Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Panas Bumi vs Panas Hati

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 281
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri +62 ini, kadang yang panas bukan cuma bumi, tapi juga hati rakyat. Apalagi kalau yang panas itu proyek panas bumi, lalu terdengar kabar bahwa yang mengelola adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Waduh. Ini bukan sekadar energi terbarukan, ini energi perdebatan.

Sebagai bangsa yang sejak dulu tegas mendukung Palestina, kita ini unik. Secara diplomatik tidak punya hubungan dengan Israel, tapi dunia bisnis global itu seperti warung kopi 24 jam: semua orang bisa nongkrong, asal punya modal. Nah, di sinilah mulai muncul kegelisahan kolektif. Rakyat bertanya, “Lho, ini bagaimana ceritanya? Kita tidak punya hubungan diplomatik, tapi kok ada izin usaha?”

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan bilang, “Ini bukan soal panas bumi, ini soal bumi yang kepanasan karena kita kurang komunikasi.” Humor beliau selalu sederhana tapi kena. Karena dalam politik, yang paling mahal itu bukan investasi, melainkan kepercayaan.

Sebagai ekonom yang kebetulan lahir dari rahim tradisi Nahdlatul Ulama, saya melihat persoalan ini bukan sekadar hitung-hitungan dolar dan megawatt. Ini soal rasa. Dalam kultur NU, rasa itu penting. Orang bisa salah hitung, tapi jangan sampai salah rasa.

Secara teknis, energi panas bumi itu baik. Ramah lingkungan. Mendukung agenda ekonomi hijau Presiden Prabowo. Kita memang butuh transisi energi. Tidak mungkin selamanya mengandalkan batu bara sambil berharap langit tetap biru. Tapi begini, kalau proyeknya membuat sebagian rakyat merasa “kok agak aneh ya?”, maka tugas pemerintah adalah menjelaskan, bukan sekadar menjalankan.

Rakyat Indonesia ini cerdas. Kadang saking cerdasnya, sebelum dijelaskan sudah menyimpulkan duluan. Maka kalau tidak ada transparansi, imajinasi publik bisa lebih liar dari sumur geotermal.

Isu Palestina bagi masyarakat Indonesia bukan isu luar negeri biasa. Ini sudah seperti urusan keluarga jauh yang selalu kita doakan tiap khutbah Jumat. Maka ketika ada kabar perusahaan yang punya afiliasi Israel masuk mengelola proyek strategis, reaksi emosional itu bisa dimaklumi.

Pertanyaannya, apakah ini otomatis salah? Belum tentu. Dunia bisnis itu ruwet. Saham bisa dimiliki lintas negara. Perusahaan bisa beroperasi independen dari politik negaranya. Tapi dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada struktur kepemilikan.

Nah, di sinilah tantangan Presiden Prabowo. Beliau dikenal tegas mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional. Komitmen itu sudah jelas. Tapi rakyat juga ingin melihat konsistensi dalam kebijakan ekonomi. Jangan sampai yang hijau di sektor energi malah bikin wajah rakyat memerah karena bingung.

Dalam tradisi NU, ada prinsip tawazun (keseimbangan). Politik boleh jalan, ekonomi boleh tumbuh, tapi jangan sampai akal sehat dan rasa keadilan tertinggal. Energi hijau itu penting, tapi legitimasi sosial lebih penting lagi. Kalau proyek berjalan tapi rakyat tidak nyaman, itu seperti makan sate tanpa sambal: technically bisa dimakan, tapi ada yang kurang.

Stabilitas politik juga bukan cuma soal tidak ada demo. Stabilitas itu soal kepercayaan. Kalau rakyat merasa diajak bicara, dijelaskan secara jujur, biasanya masalah bisa selesai. Tapi kalau rakyat merasa hanya jadi penonton, maka panas bumi bisa berubah jadi panas opini.

Sebagai ekonom, saya melihat ini sebagai ujian kedewasaan kebijakan publik kita. Apakah kita mampu menjelaskan secara terbuka struktur kepemilikan perusahaan, mekanisme kerja sama, dan batas-batas relasi politiknya? Kalau memang tidak ada hubungan langsung dengan negara Israel, katakan secara terang. Kalau ada keterkaitan, jelaskan juga secara jujur. Kejujuran itu lebih menenangkan daripada klarifikasi setengah-setengah.

