Breaking News
dark_mode
Trending Tags

NU Gorontalo dan Kotak Macis

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
  • visibility 99
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat eksotik.

NU itu unik sekaligus menarik. Satu hal yang menarik adalah meskipun telah melewati waktu hampir satu abad sejak didirikan, NU tetap bertahan dan melewati semua genre kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara dengan berbagai problematika yang mengiringinya. NU selalu hadir di dalamnya dan bahkan tidak hanya sekedar hadir, tapi turut terlibat dalam menentukan dan memberi warna.

Akan tetapi, di balik nama besar NU itu, satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam riwayat hidupnya sebagai sebuah organisasi, NU mengalami proses dinamisasi dan politisasi yang tidak jarang berujung pada konflik baik internal maupun eksternal.  Dinamika internal selalu terjadi pada momen-momen suksesi, mulai dari suksesi berskala lokal hingga suksesi berskala nasional.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi lahirnya dinamika konflik di tubuh NU.  Faktor yang paling dominan adalah faktor “kepentingan”. Paling tidak ada beberapa kepentingan seseorang ingin menjadi pucuk pimpinan di NU, antara lain :

1. Mewujudkan ide dan gagasan

2. Membuktikan dan memerankan diri sebagai kader terbaik

3. Mengatur dan menata bangunan  organisasi

4. Batu loncatan meraih kedudukan penting di lembaga atau institusi lainnya

5. Meraih ataupun mempertahankan kedudukan dan jabatan.

6. Peneguhan prestise, kharisma dan kewibawaan di hadapan kolega atau publik.

Dari sekian kepentingan tersebut, sudah bisa diidentifikasi mana poin-poin yang menjadi pemicu konflik. Yang pasti, kepentingan subjektif pragmatis akan selalu menjungkirbalikan regulasi organisasi.

NU lokal Gorontalo misalnya. Sepanjang tahun 2021 ini saja, telah memproduksi tiga konflik suksesi, yakni konflik Konfercab NU Boalemo, Konfercab NU Pohuwato dan terakhir Konfercab NU Kota Gorontalo.

Besar kecilnya kualitas konflik di tiga wilayah tersebut, tergantung pada entitas yang mempengaruhinya. Sebenarnya sumber utama konflik tersebut  terletak pada terpenuhi atau tidaknya mekanisme suksesi yang didasarkan pada AD/ART organisasi. Legalisasi dan prosesi menjadi indikator keabsahan hasil yang dicapai. Apakah ada kepentingan di dalamnya ? Bisa ya, bisa tidak.

Derasnya arus kritikan yang menghiasi ruang media sebagai akibat dari ketidaksetujuan atau ketidakpuasan atas hasil konferensi yang terselenggara ditenggarai sebagai salah satu riak konflik yang muncul ke permukaan. Pada akhirnya, konferensi tandingan akan menjadi puncak konflik yang sesungguhnya.

Tidak menutup kemungkinan konflik baru akan muncul pada suksesi kepemimpinan PCNU Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara dan mungkin juga di  PWNU yang akan datang jika AD/ART sebagai kitab suci organisasi tidak dijunjung tinggi.

Terakhir, harus diakui bahwa saat ini NU di tiga wilayah konflik telah terkapling dalam kubu-kubuan dengan pendukung fanatik dan pragmatisnya masing-masing. Kemunculan friksi-friksi ini biasanya bersifat temporal tergantung situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Menggambarkan kondisi NU di wilayah Gorontalo saat ini, ibarat membayangkan sebungkus besar macis yang di dalamnya ada kotak-kotak kecil dan masing-masing kotak memiliki batangan-batangan yang siap dipantik kapan saja dan untuk kepetingan apa saja dan oleh siapa saja.

Wallahu A’lam

Gorontalo, 12 September 2021

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 146
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap persoalan-persoalan serius yang menghantui daerah. Salah satu aktivisnya, Sandri atau yang lebih akrab disapa Kevin Lapendos, menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu-isu strategis, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, pertambangan ilegal, hingga persoalan tata kelola sumber […]

  • Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Dedi Mulyadi, nama gubernur baru Jawa Barat. Orang-orang sudah lama memanggilnya Kang Dedi Mulyadi (KDM). Namanya mencuat karena gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia kerap turun langsung dan memulai harinya dengan sapaan khas yang begitu membumi, “Kumaha damang?”—bagaimana kabar kalian? Sapaan itu meluncur begitu saja, tanpa protokol, tanpa sekat, hanya dengan senyum lebar dan mata yang […]

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan audit tahunan yang paling jujur: audit hati. Bedanya dengan audit laporan keuangan, auditor Ramadhan tidak bisa diajak negosiasi, tidak bisa diundang buka puasa bersama, dan tidak mengenal istilah “koreksi minor”. Ia langsung tembus ke niat. Dalam bahasa akuntansi, Ramadhan mengajarkan kita satu sistem pencatatan paling canggih: double entry dunia–akhirat. Dalam akuntansi modern, […]

  • Post Stoicism: Antara Dikotomi Kendali dan Empati

    Post Stoicism: Antara Dikotomi Kendali dan Empati

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Ada satu hal yang terus bergaung dalam kepala saya belakangan ini: bahwa hidup ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah permainan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Saya menemukannya pertama kali dalam ajaran Stoikisme—tepatnya dalam gagasan dichotomy of control. Tapi kemudian, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ada lubang kecil dalam kebijaksanaan besar ini, […]

  • Piagam Menara Gading

    Piagam Menara Gading

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Ruang berpendingin malam itu tidak kuasa menyingkirkan keringat yang terus merembes keluar dari pori-poriku. Adrenalin yang terpacu memaksa hormon-hormon dalam tubuhku memproduksi keringat dalam udara yang disemprot AC. Seiring dengan gemuruh aula megah itu, adrenalinku terasa makin bergerak cepat ketika namaku disebut. Dr. Maulana  Eka  Rasyid  Arfan  Saputra  Alamsyah  Taufik  Abdullah  Hafidz Umar, MA, M.Si, […]

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

expand_less