Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
  • visibility 241
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium.

Berguru pada Tauhid ala Ayatollah di Iran berarti memahami satu hal mendasar: Tuhan yang satu bukan sekadar klaim teologis, melainkan posisi politik. Mengakui kemutlakan Allah otomatis berarti menolak segala bentuk pengultusan selain-Nya—termasuk pengultusan terhadap modal, pasar, dan imperium global yang hari ini mengatur hidup manusia dengan grafik dan sanksi.

Tauhid kita kini berhadapan langsung dengan kapitalisme. Bukan kapitalisme sebagai aktivitas ekonomi biasa, melainkan kapitalisme kontemporer yang predatoris, berbasis rente, dan mengklaim diri sebagai hukum alam. Ia hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai takdir. Ketika pasar dijadikan wasit terakhir kebenaran, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tolok ukur moral, di situlah Tauhid dibajak. Berhala tidak lagi berbentuk patung, tetapi indeks, rating, dan “kepercayaan investor”.

Inilah yang oleh Tauhid dibaca sebagai syirik struktural: sistem yang menuntut kepatuhan total, mengorbankan manusia, dan tidak boleh digugat. Larangan riba dalam Islam sejak awal bukan urusan fikih semata, melainkan sikap ideologis terhadap penumpukan kekayaan dan eksploitasi. Islam tidak pernah mengenal ekonomi netral. Maka ketika kapitalisme global memproduksi ketimpangan sistemik, Tauhid tidak cukup dijawab dengan zikir—ia menuntut perlawanan.

Di sinilah Iran menjadi kasus menarik dipelajari sebab ia menyebalkan bagi imperium. Sejak Revolusi 1979, Iran mencoba—dengan beberapa keterbatasan dan kekurangannya—menarik Tauhid dari langit ke meja negara. Tauhid diterjemahkan sebagai kemandirian: menolak ketergantungan pada hegemoni ekonomi global, membangun ilmu pengetahuan sendiri, dan tidak sepenuhnya tunduk pada diktat pasar dunia.

Konsekuensi cukup berat diterima, seperti Sanksi, isolasi, tekanan tanpa henti. Tapi justru masalahnya menjadi ruwet bagi Amerika dan sekutunya. Iran bukan diserang karena terlalu religius, melainkan karena tidak mau patuh sepenuhnya. Ia menjadi contoh menjengkelkan bahwa iman bisa berubah jadi energi perlawanan, bukan sekadar penghibur di tengah ketimpangan.

Ketidakpatuhan iran pada berhala kapitalisme menjadi alasan mengapa ia menyebalkan bagi imperium barat. Sebab iran punya iman yang berfungsi sebagai energi anti-imperialis.

Ketika perang imperialis diluncurkan, narasinya selalu sama: demokrasi, HAM, stabilitas. Padahal realitasnya juga selalu sama: Irak hancur, Suriah remuk, Libya jadi ladang bangkai. Jika Iran jatuh lewat invasi, yang lahir bukan kebebasan, melainkan barbarisme. Imperialis tidak takut pada rejim reaksioner—mereka takut pada rakyat yang berdaulat. Kekacauan bisa diatur; kesadaran kelas tidak.

Ironisnya, di negeri-negeri seperti Indonesia, Tauhid justru dipersempit. Ia diprivatisasi, dijadikan urusan batin, dipamerkan dalam simbol, tetapi dicabut dari kritik ekonomi-politik. Agama lantang di mimbar, namun bisu di hadapan rente, oligarki, dan komersialisasi hidup. Ilmu pengetahuan sibuk mengejar akreditasi, bukan kedaulatan. Spiritualitas jadi jinak; kapitalisme jadi sakral.

Maka jangan heran jika ketika Iran diserang, respons kita hanya “situasinya kompleks”. Kita takut berpihak karena Tauhid kita sudah terlalu lama berdamai dengan pasar. Bahkan ketika elite Indonesia—termasuk Prabowo—duduk di forum-forum “perdamaian” bikinan elite imperialis, itu dijual sebagai kenegarawanan. Padahal itu sekadar penegasan kelas: berdamai dengan sistem yang hidup dari perang dan rente global.

