Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 211
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik.

Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal Iran tidak hanya mengguncang sistem pertahanan Israel, tetapi juga mengguncang sistem simbolik dunia Islam. Ia bukan hanya menghantam kubu militer lawan, tetapi juga menghantam tembok mazhab yang selama ini memisahkan kita. Sekat Sunni-Syiah yang kerap dipelihara sebagai batas identitas, untuk sesaat tampak goyah di hadapan ledakan solidaritas yang muncul lintas batas.

Rudal itu pun tidak berhenti dibaca sebagai alat perang. Ia menjelma menjadi tanda. Dalam kerangka semiotika Umberto Eco, ini bukan sekadar tanda konvensional, tetapi bagian dari kerja supercode—yakni sistem makna yang bekerja di atas dan melampaui sistem-sistem makna lain. Dalam hal ini, identitas mazhab, negara, dan ideologi ditanggalkan. Rudal itu dibaca sebagai perlawanan. Dan perlawanan dibaca sebagai keberpihakan.

Iran tidak lagi dilihat hanya sebagai negara Syiah, tetapi sebagai simbol dari Islam yang berani melawan ketimpangan. Banyak umat Muslim membaca ulang tanda “Iran” dengan kerangka baru: sebagai suara yang mewakili kegelisahan mereka terhadap ketidakadilan yang menimpa rakyat Palestina. Ini adalah bentuk re-semiotisasi besar-besaran yang lahir dari kegetiran kolektif.

Namun, simbol Islam bukanlah lapisan makna terdalam. Solidaritas terhadap Iran meluas juga dari pihak-pihak yang tidak memiliki kedekatan ideologis maupun religius. Banyak aktivis hak asasi manusia, jurnalis independen, akademisi, bahkan warga biasa di Barat yang menyatakan bahwa tindakan Iran—meskipun militeristik—mewakili kepedihan global terhadap matinya etika dan diplomasi internasional. Dalam konteks ini, ada supercode yang lebih luas dari agama: kemanusiaan.

Kita melihat bagaimana batas identitas keagamaan tidak cukup menjelaskan simpati kolektif yang muncul. Di balik bendera, mazhab, dan sejarah konflik, ada luka yang dibaca bersama. Dan dalam pembacaan bersama itulah rudal menjadi teks, bukan sekadar senjata. Ia dibaca sebagai simbol protes terhadap dunia yang gagal membela rakyat sipil Palestina. Bahkan bagi sebagian kalangan, rudal itu adalah “suara” dari yang tidak lagi punya tempat berbicara.

Tentu kita tidak sedang merayakan kekerasan atau glorifikasi rudal. Kita tidak sedang mempromosikan perang. Yang sedang kita hadapi adalah bagaimana sebuah tindakan militer dapat menjelma menjadi simbol perlawanan yang dibaca secara kolektif, dan itu terjadi bukan karena logika peperangan semata, tetapi karena krisis kemanusiaan yang makin lama makin tak tertanggulangi.

Namun tidak semua siap menerima pergeseran ini. Mereka yang hari ini kembali menyerukan sekat mazhab justru memperlihatkan posisi geopolitik lama yang ingin menjaga dunia Islam tetap terbelah. Kecurigaan terhadap Syiah digunakan kembali untuk meredam solidaritas.

Inilah paradoksnya: di saat umat secara kultural dan simbolik bersatu melampaui batas-batas teologis, justru sebagian elit intelektual dan politis mencoba menarik kita kembali ke dalam kotak-kotak lama. Mereka menginginkan simbol kembali pada makna dominan (overcode)—padahal simbol, sebagaimana dikatakan Eco, hidup dan berubah sesuai konteks budaya dan politik yang membacanya.

Tetapi andai pun kita terpaksa menerima dunia sebagai teks tertutup, closed text, maka kita harus menyadari: pilihan kita hanya tersisa dua—mazhab kemanusiaan atau mazhab penindas. Sebab yang kita hadapi hari ini bukan sekadar perang mazhab atau identitas, tetapi ujian keberpihakan. Bukan soal Syiah atau Sunni. Bukan soal Iran atau Arab. Ini soal siapa yang berdiri bersama yang tertindas.

