Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Seni Menjadi Orang Kalah

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
  • visibility 168
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siapa yang mau kalah? Rasanya hampir tidak ada. Kalah itu menyakitkan dan secara alami manusia tidak ingin sakit. Semua orang ingin menang. Kemenangan terasa menyenangkan, memberi pengakuan, rasa aman, juga keyakinan bahwa diri kita bernilai.

Sejak awal kehidupan manusia pun akrab dengan gagasan tentang kemenangan. Penjelasan biologis mengenai lahirnya manusia sering dimulai dari cerita tentang perlombaan: ada jutaan kemungkinan, lalu satu yang berhasil bertahan. Ukuran kemenangan kemudian dibentuk sangat jelas dalam kehidupan sosial. Nilai tinggi dianggap lebih penting daripada proses belajar yang jujur. Jabatan lebih dihormati dibanding ketekunan yang panjang. Orang yang tampil di depan lebih mudah dikenali daripada mereka yang bekerja diam-diam di belakang layar. Bahkan percakapan sehari-hari sering diarahkan pada capaian: sudah jadi apa, punya apa, dan seterusnya.

Karena itu manusia tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup adalah arena untuk memenangkan sesuatu.

Namun kehidupan tidak hanya berisi tentang kemenangan. Kekalahan juga bagian yang alamiah dari hidup. Bahkan jumlah orang yang kalah selalu lebih banyak dibanding pemenang. Dalam pekerjaan, hubungan, kompetisi, maupun gagasan, kekalahan hadir dalam banyak bentuk.

Masalahnya, manusia sering dipersiapkan untuk mengejar kemenangan, tetapi tidak dibekali kemampuan menghadapi kekalahan. Kekalahan dianggap seperti ancaman terhadap harga diri. Ketika berhasil, manusia merasa bernilai. Ketika gagal, merasa runtuh. Akibatnya, banyak orang tidak benar-benar kecewa pada hasil, melainkan takut kehilangan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Dari sana muncul banyak reaksi yang sebenarnya tidak lahir dari pikiran yang jernih. Ada orang yang setelah kalah berubah pahit. Semua hal terasa mengganggu. Keberhasilan orang lain tampak seperti ancaman. Kritik kehilangan kualitas berpikir karena lebih banyak berisi luapan emosi. Kadang seseorang merasa sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang diperjuangkan sebenarnya luka batin akibat kekalahan yang tidak selesai.

Sepertinya inilah yang hilang dalam demokrasi kita: seni menjadi orang kalah. Kekalahan politik sering melahirkan fragmentasi sosial. Kritik yang seharusnya menjadi alat kontrol berubah menjadi ruang pelampiasan kekecewaan. Akibatnya, segala sesuatu terlihat negatif. Data seadanya, tetapi narasinya berjuta-juta episode. Tidak ada apresiasi. Apa pun yang dilakukan negara selalu dianggap salah.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan suci dalam Islam, bahkan disebut sebagai “Syahrullah”(bulan Allah) oleh Rasulullah SAW. Di bulan ini, terutama tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), banyak peristiwa besar yang diyakini terjadi dalam sejarah kenabian. Berikut adalah kisah-kisah penting para Nabi yang terjadi di bulan Muharram menurut tradisi Islam: Nabi Adam AS: Diterimanya Tobat […]

  • 500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi. Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan […]

  • GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Makassar, nulondalo.com – Komunitas GUSDURian Makassar bekerja sama dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan serta organisasi kepemudaan (OKP) pegiat demokrasi menggelar Bincang Demokrasi #1 pada Jumat, 31 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Bawaslu Sulsel dan menjadi ruang diskusi awal dalam mengawal demokrasi di tengah tantangan era digital. Bincang demokrasi perdana tersebut mengangkat […]

  • Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Saya cenderung skeptis terhadap doa dan pembacaan kitab suci dalam acara seremonial. Bukan karena keduanya kehilangan legitimasi religius, melainkan karena terlalu sering diposisikan sebagai ritual pembuka yang netral, steril dari relasi kuasa, dan seolah berada di luar politik representasi. Padahal, justru di awal acara itulah etika sebuah panggung bekerja. Acara ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, […]

  • Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan photo_camera 2

    Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 482
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput Kabupaten Gorontalo memasuki babak baru. LP3H Robbani secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama empat pemerintah kecamatan untuk fasilitasi Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) bagi pelaku UMKM, Kamis (15/1). Pertemuan strategis ini dihadiri langsung oleh perwakilan yayasan, Sandy Syafrudin Nina, bersama Kepala Dinas Koperasi dan UMKM […]

  • Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Ummu ‘Athiyah al‑Ansariyah adalah sahabat perempuan dari kalangan Anshar yang hidup dan beraktivitas di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Sumber-sumber klasik mencatat namanya sebagai Nusaibah binti al-Harith, meskipun terdapat variasi penulisan nasabnya di berbagai teks sejarah. Identitasnya sebagai sahabat yang aktif tetap konsisten dalam riwayat yang sampai kepada generasi setelahnya. Ummu ‘Athiyah ikut terlibat […]

expand_less