Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 272
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU kalau melihat bencana biasanya langsung bilang, “Ini bukan murka Tuhan, tapi kelalaian manusia.” Gus Dur malah lebih tajam: “Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak pengampun itu manusia”terutama kalau sudah pegang izin tambang.

Di Aceh dan Sumatera, izin usaha ekstraktif tumbuh lebih subur daripada pohon mahoni. Bedanya, mahoni menahan air, izin tambang menahan akal sehat. Gunung digunduli, hutan ditebang, sungai dipersempit, lalu ketika banjir datang kita berkata dengan khidmat, “Ini bencana alam.” Padahal alamnya sudah lama dipaksa pensiun dini.

Dalam tradisi NU, usaha (ikhtiar) dan doa harus seimbang. Tapi dalam praktik korporasi ekstraktif, yang seimbang itu cuma neraca laba-rugi. Lingkungan? Itu dicatat sebagai externalities, istilah halus dari “bukan urusan kita”.

Aceh dan Sumatera menjadi ladang tambang, sawit, dan proyek ekstraktif lain. Kata orang kampung, “Yang kaya bukan kami, yang banjir kami.” Ini akuntansi khas ekstraktif: laba dikonsolidasikan, kerugian disebar ke masyarakat.

Gus Dur mungkin akan bilang, “Ini bukan ekonomi trickle down, tapi bencana trickle down.” Dari atas gunung, air dan lumpur turun ke rumah rakyat kecil, sementara laporan keuangan perusahaan tetap kering kerontang.

CSR sering dipresentasikan dengan baliho besar: “Peduli Lingkungan”. Isinya pembagian sembako, tanam seribu pohon (yang 900-nya lupa disiram), dan foto bersama pejabat. Dalam fiqih NU, ini namanya amal shalih tapi niatnya publikasi.

Kerusakan ekologis itu struktural, tapi CSRnya seremonial. Ibarat orang NU bilang, “Rumah roboh karena rayap, solusinya bukan ganti gorden.” Tapi itulah yang terjadi: sungai rusak, gunung botak, lalu solusinya lomba kebersihan desa.

Negara menerima pajak dari sektor ekstraktif. Tapi jumlahnya seperti amplop kondangan dibanding biaya bencana yang seperti bangun pesantren 10 lantai. Pajak tambang masuk kas daerah ratusan miliar, sementara biaya pemulihan banjir dan longsor tembus puluhan triliun.

Gus Dur mungkin tersenyum pahit sambil berkata, “Kalau ini dagang, namanya untung di awal, bangkrut di akhir.” Negara senang di APBN, tapi pusing di BNPB. Ini akuntansi yang tidak diajarkan di kampus: laba privat, rugi publik.

Dalam ajaran NU, sumber daya alam itu amanah. Tapi dalam praktik, amanah sering dibaca sebagai “hak milik terbatas bagi yang punya akses.” Korporasi ekstraktif menguntungkan segelintir elit, sementara masyarakat sekitar tambang dapat bonus debu, air keruh, dan potensi longsor gratis.

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan nyeletuk, “Katanya SDA untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat yang mana? Yang punya saham?” Pasal 33 UUD 1945 sering dikutip, tapi jarang dipraktikkan. Ia lebih sering dijadikan mantra, bukan pedoman.

Dokumen AMDAL tebalnya seperti kitab kuning. Tapi implementasinya sering setipis selebaran pengajian. Sistem mitigasi lingkungan ada, tapi penegakannya kadang loyo, seperti ronda kampung pas hujan deras, niatnya ada, hasilnya minim.

Ketika bencana datang, semua bingung. Padahal izin sudah keluar, eksploitasi sudah jalan, dan alam sudah lama mengirim sinyal. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau tanda-tanda diabaikan, jangan kaget kalau akibatnya datang tanpa undangan.”

Bagi warga NU, menjaga lingkungan itu bukan isu kiri-kanan, tapi fardhu ‘ain. Merusak alam berarti merusak masa depan anak cucu. Dan dosa ekologis itu unik: taubatnya tidak cukup istighfar, tapi harus pemulihan nyata.

Kesadaran lingkungan lebih penting dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Sebab ekonomi tanpa etika hanya mempercepat kehancuran. Gus Dur pernah bilang, “Pembangunan itu harus memanusiakan manusia.” Hari ini, kita perlu menambah: memanusiakan alam.

Aceh dan Sumatera tidak kekurangan doa, tapi kekurangan keberanian menertibkan keserakahan. Kalau pola ini terus dibiarkan, maka judul tulisan ini akan selalu relevan: setelah laba, bencana kemudian.

Dan seperti kata orang pesantren, “Kalau alam sudah marah, seminar tidak cukup, spanduk tidak mempan, dan CSR tidak laku.” Yang dibutuhkan bukan lagi janji, tapi pertobatan struktural.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intelektual Muda NU Kritik Pengelolaan Anggaran: Rakyat Bayar Pajak, Jangan Diminta Menalangi Program Negara

    Intelektual Muda NU Kritik Pengelolaan Anggaran: Rakyat Bayar Pajak, Jangan Diminta Menalangi Program Negara

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 96
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, menilai sejumlah pernyataan pejabat publik belakangan ini menunjukkan persoalan yang lebih mendasar dalam tata kelola pemerintahan. Hal yang menjadi sorotan Aras yakni lemahnya disiplin komunikasi publik dan munculnya persepsi publik mengenai menurunnya akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Menurut Aras, […]

  • Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 209
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pertandingan Liga 4 antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen berujung ricuh usai peluit panjang dibunyikan, Jumat (13/2/2026). Laga yang dimenangi Persak Kebumen dengan skor 0-2 itu diwarnai aksi sejumlah suporter tuan rumah yang masuk ke dalam lapangan dan mengejar wasit. Insiden tersebut terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir. Berdasarkan informasi yang beredar di media […]

  • Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Ternate diwarnai dengan aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah elemen gerakan dalam Aliansi Mei Berlawan, Rabu (1/5/2025). Aksi ini menyuarakan persoalan ketenagakerjaan dan akses pendidikan, serta mengecam dominasi oligarki tambang di Maluku Utara. Massa aksi memulai long march dari titik kumpul menuju kediaman Gubernur Maluku Utara, sebelum […]

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Puncak PES PWNU Gorontalo: Serahkan Hadiah Pemenang Lomba Da’i Cilik dan Mobile Lengend

    Puncak PES PWNU Gorontalo: Serahkan Hadiah Pemenang Lomba Da’i Cilik dan Mobile Lengend

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Suasana penuh kebersamaan mewarnai penutupan Pekan Ekonomi Syariah (PES) PWNU Gorontalo 2025 yang digelar sejak 28 Oktober 2025 sampai dengan Kamis 30 Oktober 2025 di pelataran kantor PWNU Gorontalo. Penutupan diisi dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang berbagai lomba yang sebelumnya digelar, termasuk Lomba Da’i Cilik dan Lomba Mobile Legends bertema ekonomi syariah. Kedua lomba […]

  • Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 134
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah sejuknya malam di Bumi Cerah Bulontalangi, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (26/12/2025), pesan tentang integritas disampaikan dengan cara yang sederhana namun berkesan. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, hadir membuka peringatan Hari Anti Korupsi Dunia (Harkodia) yang digelar Fakultas Ilmu Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Di hadapan mahasiswa, Idah mengajak generasi muda, […]

expand_less