanggakan kembali diraih Kabupaten Luwu Utara. Rahmat Aries, seorang penyandang disabilitas yang menjabat sebagai Perencana Ahli Pertama di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Luwu Utara, terpilih mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi YSEALI Summit 2025 yang berlangsung di Penang, Malaysia. YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) merupakan program kepemimpinan yang digagas oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui […]

  • Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 300
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut dioperasikan oleh IAT selaku pemegang AOC 034, dan sedang melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) […]

  • Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 162
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., membuka secara resmi kegiatan Tazkiyatun Nafs: Pembinaan Ruhani dan Profesionalisme Pegawai UPQ yang diselenggarakan Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama pada 10–13 November 2025 di Ciawi, Kabupaten Bogor. Agenda ini menjadi bagian dari upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia UPQ seiring target besar […]

  • Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Di antara beragam kuliner Nusantara yang menggoda selera, Lalampa menjadi salah satu kue tradisional khas Gorontalo yang patut diperkenalkan lebih luas. Kue ini merupakan simbol kekayaan kuliner pesisir Sulawesi, terutama dari masyarakat Gorontalo yang kaya akan rempah dan hasil laut. Sekilas, Lalampa terlihat seperti lemper dari Jawa. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan keunikan […]

expand_less