Indonesia selama ini dikenal konsisten dalam diplomasi kemanusiaan. Itu modal besar. Jangan sampai modal moral itu tergerus hanya karena kurang komunikasi. Kita ini bangsa yang mudah memaafkan, asal merasa dihargai.

Humor ala Gus Dur selalu mengajarkan bahwa bangsa ini jangan terlalu tegang. Tapi bukan berarti tidak serius. Kita bisa tertawa sambil tetap kritis. Kita bisa mendukung energi hijau sambil tetap menjaga solidaritas terhadap Palestina.

Jangan sampai nanti rakyat berkata, “Kita dukung Palestina di mimbar, tapi bingung di meteran listrik.” Itu bisa jadi bahan stand-up comedy nasional.

Saya percaya Presiden Prabowo punya niat baik membangun ekonomi hijau dan memperkuat ketahanan energi nasional. Itu visi yang strategis. Namun visi besar perlu komunikasi besar pula. Jangan biarkan panas bumi menguapkan kepercayaan rakyat.

Karena dalam negara demokrasi, yang paling berbahaya bukan energi fosil atau energi nuklir, melainkan energi kecurigaan. Kalau itu meledak, tidak ada teknologi yang bisa meredamnya.

Maka mari kita jaga keseimbangan. Energi hijau tetap jalan, solidaritas kemanusiaan tetap tegak, dan kepercayaan publik tetap utuh. Kalau semua bisa diseimbangkan, insyaAllah yang panas hanya bumi, bukan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya.

Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB menetapkan Abdullah Kadir Diko, S.Pt. sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kabupaten Pohuwato masa khidmat 2026–2031. Penetapan tersebut menandai estafet kepemimpinan DPC PKB Pohuwato dari ketua sebelumnya, Idris Kadji. Abdullah Kadir Diko merupakan salah satu kader PKB yang telah lama berkiprah di dunia politik, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi […]

  • Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Dulu orang percaya ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa manusia pada kebebasan. Semakin modern sebuah masyarakat, semakin terbuka pula cara berpikirnya. Rasionalitas dianggap mampu membebaskan manusia dari kebodohan, mitos, dan penindasan. Tetapi hari ini kita justru melihat sesuatu yang dilematis, teknologi berkembang begitu cepat, informasi ada di mana-mana, namun masyarakat semakin mudah diarahkan, digiring, bahkan […]

  • Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

    Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Setiap zaman memiliki aktivisnya sendiri. Namun dalam ruang publik Indonesia, sering muncul kecenderungan untuk menempatkan aktivisme seolah-olah identik dengan generasi atau figur tertentu, terutama mereka yang terlibat dalam Reformasi 1998. Nama-nama itu terus dihadirkan sebagai simbol perubahan, sementara pengalaman generasi setelahnya sering dipandang kurang otentik, kurang heroik, atau bahkan dianggap tidak memiliki legitimasi historis yang […]

  • PWNU Gorontalo Sosialisasikan Rencana Pekan Ekonomi Syariah ke Kemenag Kabupaten Gorontalo

    PWNU Gorontalo Sosialisasikan Rencana Pekan Ekonomi Syariah ke Kemenag Kabupaten Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo melakukan silaturahmi ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gorontalo, Kamis (4/9/2025). Pengurus PWNU Gorontalo diterima langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gorontalo, H. Abdullah Pakaja. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mensosialisasikan agenda Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo, yang akan dicanangkan oleh PWNU pada Oktober 2025 mendatang. Ketua Tanfidziyah PWNU Gorontalo, […]

  • Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 271
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAKASSAR – Salah satu Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam DDI Maros sekaligus eks Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa IAI DDI Maros berhasil meraih Juara I Lomba Dai Mitra Polri Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026. Capaian ini menegaskan konsistensi perguruan tinggi dalam mengembangkan kemampuan di bidang dakwah. Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung […]

  • Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang malam pergantian Tahun Masehi, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko, mulai dari gangguan keamanan, kecelakaan lalu lintas, hingga cuaca ekstrem. Pengamat dan aparat keamanan menilai euforia perayaan tahun baru kerap dibarengi peningkatan kerawanan di ruang publik. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, menilai keramaian pada malam tahun baru […]

expand_less