Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Merdeka, tapi Bagi Siapa? Catatan Kecil soal Kebebasan Beragama Menjelang 17 Agustus

  • account_circle Wahiyudin Mamonto
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • visibility 169
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap kali Agustus tiba, saya selalu berpikir: kemerdekaan itu sebenarnya milik siapa? Bendera dikibarkan, lomba panjat pinang digelar, pidato-pidato disiapkan. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab tuntas—apakah setiap warga negara, tanpa memandang apa yang ia yakini, benar-benar sudah merdeka untuk beribadah dan hidup sesuai keyakinannya?

Kalau bicara soal aturan, sebenarnya negara ini sudah punya bekal yang cukup. Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyebut kemerdekaan sebagai hak segala bangsa, dan Pasal 28E serta Pasal 29 menjamin kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai keyakinan masing-masing. Di atas kertas, negara semestinya hanya jadi penjamin—bukan wasit yang menentukan iman siapa yang benar. UU HAM dan berbagai regulasi turunan pun memperkuat jaminan itu.

Masalahnya, seperti biasa, jarak antara apa yang tertulis dan apa yang terjadi di lapangan itu jauh sekali. Kita masih sering dengar rumah ibadah ditolak warga sekitar dengan dalih izin yang sebenarnya menyembunyikan penolakan sosial. Kelompok minoritas agama atau penghayat kepercayaan masih kerap kena stigma, mulai dari ujaran kebencian sampai dipersulit saat mengurus layanan publik yang paling dasar sekalipun. Belum lagi kebijakan-kebijakan daerah yang diam-diam berpihak pada kelompok mayoritas, sehingga yang minoritas jadi warga kelas dua dalam urusan perlindungan hukum.

Yang bikin miris, persoalan ini jarang murni soal hukum. Lebih sering soal bagaimana aparat dan masyarakat memaknai aturan itu sendiri. Prinsip bahwa semua orang setara di depan hukum, bahwa martabat manusia harus dihormati siapa pun dia—itu semua masih harus terus diperjuangkan, bukan dianggap selesai begitu saja. Dan ketika pejabat publik lebih memilih tunduk pada tekanan massa daripada berpegang pada konstitusi, kebebasan beragama jadi salah satu hak yang paling gampang dikorbankan demi kepentingan sesaat.

Di tengah situasi seperti ini, saya justru melihat harapan dari arah yang tidak selalu disorot media besar: kelompok-kelompok masyarakat yang berpikiran terbuka, plural, dan mengedepankan diskusi untuk solusi. Mereka terus mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan—bukan keseragaman.

Ada beberapa hal yang saya harap terus dilakukan kelompok-kelompok masyarakat semacam ini ke depan. Pertama, terus turun ke akar rumput untuk mendidik masyarakat soal toleransi, karena kebencian biasanya tumbuh subur justru di tempat yang jarang tersentuh diskusi semacam ini. Kedua, hadir sebagai jembatan dialog saat ketegangan antarkelompok agama muncul, dengan pendekatan yang manusiawi, bukan konfrontatif. Ketiga, ikut mengawal kebijakan di tingkat daerah, supaya suara kelompok yang rentan didiskriminasi tidak tenggelam begitu saja.

Bayangkan situasinya begini: ada kelompok minoritas yang ditolak saat hendak beribadah. Alih-alih membiarkan konflik itu membesar, kelompok-kelompok masyarakat yang terbuka dan plural ini bisa masuk membangun ruang dialog, menjelaskan hak konstitusional warga, sekaligus menawarkan cara pandang keagamaan yang terbuka dan ramah. Dari situ, nilai kemerdekaan berhenti jadi slogan di pidato kenegaraan dan mulai jadi sesuatu yang benar-benar dialami orang di kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang menurut saya sering luput: kebebasan beragama tidak akan pernah cukup hanya ditopang oleh undang-undang. Ia butuh budaya hukum yang hidup di tengah masyarakat. Tanpa kesadaran itu, toleransi gampang tergerus oleh prasangka, sekuat apa pun bunyi pasal yang melindunginya. Karena itu, momen 17 Agustus semestinya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat untuk terus menanamkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam praktik nyata—bukan hanya dalam pidato-pidato yang indah didengar.

Kalau boleh menengok ke belakang, sebenarnya persoalan ini bukan hal baru dalam pemikiran manusia. Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah, sudah lama mengingatkan bahwa sebuah peradaban hanya bisa bertahan dan berkembang kalau ada ashabiyah—ikatan sosial—yang cukup kuat untuk menaungi keragaman di dalamnya, bukan ikatan yang dipaksakan lewat penyeragaman. Ketika suatu masyarakat mulai menutup diri dari perbedaan dan hanya percaya pada satu golongan sebagai pemegang kebenaran tunggal, di situlah menurutnya benih keruntuhan mulai tertanam. Relevan sekali dengan situasi kita hari ini: bangsa yang ingin kokoh justru harus punya ruang cukup lapang bagi siapa pun untuk berbeda keyakinan tanpa merasa terancam.