Rudal Iran mungkin akan berhenti. Tetapi simbol yang ia tinggalkan akan terus bergema. Ia telah menjadi teks sosial yang melampaui sekat, menjadi ruang tafsir terbuka bagi Islam sebagai solidaritas, dan lebih jauh lagi, kemanusiaan sebagai nilai bersama. Sekat mazhab, jika runtuh hari ini, bukan oleh diskusi fiqih atau forum rekonsiliasi teologis. Ia runtuh oleh kesedihan dan simpati yang sama terhadap Palestina.

Oleh: Pepy Albayqunie  – (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi, Komitmen, dan Kepercayaan

    Kolaborasi, Komitmen, dan Kepercayaan

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 455
    • 0Komentar

    Keberhasilan kerja organisasi tumbuh dari kerja kolektif yang tertata, bukan kerja segelintir orang, apalagi satu individu saja. Proses kerja selalu melibatkan banyak peran yang berada di ruang kerja yang berbeda. Setiap elemen punya posisi dan kontribusinya sendiri. Berbeda tetapi saling menopang. Kerja menjadi lebih efektif ketika setiap peran dijalankan secara proporsional dan tidak saling tumpang […]

  • Pemkab Maros Serahkan SK 4.639 ASN P3K Paruh Waktu, Bupati: Ini Kekuatan Besar Pelayanan Publik

    Pemkab Maros Serahkan SK 4.639 ASN P3K Paruh Waktu, Bupati: Ini Kekuatan Besar Pelayanan Publik

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Nulondalo.com|Maros, Sulsel — Pemerintah Kabupaten Maros resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan kepada 4.639 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu. Penyerahan tersebut dirangkaikan dalam Apel Akbar yang berlangsung khidmat di Lapangan Palantikang, Maros, Selasa sore, 30 Desember 2025. Apel akbar ini dihadiri lengkap unsur Forkopimda Plus, jajaran staf ahli, […]

  • Mengapa Iran Jadi Tujuan Dunia untuk Operasi Perubahan Gender?

    Mengapa Iran Jadi Tujuan Dunia untuk Operasi Perubahan Gender?

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 291
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di antara berbagai negara di dunia, Iran menghadirkan sebuah fenomena yang sulit dipahami secara sederhana. Negara yang selama ini dikenal dengan sistem pemerintahan Islam konservatif dan aturan sosial yang ketat justru menjadi salah satu negara yang paling dikenal dalam praktik operasi penegasan gender (Sex Reassignment Surgery/SRS). Fenomena ini menjadi perhatian dunia karena menghadirkan […]

  • Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 304
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mencatat capaian luar biasa sepanjang tahun 2025 dengan 48.592 kasus narkoba berhasil diungkap hingga 11 Desember 2025. Hal ini diungkapkan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Syahardiantono, dalam rilis akhir tahun di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). “Sepanjang tahun ini, total 64.055 orang diamankan terkait kasus narkoba,” […]

  • Muhammad Suryadi R Luncurkan Buku Geopolitik, Narasi, Kendali, Bahas Posisi Indonesia di Tengah Perubahan Dunia

    Muhammad Suryadi R Luncurkan Buku Geopolitik, Narasi, Kendali, Bahas Posisi Indonesia di Tengah Perubahan Dunia

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah meningkatnya dinamika politik internasional dan perubahan peta kekuatan dunia, penulis Muhammad Suryadi R meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Geopolitik, Narasi, Kendali. Buku ini hadir sebagai kontribusi intelektual untuk memperkaya literatur geopolitik di Indonesia sekaligus mengajak masyarakat memahami perkembangan global melalui perspektif yang relevan dengan kepentingan nasional. Buku tersebut disusun dalam bentuk […]

  • Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kapolri Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026 mendatang. Dalam prosesi ziarah, Kapolri hadir mengenakan peci dan melakukan doa bersama […]

expand_less