Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 188
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya.

Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang indah di pagi dan sore hari. Pun, saya juga mulai memperhatikan kalender masyarakat Bali, yang penuh dengan hari libur nasional dan fakultatif.

Hari suci Hindu pertama yang saya temui tahun ini adalah Siwa Ratri. Saya penasaran dan mulai mencari tahu, apa sebenarnya Siwa Ratri itu. Dari pencarian itu saya mulai paham, Siwa Ratri adalah malam Dewa Siwa. Malam yang dipercaya masyarakat Hindu sebagai malam pemberian berkat pengampunan.

Di malam Siwa Ratri, ada tiga hal yang harus dilakukan. Mona (tidak bicara), jagra (tidak tidur), upavasa (tidak makan dan minum).  Siwa Ratri datang setahun sekali. Setiap Purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka. Tahun ini, jatuh pada hari Sabtu, 17 Januari 2026.

Saat googling lebih jauh, saya bertemu dengan kisah Lubdaka, cerita yang selalu dikaitkan dengan peringatan Siwa Ratri. Ternyata, saya pernah membaca kisah ini saat SD atau SMP dulu. Waktu itu, saya menganggapnya hanya cerita asing, tanpa kaitan apa pun dengan Indonesia. Tapi kali ini, berada di Bali dan mengalami Siwa Ratri, saya menyadari bahwa kisah Lubdaka hidup di tengah masyarakat, menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang nyata bagi Masyarakat Hindu di Bali.

Lubdaka adalah seorang pemburu yang hidup dari hasil buruan, setiap hari.

Suatu hari, dia pergi ke hutan untuk berburu. Tetapi, suasana tidak seperti biasanya. Hingga malam hari, Lubdaka tidak mendapatkan satu buruan pun. Karena terjebak malam, Lubdaka terpaksa memanjat pohon agar selamat dari ancaman binatang buas. Ia bersandar di salah satu dahan. Untuk mengusir kantuk dan tetap terjaga dia memetik daun-daun hingga jatuh ke lingga di bawahnya.

Di pohon itu, Lubdaka mengalami epifani—sebuah titik balik spiritual yang membuka kesadarannya. Ia merasa berdosa karena selama ini membunuh binatang untuk bertahan hidup, dan dalam hening malam itu ia bertekad untuk tidak lagi berburu. Kesadaran itu muncul begitu saja, sederhana namun cukup kuat untuk mengubah arah hidupnya, meski ia tidak menyadari bahwa malam itu adalah Siwa Ratri. Dewa Siwa sedang bertapa, menyebarkan berkat bagi siapa pun yang merenung dan berserah, dan tanpa Lubdaka sadari, epifani itu diterima sebagai berkat.

Lubdaka pulang ke rumahnya dan menepati tekadnya. Ia meninggalkan panah dan senjatanya, memilih hidup sebagai petani. Tahun-tahun berikutnya, ia hidup sederhana, menjalani hari-hari dengan kesadaran baru, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Keberkahan malam Siwa Ratri tetap menyertainya, dan ia ditempatkan di Siwaloka sebagai pengakuan atas perubahan hati dan pemujaan yang tulus di malam itu.

Dari perspektif semiotika, Lubdaka menempati posisi yang unik. Ia adalah manusia biasa, penuh ketakutan dan keterbatasan, namun dari kesederhanaannya muncul makna yang kuat: ketidaktahuannya tentang malam Siwa tidak menghalangi berkat dan transformasi yang diterimanya. Titik buta, ketakutan, dan refleksi batin Lubdaka menjadi tanda bahwa epifani dan perubahan moral dapat muncul dari siapa saja, dan bahwa bahkan tindakan sederhana seorang individu biasa mampu memberi inspirasi dan makna bagi masyarakat luas.

Bagi saya, tinggal di Bali dan menyaksikan Siwa Ratri memberi pengalaman reflektif yang unik. Apalagi, malam sebelumnya saya sebagai muslim memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dua malam gelap dan hening ini, yang bagi sebagian orang hanyalah hari libur, menjadi pengingat bagi saya bahwa transformasi sejati dimulai dari kesadaran diri sendiri. Dari merenungi keterbatasan, menerima ketakutan, dan membuka hati terhadap kehidupan di sekitar kita.

Bagi rekan-rekan Hindu yang menjalani Siwa Ratri. Selamat berkontemplasi.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Neraca Langit

    Neraca Langit

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Bagi mahasiswa akuntansi, neraca adalah hal yang serius. Di dalamnya ada aset, liabilitas, dan ekuitas yang harus seimbang. Kalau tidak seimbang, dosen biasanya langsung bertanya dengan nada yang membuat mahasiswa berkeringat: “Ini selisihnya ke mana?” Kadang selisihnya cuma seribu rupiah, tetapi mencari asal-usulnya bisa lebih rumit daripada mencari sandal di masjid setelah tarawih. Namun Ramadhan […]

  • Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Angca Aldafa
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah sering kali diukur dari intensitas pertempuran atau kerugian infrastruktur yang terpampang di permukaan media. Namun, dalam perspektif akuntansi pemerintahan, dampak sesungguhnya terletak pada kemampuan negara dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan mempertanggungjawabkan beban fiskal yang ditimbulkan. Angka pengeluaran langsung mulai dari pengadaan alutsista, logistik tempur, hingga rehabilitasi wilayah terdampak hanyalah representasi […]

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 870
    • 0Komentar

    Tulisan sederhan ini sebenarnya memenuhi permohonan dari dua sahabat saya, Kyai Asrul Lasapa dan Dr. Funco Tanipu. Tulisan ini bukan saatu-satunya jawaban atas polemik yang lagi viral di media sosial (facebook). Tulisan ini akan mencoba memberikan perspektif historis, teologis dan sosiokultural termasuk sedikit sentuhan antropologis. Jika kita mempelajari budaya Gorontalo, sesungguhnya konstruksi kebudayaan Gorontalo yang […]

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • Tabrakan Maut di Pringsurat Temanggung, Diduga Sopir Mengantuk, 1 Tewas dan 4 Luka

    Tabrakan Maut di Pringsurat Temanggung, Diduga Sopir Mengantuk, 1 Tewas dan 4 Luka

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada Kamis (26/3/2026). Insiden tabrakan frontal (head-on) ini melibatkan dua mobil dari arah berlawanan dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia serta empat lainnya mengalami luka-luka. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan diduga dipicu oleh pengemudi mobil berwarna hitam jenis Isuzu Panther yang […]

expand_less