Dari arah yang berbeda, Jalaluddin Rumi menawarkan cara pandang yang lebih personal soal keberagaman ini. Baginya, jalan menuju kebenaran bisa ditempuh lewat banyak lampu yang berbeda, dan yang satu tak perlu memadamkan yang lain agar cahayanya tetap terlihat. Rumi selalu menekankan cinta dan keterbukaan hati sebagai jalan bertemu dengan sesama manusia, terlepas dari agama atau alirannya. Semangat semacam inilah yang sebenarnya sudah lama dipraktikkan kelompok-kelompok masyarakat yang berpikiran terbuka dan plural di Indonesia—bukan sekadar mengutip pemikiran orang lain, tetapi menghidupkannya lewat dialog dan kerja nyata di lapangan.

Pada akhirnya, kemerdekaan tidak diukur dari semarak upacara atau lomba tujuh belasan. Ia diukur dari rasa aman setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk dalam hal beragama. Selama masih ada warga yang harus menyembunyikan keyakinannya atau beribadah sambil dibayangi rasa takut, selama itu pula kita belum bisa bilang bahwa kemerdekaan ini sudah utuh milik semua orang.

Jadi menjelang 17 Agustus tahun ini, saya kira harapan paling realistis bukan pada seremoni yang makin meriah, tapi pada kelompok-kelompok masyarakat yang berpikiran terbuka, plural, dan mengedepankan diskusi untuk solusi, yang terus menjaga nyala kemanusiaan dan pluralisme itu tetap hidup—terutama saat godaan untuk intoleran datang dari berbagai arah. Karena merdeka yang sesungguhnya adalah ketika kebebasan beragama berhenti jadi bahan perdebatan, dan mulai jadi kenyataan yang dihormati bersama.

Penulis Ketua Lakpesdam PCNU Kota Gorontalo Masa Khidmat 2015-2020

  • Penulis: Wahiyudin Mamonto

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menag Nasaruddin Umar Luncurkan Buku Teladan Sang Menteri di Masjid Istiqlal

    Menag Nasaruddin Umar Luncurkan Buku Teladan Sang Menteri di Masjid Istiqlal

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar dijadwalkan meluncurkan buku berjudul Teladan Sang Menteri pada Senin (6/4/2026) di Aula VVIP Masjid Istiqlal. Peluncuran buku ini merupakan hasil kolaborasi antara UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal sebagai bagian dari penguatan tradisi intelektual serta kepemimpinan berbasis nilai. Buku karya akademisi UIN Ar-Raniry […]

  • Pengawasan KNMP Kalumbatan Kembali Disorot, Kevin Lapendos Desak Pengerjaan Dihentikan Sementara

    Pengawasan KNMP Kalumbatan Kembali Disorot, Kevin Lapendos Desak Pengerjaan Dihentikan Sementara

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 95
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persoalan pengawasan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, kembali menjadi sorotan. Koordinator Aliansi Pemuda Kalumbatan, Kevin Lapendos, mendesak agar pengerjaan proyek tersebut dihentikan sementara sampai aspek pengawasan, keamanan area kerja, dan kepatuhan terhadap ketentuan pelaksanaan proyek dapat dievaluasi secara menyeluruh. Desakan tersebut disampaikan Kevin setelah menurut pantauannya, […]

  • Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Lalyla binti Abdullah bin Abdu Syams al-Qurasyiyah al-Adawaiyah atau lebih dikenal dengan Al-Shifah binti Abdullah adalah perempuan Quraisy dari Bani ‘Adi yang masuk Islam pada fase awal dakwah di Makkah, lalu hijrah ke Madinah. Informasi tentang dirinya memang tidak sebanyak tokoh perempuan lain, tetapi data yang tersedia cukup jelas dalam beberapa sumber klasik seperti Al-Tabaqat […]

  • Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 279
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kematian Ali Khamenei memicu dinamika baru dalam politik Iran. Di tengah spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya, nama Hassan Rouhani kembali mencuat dan mulai diperbincangkan di kalangan elite politik maupun pengamat internasional. Rouhani dikenal sebagai salah satu tokoh moderat dalam struktur Republik Islam Iran. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Iran […]

  • Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 192
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan keringanan biaya perjalanan bagi masyarakat yang akan melakukan mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, usai memimpin apel gelar pasukan sekaligus pembukaan Posko Terpadu Angkutan Udara periode Nataru di Bandara Djalaludin Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Idah menjelaskan, pemerintah telah […]

  • Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)

    Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Bagi siapa pun yang menelusuri sejarah awal Islam, nama Khabbab bin al‑Arat muncul sebagai salah satu tokoh sahabat yang perannya sangat strategis, meski sering luput dari perhatian umum. Selain karena keteguhan imannya, ia juga dikenal karena pengaruhnya dalam pembinaan sahabat-sahabat Muslim awal, termasuk keterlibatannya dalam peristiwa yang turut memengaruhi hidayah Umar bin al‑Khattab. Khabbab lahir […]

expand_less