Seruan “Hands Off Iran!” sesungguhnya adalah seruan Tauhid dalam bahasa geopolitik. Bukan membela Ayatollah tanpa kritik, tetapi menolak logika dunia yang menganggap bom lebih sahih daripada rakyat. Menolak keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika disahkan oleh imperium.

Seperti kata Hassan Hanafi, Tauhid adalah perpindahan kesadaran: dari Tuhan yang dilangitkan menuju manusia yang dimuliakan. Tauhid yang hidup tidak akan membiarkan kapital dipuja, perang dinormalkan, dan rakyat dijadikan korban yang “tak terhindarkan”
Tanpa keberanian itu, Tauhid hanya akan tinggal jargon suci—sementara berhala-berhala modern terus berpesta, dijaga oleh misil, disucikan oleh pasar, dan diamini oleh mereka yang memilih netral agar tetap aman.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah netral.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pesawat ATR

    Badan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung, Evakuasi Lewat Jalur Pendakian

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 231
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim SAR gabungan menemukan badan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Saat ini, petugas memfokuskan upaya pada persiapan jalur evakuasi dengan mempertimbangkan medan yang berat dan berisiko. Kepala Seksi Operasi Basarnas, Andi Sultan, mengatakan jalur pendakian dipilih sebagai opsi terbaik […]

  • Keutamaan Salat Isya Menurut Imam an-Nawawi

    Keutamaan Salat Isya Menurut Imam an-Nawawi

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Salat Isya adalah salah satu dari lima salat fardhu yang diwajibkan atas setiap Muslim. Waktunya berada di penghujung siang, ketika tubuh manusia telah letih dan condong pada istirahat. Dalam kondisi demikian, syariat tetap mendorong umat Islam untuk tetap menunaikan salat Isya, bahkan dengan jaminan keutamaan yang besar. Ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Yahya bin Syaraf […]

  • Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Dr. Mismubarak, S.Hd., M.Ag., CLQ., MMG
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Misi utama katauhidan islam yang di ajarkan Nabi Muhammad adalah misi kemanusiaan yang luhur yaitu budi pekerti, moral dan akhlakul karimah. Dengan prinsip kitab suci, maka lahirlah konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Qs. Al-Anbiyah 107). Melalui ayat ini, Tuhan menggambarkan kepribadian Muhammad untuk ditegaskan kepada setiap generasi bahwa Risalah kenabian adalah rahmat yang akan membawa […]

  • APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan (APPLI) Sulawesi Tengah kembali menyoroti sikap dan perhatian Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, terhadap praktik pertambangan nikel yang dinilai bermasalah di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. Ketua APPLI Sulteng, Aulia Hakim, mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap belum adanya tindak lanjut dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah atas rekomendasi DPRD Sulteng terkait konflik […]

  • Kasat Binmas Polres Maros Kumpulkan Bhabinkamtibmas Camba-Mallawa: “Jadilah Solusi bagi Warga”

    Kasat Binmas Polres Maros Kumpulkan Bhabinkamtibmas Camba-Mallawa: “Jadilah Solusi bagi Warga”

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Maros, AKP Ilham Yuliani, mengumpulkan seluruh Bhabinkamtibmas yang bertugas di Kecamatan Camba dan Mallawa dalam pertemuan terpisah di Aula Polsek Camba dan Polsek Mallawa, Kamis (4/12/2025). Pertemuan ini digelar untuk memperkuat peran Bhabinkamtibmas sebagai garda terdepan Polri dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). […]

  • Kapolda Gorontalo: Kami Siap Melakukan Pengayoman, Perlindungan, dan Penegakan Hukum

    Kapolda Gorontalo: Kami Siap Melakukan Pengayoman, Perlindungan, dan Penegakan Hukum

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Polda Gorontalo mengeglar upacara Peringatan ke-79 Hari Bhayangkara, Selasa (1/7/2025). Upacara yang dipimpin oleh Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Eko Wahyu Prasetyo turut dihadiri oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail didampingi Ketua TP. PKK Nani Mokodongan bersama jajaran Forkopimda. “Pada hari ini, kami di seluruh penjuru Indonesia menggelar upacara Bhayangkara, mohon doanya agar kami tetap eksis supaya […]

expand_less