Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 266
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya.

Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang indah di pagi dan sore hari. Pun, saya juga mulai memperhatikan kalender masyarakat Bali, yang penuh dengan hari libur nasional dan fakultatif.

Hari suci Hindu pertama yang saya temui tahun ini adalah Siwa Ratri. Saya penasaran dan mulai mencari tahu, apa sebenarnya Siwa Ratri itu. Dari pencarian itu saya mulai paham, Siwa Ratri adalah malam Dewa Siwa. Malam yang dipercaya masyarakat Hindu sebagai malam pemberian berkat pengampunan.

Di malam Siwa Ratri, ada tiga hal yang harus dilakukan. Mona (tidak bicara), jagra (tidak tidur), upavasa (tidak makan dan minum).  Siwa Ratri datang setahun sekali. Setiap Purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka. Tahun ini, jatuh pada hari Sabtu, 17 Januari 2026.

Saat googling lebih jauh, saya bertemu dengan kisah Lubdaka, cerita yang selalu dikaitkan dengan peringatan Siwa Ratri. Ternyata, saya pernah membaca kisah ini saat SD atau SMP dulu. Waktu itu, saya menganggapnya hanya cerita asing, tanpa kaitan apa pun dengan Indonesia. Tapi kali ini, berada di Bali dan mengalami Siwa Ratri, saya menyadari bahwa kisah Lubdaka hidup di tengah masyarakat, menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang nyata bagi Masyarakat Hindu di Bali.

Lubdaka adalah seorang pemburu yang hidup dari hasil buruan, setiap hari.

Suatu hari, dia pergi ke hutan untuk berburu. Tetapi, suasana tidak seperti biasanya. Hingga malam hari, Lubdaka tidak mendapatkan satu buruan pun. Karena terjebak malam, Lubdaka terpaksa memanjat pohon agar selamat dari ancaman binatang buas. Ia bersandar di salah satu dahan. Untuk mengusir kantuk dan tetap terjaga dia memetik daun-daun hingga jatuh ke lingga di bawahnya.

Di pohon itu, Lubdaka mengalami epifani—sebuah titik balik spiritual yang membuka kesadarannya. Ia merasa berdosa karena selama ini membunuh binatang untuk bertahan hidup, dan dalam hening malam itu ia bertekad untuk tidak lagi berburu. Kesadaran itu muncul begitu saja, sederhana namun cukup kuat untuk mengubah arah hidupnya, meski ia tidak menyadari bahwa malam itu adalah Siwa Ratri. Dewa Siwa sedang bertapa, menyebarkan berkat bagi siapa pun yang merenung dan berserah, dan tanpa Lubdaka sadari, epifani itu diterima sebagai berkat.

Lubdaka pulang ke rumahnya dan menepati tekadnya. Ia meninggalkan panah dan senjatanya, memilih hidup sebagai petani. Tahun-tahun berikutnya, ia hidup sederhana, menjalani hari-hari dengan kesadaran baru, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Keberkahan malam Siwa Ratri tetap menyertainya, dan ia ditempatkan di Siwaloka sebagai pengakuan atas perubahan hati dan pemujaan yang tulus di malam itu.

Dari perspektif semiotika, Lubdaka menempati posisi yang unik. Ia adalah manusia biasa, penuh ketakutan dan keterbatasan, namun dari kesederhanaannya muncul makna yang kuat: ketidaktahuannya tentang malam Siwa tidak menghalangi berkat dan transformasi yang diterimanya. Titik buta, ketakutan, dan refleksi batin Lubdaka menjadi tanda bahwa epifani dan perubahan moral dapat muncul dari siapa saja, dan bahwa bahkan tindakan sederhana seorang individu biasa mampu memberi inspirasi dan makna bagi masyarakat luas.

Bagi saya, tinggal di Bali dan menyaksikan Siwa Ratri memberi pengalaman reflektif yang unik. Apalagi, malam sebelumnya saya sebagai muslim memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dua malam gelap dan hening ini, yang bagi sebagian orang hanyalah hari libur, menjadi pengingat bagi saya bahwa transformasi sejati dimulai dari kesadaran diri sendiri. Dari merenungi keterbatasan, menerima ketakutan, dan membuka hati terhadap kehidupan di sekitar kita.

Bagi rekan-rekan Hindu yang menjalani Siwa Ratri. Selamat berkontemplasi.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Kabar Perempuan – Setiap tanggal 22 Desember adalah hari bersejarah buat kaum Ibu atau perempuan di Indonesia. Momentum tersebut diperingati setiap tahunnya. Namun sejauh mana pemaknaan orang-orang terhadap peringatan Hari Ibu Nasional 2024? Akankah perempuan sudah berdaya dan seperti apa problem perempuan hari ini? Redaksi mengulas khusus peringatan Hari Ibu Nasional 2024. Peringatan Hari Ibu Nasional […]

  • UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menggelar kegiatan Diskusi Kontemporer GEMA APUPPT (Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme) pada Kamis, 6 November 2025, di Kampus UNUSIA Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan lembaga negara untuk memperkuat literasi keuangan dan menolak segala […]

  • Empat Tuntutan PMII Belum Tuntas, Perwakilan Polres Maros Tinggalkan Forum Dialog

    Empat Tuntutan PMII Belum Tuntas, Perwakilan Polres Maros Tinggalkan Forum Dialog

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros— Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali turun ke jalan menyuarakan keresahan masyarakat Kabupaten Maros. Pada Senin, 14 September 2026, massa aksi PMII menggelar demonstrasi di dua titik sebagai bentuk kritik terhadap sejumlah persoalan pelayanan publik yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian secara konkret. Aksi diawali di Simpang Empat BRI Kabupaten Maros. Massa menyampaikan sejumlah aspirasi […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • Viral Pria Diduga Curi Paket Kurir di Pancoran, Polisi Telusuri Identitas Pelaku

    Viral Pria Diduga Curi Paket Kurir di Pancoran, Polisi Telusuri Identitas Pelaku

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 384
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang pria diduga mencuri paket milik kurir viral di media sosial. Peristiwa tersebut disebut terjadi di kawasan Kampung Pulo Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, dan terekam kamera CCTV milik warga. Video rekaman itu diunggah akun Instagram @jabodetabek24info pada Selasa (3/2/2026). Dalam tayangan tersebut, terduga pelaku terlihat berjalan santai […]

  • Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Dalam dinamika sosial Indonesia, satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa suara-suara yang paling lantang menyuarakan kerukunan dan perdamaian justru lebih sering datang dari organisasi masyarakat sipil—terutama ormas keagamaan, sosial, dan komunitas-komunitas akar rumput—bukan dari pemerintah. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ia berakar pada perbedaan mendasar dalam cara berpikir, atau yang sering disebut sebagai […]

expand_less