Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak

Muhammad Kamal/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Padahal kesabaran sejati tidak pernah identik dengan diam. Dalam pemikiran Max Weber tentang ethic of responsibility, kedewasaan sosial justru lahir dari kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap keadaan di sekitarnya. Artinya, menerima kenyataan hari ini bukan berarti berhenti mengubah hari esok. Kesabaran seharusnya menjadi daya tahan moral agar seseorang tidak mudah patah, sambil tetap menjaga kesadaran kritis terhadap ketidakadilan.
Karena itu, orang-orang yang tetap berjuang di tengah keterbatasan sebenarnya sedang memperlihatkan bentuk kesabaran paling nyata. Pedagang kecil yang tetap membuka lapak meski dagangan sering tak habis, orang tua yang terus bekerja keras demi pendidikan anaknya, atau anak muda yang tetap belajar di tengah tekanan ekonomi—mereka bukan orang-orang yang pasrah. Mereka menerima kenyataan hidup, tetapi menolak tunduk sepenuhnya pada keadaan.
Sebaliknya, kepasrahan mulai tumbuh ketika masyarakat berhenti mempertanyakan sesuatu yang jelas-jelas salah. Kita bisa melihatnya dari hal-hal kecil yang lama-lama terasa biasa: antrean panjang yang diterima tanpa protes, korupsi yang berubah menjadi bahan candaan harian, hingga kecenderungan menyalahkan individu tanpa pernah menyentuh akar sistem yang bermasalah. Di titik itu, yang hilang bukan hanya harapan, tetapi juga keberanian untuk menjadi warga negara yang sadar.
Sebuah negara yang sehat tidak membutuhkan masyarakat yang sekadar tahan menderita. Negara membutuhkan warga yang mampu memadukan kesabaran dengan keberanian berpikir kritis. Sabar agar tidak mudah hancur oleh kerasnya zaman, tetapi juga kritis agar tidak membiarkan ketidakadilan diwariskan terus-menerus sebagai nasib.
Demokrasi tidak tumbuh dari masyarakat yang hanya pandai menahan diri. Demokrasi hidup dari orang-orang yang masih percaya bahwa suara mereka layak diperjuangkan.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memaknai ulang arti sabar. Sabar bukan berarti duduk diam menerima semua keadaan. Sabar adalah kemampuan menjaga diri agar tidak runtuh, sambil tetap merawat keyakinan bahwa hidup, masyarakat, dan negara selalu bisa diperbaiki, jangan menormalisasi ketimpangan dengan dalih sabar sebab Akibatnya, banyak orang tumbuh menjadi pribadi yang tahan menderita, namun perlahan kehilangan imajinasi tentang perubahan.
Padahal sejarah tidak pernah digerakkan oleh manusia-manusia yang sepenuhnya tunduk pada keadaan. Perubahan selalu lahir dari mereka yang tetap waras di tengah kekacauan, tetap berharap ketika lingkungan memilih menyerah, dan tetap percaya bahwa hidup tidak seharusnya dijalani hanya dengan cara bertahan. Maka sabar seharusnya bukan ruang untuk mematikan suara, melainkan tenaga yang menjaga seseorang agar tidak runtuh saat sedang memperjuangkan sesuatu.
Sebab masyarakat yang terlalu pasrah akan mudah dipelihara oleh ketidakadilan. Tetapi masyarakat yang sabar sekaligus sadar, akan selalu memiliki kemungkinan untuk menciptakan dunia yang berbeda.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar