Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Belanja Non-Prioritas dalam APBN: Siapa yang Menentukan Skala Kepentingan?

  • account_circle Rahma Diva Febryana
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 369
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 22 Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja APBN dan APBD. Kebijakan ini menargetkan penghematan sebesar Rp306,69 triliun, dengan fokus pada pemangkasan belanja yang dianggap “non-prioritas” seperti perjalanan dinas, seminar, alat tulis kantor, hingga kegiatan seremonial. Secara normatif, langkah ini patut diapresiasi karena berupaya mengurangi pemborosan anggaran yang selama ini kerap terjadi dalam praktik birokrasi.

Namun, di balik semangat efisiensi tersebut, muncul persoalan mendasar: siapa yang berhak menentukan mana belanja prioritas dan mana yang tidak? Dalam teori keuangan publik, belanja prioritas mencakup sektor yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. Sementara itu, belanja administratif sering dianggap dapat dikurangi. Persoalannya, dalam praktik pemerintahan, batas antara keduanya tidak selalu tegas dan sering kali dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa efisiensi bukan berarti mengurangi belanja produktif, melainkan menyusun ulang prioritas agar lebih optimal. Pernyataan ini terlihat rasional, tetapi menyimpan persoalan: proses penentuan prioritas bukanlah semata teknis, melainkan politis. Ia melibatkan pilihan nilai, arah pembangunan, dan kepentingan kekuasaan. Akibatnya, keputusan anggaran tidak selalu mencerminkan kebutuhan objektif masyarakat, melainkan kompromi dari berbagai kepentingan.

Hal ini terlihat dari realitas kebijakan tahun 2025. Sektor pendidikan dan kesehatan yang secara konstitusional merupakan prioritas justru mengalami pemangkasan anggaran signifikan. Di sisi lain, anggaran pertahanan tetap menjadi yang terbesar dalam APBN. Kondisi ini memunculkan paradoks: sektor yang berperan dalam pembangunan jangka panjang justru dikurangi, sementara sektor lain tetap dipertahankan. Situasi ini menunjukkan bahwa label “non-prioritas” tidak selalu netral, melainkan dapat mencerminkan preferensi kebijakan.

  • Penulis: Rahma Diva Febryana

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Instruksi Bupati Maros, Ayah Hadir di Sekolah Dampingi Anak Terima Rapor

    Instruksi Bupati Maros, Ayah Hadir di Sekolah Dampingi Anak Terima Rapor

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros — Instruksi Bupati Maros melalui Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor) mulai diimplementasikan di satuan pendidikan. Di UPTD SDN 66 Kanjitongan, Kabupaten Maros, sejumlah ayah tampak hadir langsung mendampingi anak-anak mereka saat penerimaan laporan hasil belajar (rapor), Sabtu (20/12/2025). Kehadiran para ayah tersebut menjadi bentuk nyata tindak lanjut arahan Pemerintah Kabupaten Maros yang […]

  • Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Apriyanto Rajak
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Hari tani nasional selalu diperingati 24 September setiap tahun. Sebuah momentum tepat untuk merefleksikan sejauh mana petani memperoleh kesejahteraan. Selama ini bertani dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan, sehingga jangan heran mengapa anak muda kurang tertarik dengan profesi ini dan umumnya lebih didominasi oleh orang tua. Menurut data sensus pertanian 2023 menyebutkan generasi X memiliki […]

  • Mobil Diduga Angkut Sapi dalam Kondisi Sudah Dipotong di Bantimurung, Surat yang Disebut Kapolsek Dipertanyakan

    Mobil Diduga Angkut Sapi dalam Kondisi Sudah Dipotong di Bantimurung, Surat yang Disebut Kapolsek Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 79
    • 0Komentar

      Nulondalo.com, MAROS — Masyarakat di wilayah hukum Polsek Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dibuat resah menyusul adanya informasi mengenai sebuah mobil yang diduga mengangkut bagian tubuh sapi dalam kondisi sudah dipotong. Informasi tersebut diterima awak media dari masyarakat yang mengaku menemukan kendaraan tersebut dalam keadaan mencurigakan. Saat warga mempertanyakan kepada pengemudi mengenai barang yang […]

  • Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 310
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sejumlah tokoh lintas agama, intelektual, dan budayawan yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan Pesan Kebangsaan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terkait situasi geopolitik global yang semakin memanas. Pesan tersebut disampaikan di Jakarta pada 6 Maret 2026, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan internasional, khususnya setelah serangan Amerika Serikat dan Israel […]

  • Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Momentum Hari Pahlawan yang seharusnya menjadi refleksi nilai-nilai perjuangan bangsa justru menimbulkan dilema nasional. Di tengah peringatan 10 November 2025, muncul polemik tajam atas keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto, sosok yang selama 32 tahun memimpin Indonesia di bawah rezim Orde Baru yang otoriter. Pemberian gelar tersebut menuai kritik keras dari […]

  • Enam Mahasiswa Gugat UU Partai Politik ke MK, Minta Masa Jabatan Ketua Umum Dibatasi

    Enam Mahasiswa Gugat UU Partai Politik ke MK, Minta Masa Jabatan Ketua Umum Dibatasi

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang perdana pengujian materiil Pasal 23 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik (UU Parpol), Rabu (24/6/2026). Permohonan dengan Nomor 217/PUU-XXIV/2026 itu diajukan oleh enam mahasiswa, yakni Alysa Milano Sepania, Aditya Zain, Affan Kurnia Fawwaz, Fransisca Denis Febrianti, Mukhammad […]

expand_less