Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yang Nanam Malah Lapar

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
  • visibility 505
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan gaji akuntan.

Keberpihakan struktur PBNU terhadap transformasi ekonomi hari ini patut diapresiasi. NU mulai sadar bahwa mengurus umat bukan hanya soal qunut subuh, tapi juga soal arus kas. Ekonomi, akuntansi, dan profesionalisme mulai dipanggil ke panggung utama. Kalau dulu rapat NU penuh doa agar rezeki lancar, sekarang mulai ada doa tambahan: “Semoga laporan keuangannya juga lancar dan diaudit wajar tanpa pengecualian.”

PBNU juga mendorong lahir dan tumbuhnya lembaga-lembaga ekonomi NU. Ini kemajuan besar. Namun Gus Dur mungkin akan nyeletuk, “Lembaga ekonomi NU jangan cuma ada kop suratnya, tapi juga ada labanya.” BUMNU, koperasi NU, dan unit usaha pesantren jangan sampai rajin rapat tapi malas produksi. Kalau rapat lebih sering dari panen, itu bukan ekonomi umat, itu ekonomi konsumsi snack.

Pengarusutamaan program ekonomi NU sering terdengar gagah di seminar, tapi kadang menguap saat turun ke sawah. Padahal ekonomi jama’ah itu sederhana: tanam bareng, panen bareng, jual bareng, untung bareng, bukan bingung bareng. NU perlu satu desain besar ekonomi, bukan sekadar spanduk besar ekonomi. Kalau program ekonomi NU masih jalan sendiri-sendiri, Gus Dur mungkin akan bilang, “Ini bukan ekosistem, ini ekosentris, semua merasa paling penting.”

Peran kampus-kampus NU di bawah LPTNU sangat strategis. Tapi kampus NU jangan hanya jago bikin seminar bertema Sustainable Community Development sambil makan nasi kotak. Kampus NU harus turun ke desa, bukan cuma turun panggung. Mahasiswa NU jangan cuma pandai mengutip teori pembangunan, tapi juga pandai menghitung harga gabah dan ongkos nelayan. Kalau tidak, risetnya berkelanjutan, kemiskinannya juga berkelanjutan.

Penguatan kader melalui ISNU, Ansor, PMII, IPNU dan IPPNU juga krusial. Kader NU hari ini harus bisa wirid sekaligus spreadsheet. Bisa istighotsah, tapi juga bisa baca neraca. Gus Dur mungkin akan tertawa, “Kalau kader NU hanya kuat di yel-yel tapi lemah di Excel, ekonomi umat bisa error.” Militansi tanpa kompetensi hanya menghasilkan semangat, bukan kesejahteraan.

Sudah waktunya jam’iyah NU berhenti hanya disebut sebagai “pasar besar”. Pasar itu tempat belanja, bukan tempat menentukan harga. NU harus naik kelas menjadi produsen. Petani NU jangan hanya panen, tapi juga punya gudang. Nelayan NU jangan hanya melaut, tapi juga punya cold storage. Kalau beras NU masih dibeli dari tengkulak, itu namanya kedaulatan doa, bukan kedaulatan pangan.

Produksi beras, rempah-rempah, sayuran, dan ikan seharusnya dipegang oleh jam’iyah NU secara kolektif. Bukan berarti NU mau jadi konglomerat, tapi agar warga NU tidak terus jadi penonton di lumbung sendiri. Gus Dur pernah bilang, “Keadilan sosial itu sederhana: yang nanam jangan malah lapar.” Dan itu relevan sampai hari ini.

Ekosistem ekonomi Nahdlatul Ulama harus dibangun dari bawah: pesantren, desa, kampus, koperasi, hingga pasar digital. Kalau NU bisa mengelola jama’ah untuk shalawatan berjuta orang, seharusnya mengelola rantai produksi beras tidak lebih sulit, asal niatnya sama-sama serius.

Transformasi ekonomi satu abad NU pada akhirnya adalah transformasi cara berpikir. Dari bangga pada jumlah jama’ah menuju bangga pada kemandirian jama’ah. Dari ekonomi berkah menuju ekonomi berkat plus neraca. Gus Dur mungkin akan menutup dengan senyum, “NU itu sudah sangat kaya. Tinggal satu yang kurang: merasa bertanggung jawab atas kekayaannya sendiri.”

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 329
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait potensi dan pengelolaan dana umat kembali memantik diskursus publik mengenai peran keuangan sosial Islam dalam pembangunan nasional. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menegaskan bahwa pengelolaan dana umat tidak boleh berhenti pada zakat semata. “Zakat adalah fondasi. Namun, ekosistem dana […]

  • PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Serapan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Maros tahun anggaran 2025 hampir mencapai target maksimal. Namun demikian, masih terdapat dua desa yang belum mampu menyerap ADD secara penuh, yakni Desa Tunikamaseang, Kecamatan Bontoa, dan Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Maros, Idrus, mengungkapkan belum maksimalnya serapan […]

  • Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 24 Jun 2022
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Rumah besar berpenghuni banyak orang dengan banyak kamar besar serta halaman rumah yang luas, namun tak satupun orang-orang itu terlihat keluar dari rumahnya. Lampu halaman tak menyala, para tetangga tidak pernah disapa, bahkan para tetangga saja tidak mengenal setiap orang yang menghuni rumah besar itu. Karena mereka tak pernah terlihat bekerja menata lingkungan sekitar rumah. […]

  • Menag Nasaruddin Umar: Moderasi NU Jadi Kunci Diterima Timur dan Barat

    Menag Nasaruddin Umar: Moderasi NU Jadi Kunci Diterima Timur dan Barat

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 308
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kekuatan utama Nahdlatul Ulama (NU) terletak pada watak moderatnya yang mampu menjembatani peradaban Timur dan Barat. Hal tersebut disampaikan dalam momentum Halal Bihalal PB IKA PMII yang menjadi ajang konsolidasi strategis alumni dalam membaca arah kepemimpinan NU ke depan. “Wajar jika Alumni PMII membahas dan mempersiapkan […]

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • Ida Fauziyah : Konsolidasi PKB Gorontalo Momentum untuk berkolaborasi bersama Nahdlatul Ulama

    Ida Fauziyah : Konsolidasi PKB Gorontalo Momentum untuk berkolaborasi bersama Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dr. Hj. Ida Fauziyah menyampaikan, bahwa PKB terus berkomitmen menjadi partai yang solid demi memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal tersebut disampaikan pada agenda konsolidasi kader PKB se-Gorontalo bertempat di Grand Q Hotel, Kota Gorontalo, Sabtu (15/2/2025), kemarin. “Dalam pertemuan yang penting ini, saya ingin menyampaikan bahwa Gus Ketum […]

expand_less