Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
  • visibility 357
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya cenderung skeptis terhadap doa dan pembacaan kitab suci dalam acara seremonial. Bukan karena keduanya kehilangan legitimasi religius, melainkan karena terlalu sering diposisikan sebagai ritual pembuka yang netral, steril dari relasi kuasa, dan seolah berada di luar politik representasi. Padahal, justru di awal acara itulah etika sebuah panggung bekerja.

Acara ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, lalu doa. Keduanya dibacakan oleh anak-anak madrasah tunanetra. Saya ingin menegaskan sejak awal: yang membuat peristiwa ini penting bukan karena mereka tunanetra, dan bukan pula karena hadirin “terharu”. Yang penting adalah cara panggung itu disusun.

Dalam banyak praktik, disabilitas kerap dihadirkan sebagai narasi moral: untuk membangkitkan empati, menegaskan kebajikan penyelenggara, atau sekadar menjadi bukti simbolik inklusivitas. Pola semacam ini justru problematik, karena menjadikan disabilitas sebagai objek afeksi, bukan sebagai subjek sosial.

Yang terjadi di sini berbeda.

Tilawah dan doa di awal acara itu tidak diletakkan sebagai momen emosional, tidak diberi bingkai narasi “keterbatasan”, dan tidak diposisikan sebagai kejutan dramatik. Anak-anak tunanetra tersebut tidak “dipamerkan”. Mereka dipercaya. Dan kepercayaan adalah kategori politik, bukan psikologis.

Di titik ini, panggung bekerja secara etis. Ia tidak menurunkan standar, tidak pula mengistimewakan secara simbolik. Ia menempatkan subjek disabilitas dalam posisi yang paling mendasar dalam sebuah seremoni keagamaan: pembuka ruang sakral. Ini bukan gestur belas kasih, melainkan praktik pengakuan.

Di sinilah saya melihat relevansi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). KBC tidak berbicara tentang cinta sebagai perasaan, melainkan sebagai kerangka relasional yang menolak hierarki martabat. Cinta, dalam pengertian ini, adalah keberanian institusional untuk memperlakukan subjek secara setara—tanpa romantisasi, tanpa reduksi.

Tilawah dan doa itu bekerja sebagai pedagogi publik. Ia mengajarkan sesuatu yang tidak pernah efektif diajarkan lewat modul: bahwa kesetaraan tidak perlu diumumkan, cukup dijalankan. Bahwa inklusi tidak selalu memerlukan bahasa moral, tetapi desain ruang yang adil.

Penting dicatat: keberhasilan momen ini justru terletak pada ketiadaan narasi berlebihan. Tidak ada penjelasan panjang tentang disabilitas. Tidak ada aplaus yang dipandu. Tidak ada jeda dramatis. Semua dibiarkan berlangsung sebagaimana mestinya. Inilah bentuk paling dewasa dari pengakuan: ketika perbedaan tidak perlu ditandai.

Dalam konteks institusi negara—khususnya Kementerian Agama—ini adalah praktik keberagamaan yang signifikan. Keberagamaan tidak hadir sebagai simbol dominasi normalitas, tetapi sebagai pengalaman bersama yang tidak menyingkirkan siapa pun dari pusat. Negara tidak sedang “memberi ruang”, melainkan berhenti memonopoli ruang.

Setelah rangkaian perayaan lintas iman, termasuk Natal bersama, pembuka acara ini bukan sekadar kelanjutan simbolik, tetapi penegasan arah. Dari toleransi yang retoris menuju keadilan yang operasional. Dari empati yang ditonton menuju pengakuan yang dijalankan.

Jika Kurikulum Berbasis Cinta ingin dipahami secara serius, maka peristiwa semacam ini adalah contohnya. Bukan karena ia mengharukan, tetapi karena ia tepat secara etis. Panggung tidak digunakan untuk memproduksi rasa, melainkan untuk mendistribusikan martabat.

Dan di situlah cinta bekerja—bukan sebagai kata, tetapi sebagai struktur.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah Sawah Hilang Setengah Juta Hektare, Negara Menggelar Rapat

    Setelah Sawah Hilang Setengah Juta Hektare, Negara Menggelar Rapat

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah pusat akhirnya memperketat pengendalian alih fungsi lahan sawah setelah Indonesia kehilangan sekitar 554 ribu hektare sawah dalam kurun waktu 2019–2024. Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Usai pertemuan, Nusron Wahid menyampaikan […]

  • Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, […]

  • Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Pernakah kita berpikir kenapa fasilitas publik seperti rumah sakit atau taman kota bisa dinamai sesuai dengan nama seseorang? Memang sih, terkadang kita menganggap bagian dari menamai ruang publik itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada seseorang. Tapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah; apakah semua fasilitas publik harus terhubung dengan nama seseorang? Lebih-lebih di balik penamaan […]

  • Tak Tunggu Air Naik: Camat Maros Baru, KSB, dan Relawan Bergerak Cepat Pantau Wilayah Rawan

    Tak Tunggu Air Naik: Camat Maros Baru, KSB, dan Relawan Bergerak Cepat Pantau Wilayah Rawan

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Kecamatan Maros Baru resmi menetapkan status Siaga 1 Banjir menyusul meningkatnya intensitas hujan dan naiknya debit air di sejumlah titik rawan. Menyikapi kondisi tersebut, Camat Maros Baru menunjukkan respons cepat dengan turun langsung ke lapangan melakukan patroli dan pemantauan wilayah, bersama unsur relawan dan masyarakat. Patroli tersebut melibatkan Ketua Kampung Siaga Bencana […]

  • Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Ketika kita berbicara tentang negara demokrasi modern, pemisahan peran antar institusi keamanan sebenarnya bukan sekadar soal administrasi negara atau pembagian tugas birokratis. Ia adalah fondasi dasar dari negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, urusan kriminalitas, ketertiban publik, dan keamanan domestik berada di tangan kepolisian serta otoritas sipil. Sementara militer dibentuk untuk menghadapi ancaman eksternal dan […]

  • Trofeo Silaturahim SSB Barasa Cup I, kelurahan baju bodoa Sukses photo_camera 6

    Trofeo Silaturahim SSB Barasa Cup I, kelurahan baju bodoa Sukses

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pertandingan Trofeo Silaturahim SSB Barasa 2025 yang diagendakan oleh Lurah Baju Bodoa sukses digelar di Stadion Kassi Kebo, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pembinaan sepak bola usia dini yang melibatkan talenta muda lintas daerah. Turnamen berlangsung selama satu hari penuh, mulai dari pagi hingga sore hari, […]

expand_less