BINUS University Perluas Akses Pendidikan, PusGita Jangkau Sekolah Terpencil di Sulawesi Selatan
- account_circle Sakti
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.Com, MAROS – Keterbatasan akses internet masih menjadi salah satu tantangan utama bagi dunia pendidikan di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Di saat sekolah-sekolah di perkotaan semakin akrab dengan pembelajaran berbasis digital, tidak sedikit siswa di daerah terpencil yang masih mengandalkan koleksi buku yang terbatas.
Menjawab persoalan tersebut, BINUS University menghadirkan PusGita (Perpustakaan Digital Offline) versi 6.0, sebuah inovasi yang memungkinkan ribuan sumber belajar digital diakses tanpa memerlukan koneksi internet.
Program yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 ini dilaksanakan di Sulawesi Selatan melalui kolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau sebagai mitra pelaksana di lapangan.
PusGita merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat BINUS University yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Inovasi tersebut dirancang agar sekolah-sekolah dengan keterbatasan infrastruktur digital tetap dapat memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran.
Perpustakaan digital ini menyediakan lebih dari 7.000 konten pembelajaran, mulai dari e-book, video edukasi, materi pembelajaran untuk jenjang SD hingga SMA, ensiklopedia pengetahuan umum, hingga buku cerita yang mengajarkan nilai karakter dan budi pekerti.
Seluruh koleksi dapat diakses secara offline, sehingga guru dan siswa tidak membutuhkan kuota internet maupun jaringan seluler untuk memanfaatkan seluruh materi pembelajaran yang tersedia.
Di Sulawesi Selatan, implementasi program menjangkau tiga desa yang memiliki tantangan geografis dalam memperoleh layanan pendidikan digital, yakni:
Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.
Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.
Desa Lembang Mesakada, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.
Bagi sekolah-sekolah yang berada di kawasan kaki gunung, kehadiran PusGita menjadi solusi nyata dalam memperluas akses terhadap sumber belajar. Melalui satu perangkat, siswa kini dapat membaca ribuan buku, mempelajari berbagai mata pelajaran, hingga menyaksikan video edukasi kapan pun tanpa bergantung pada jaringan internet.
PIC BINUS University, Olifia Rombot, mengatakan PusGita merupakan wujud komitmen BINUS University dalam menghadirkan pemerataan akses pendidikan melalui inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Pendidikan yang berkualitas seharusnya dapat diakses oleh setiap anak Indonesia, tanpa dibatasi oleh kondisi geografis maupun keterbatasan infrastruktur. Melalui PusGita, BINUS University ingin menghadirkan solusi yang sederhana, namun mampu memberikan dampak besar. Kami berharap perpustakaan digital ini dapat menjadi ruang belajar baru yang menumbuhkan minat baca, memperluas wawasan, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Yayasan Pendidikan Lontara Hijau, Yohanes Benediktus, menilai kehadiran PusGita membawa harapan baru bagi sekolah-sekolah di kawasan kaki gunung yang selama ini kesulitan mengakses sumber belajar digital.
“Anak-anak di sekolah kaki gunung memiliki semangat belajar yang luar biasa. Namun, mereka masih menghadapi keterbatasan akses internet yang membuat kesempatan memperoleh sumber belajar digital menjadi tidak mudah. Keunggulan utama PusGita adalah seluruh koleksi buku dan materi pembelajarannya dapat diakses tanpa internet. Ini bukan sekadar perangkat teknologi, tetapi jembatan yang menghubungkan anak-anak di pelosok dengan dunia pengetahuan. Kami berharap setiap anak dapat tumbuh dengan mimpi yang lebih besar, memiliki akses belajar yang setara, dan percaya bahwa tempat mereka dilahirkan tidak akan membatasi masa depan mereka,” tuturnya.
Sejak dikembangkan BINUS University, PusGita telah didistribusikan ke lebih dari 80 titik desa di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Program ini menjadi salah satu upaya memperluas pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital.
Di Sulawesi Selatan, pendampingan pemanfaatan PusGita dilakukan bersama Yayasan Pendidikan Lontara Hijau agar sekolah, guru, dan masyarakat mampu mengoptimalkan penggunaan perpustakaan digital tersebut secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan akses terhadap sumber belajar semakin terbuka, budaya literasi terus tumbuh, serta kebiasaan membaca semakin mengakar di kalangan generasi muda.
Di tengah keterbatasan jaringan internet yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah, PusGita membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan pemerataan pendidikan. Ribuan buku digital kini hadir tanpa bergantung pada sinyal, membuka peluang yang sama bagi setiap anak Indonesia untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
- Penulis: Sakti

Saat ini belum ada komentar