Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

  • account_circle Risman Lutfi
  • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
  • visibility 212
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Kader PMII dan Pembina GUSDURian Ternate).

Fenomena alam harus dikaji secara mendalam karena memiliki asbab (akibat) dari terjadinya sesuatu, konstruksi makna menggunakan pendekatan hermeneutika memiliki banyak perspektif. Pertama, Ada yang menilai bahwa bencana alam adalah sebuah realitas yang alami dan merupakan hukum alam. Kedua, ada juga yang berpandangan bahwa tidak semua kejadian alam (bencana alam) itu ketentuan Tuhan, tapi ada keterlibatan manusia sebagai indikaor terjadinya gerak materi secara dialektis. Pandangan yang kedua inilah penulis pakai sebagai sebuah kacamata dalam melihat bencana alam.

Kejadian bencana alam di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh harus menjadi perhatian serius bagi pemerinta pusat juga daerah bahwa menjaga alam merupakan sebuah keharusan untuk kestabilan serta keberlangsungan kehidupan rakyat indonesia. Banjir dan longsor yang memakan banyak korban jiwa itu tidak bisa hanya dilihat menggunakan pandangan yang menganggap itu akibat hujan deras atau curah hujan tinggi, tapi kejadian alam di beberapa daerah tersebut akibat dari penggundulan hutan dan proses eksploitasi oleh indutri yang tidak mempertimbangkan potensi kerusakan alam serta hak hidup rakyat.

Dalam kitab suci al-qur’an juga ditekankan agar tidak melakukan kerusakan alam yang telah diberikan oleh allah sebagai rahmat kepada manusia. “dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepadanya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan” QS Al-A’raf Ayat 56. “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar” QS Ar-Rum Ayat 41. Islam memandang alam sebagai “rahmat” yang harus disyukuri oleh umat manusia, bukan “rampas” dan “rampok” atas kerakusan sebagian umat manusia. seruan ayat diatas memerintahkan manusia agar tidak melakukan kerusakan lingkungan (alam) demi kemaslahatan bersama.

Manusia memiliki ketergantungan pada alam untuk bertahan dan melanjutkan hidup, alam memberi kehidupan pada manusia tidak meminta imbalan, tapi hak makhluk hidup seperti pepohonan yang memproduksi oksigen, menyimpan karbon, penyaring udara, mengelola air dan makhluk hidup lainnya yang berupaya mengstabilisasi alam perlu dilihat sebagai rahmatan lil alamin. Menjaga dan merawat lingkungan adalah wajib hukumya, serupa yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari “Hubbul Wathan Minal Iman” mencintai tanah air sebagian dari iman.

Kata kata itu harus ditafsirkan sesuai dengan kontaks hari ini, bahwa seruan yang diucapkan oleh pendiri nahdlatul ulama diatas merupakan senjata perlawanan agar alam dan seluruh sumber penghidupan bangsa Indonesia tidak dirampas dan dirusaki oleh kekuatan imperialisme. Kalimat mencintai tanah air harus dimaknai dengan menjaga lingkungan dari keserakahan kekuatan indutri kapitalistik yang menguntungkan borjuis-kapitalis lokal, nasional dan internasional yang sistem kerjanya sama dengan imperialisme atau bisa disebut sebagai neoimperialisme. Skem penjajahan gaya baru dengan model sistem kapitalistik tidak bisa dibenarkan menggunakan logika ekonomi neoliberalisme-imperialisme yang menghancurkan tatanan dunia, kaya semakin kaya dan yang miskin akan mati dengan kemiskinan.

Alam semesta dengan seluruh kekayaan dilaut dan didarat bisa memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia jika dikelola dengan baik, hal serupa dikatan juga oleh mahatma gandhi “bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang. Keserakahan manusia bisa dilihat dari perpektif ekonomi-politik kapitalistik yang menguntungkan borjuis dan menindas rakyat kecil, buruh, tani, kaum miskin kota, merusak lingkungan serta pelanggaran HAM. Kenapa demikin.? Karena sistem kapitalisme bersifat eksplorasi, eksploitasi dan akumulasi modal.

eksplorasi, eksploitasi dan akumulasi merupakan watak sistem kalitalisme yang tidak memandang berapa banyak hutan yang dihabisi, seberapa besar tanah yang dihisap sehingga mengalami kerusakan ekosistem alam dan tidak memandang pertimbangan moral atas penghisapan tenaga manusia demi mendapatkan berlipat ganda keuntungan (akumulasi modal).

sabda nabi Muhammad SAW yang berbunyi “barang siapa yang mengambil satu jengkal tanah yang bukan miliknya, maka akan dihimpit tujuh lapis bumi di hari kiamat” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini dengan tegas melarang aktifitas yang bersifat kapitalistik, karena sistem kapitalisme sama halnya dengan kolonialisme model baru, yakni memiliki corak sistem kerja menindas, merampas hak hidup rakyat dan merusak lingkungan.

“persahabatan merupakan kesucian yang harus dijaga oleh anak semua bangsa, demi keutuhan bumi manusia agar tidak hilang dalam jejak langkah” Risman Lutfi.

  • Penulis: Risman Lutfi
  • Editor: Risman Lutfi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BIM-MALUT Gelar Aksi di Kantor Pusat PT Harita Group Jakarta, Kecam Pencemaran Cr 6 di Pulau Obi

    BIM-MALUT Gelar Aksi di Kantor Pusat PT Harita Group Jakarta, Kecam Pencemaran Cr 6 di Pulau Obi

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Aktivis Barisan Intelektual Muda Maluku Utara (BIM-MALUT) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pusat PT Harita Group di Jakarta. Aksi ini merupakan bentuk protes keras atas dugaan pencemaran lingkungan oleh perusahaan tambang nikel tersebut di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, 14 Mei 2025. Dalam orasinya, massa BIM-MALUT mengecam tindakan PT Harita […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah SMP karena Faktor Ekonomi Keluarga di Provinsi Gorontalo”. Kegiatan ini berlangsung di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, senin (27 Oktober 2025). Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris […]

  • Merdeka, tapi Bagi Siapa? Catatan Kecil soal Kebebasan Beragama Menjelang 17 Agustus

    Merdeka, tapi Bagi Siapa? Catatan Kecil soal Kebebasan Beragama Menjelang 17 Agustus

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Wahiyudin Mamonto
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Setiap kali Agustus tiba, saya selalu berpikir: kemerdekaan itu sebenarnya milik siapa? Bendera dikibarkan, lomba panjat pinang digelar, pidato-pidato disiapkan. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab tuntas—apakah setiap warga negara, tanpa memandang apa yang ia yakini, benar-benar sudah merdeka untuk beribadah dan hidup sesuai keyakinannya? Kalau bicara soal aturan, […]

  • Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Pasca Eid al-Fitr, saya mendapati satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun, orang-orang bergerak menuju tempat-tempat ziarah. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berombongan dengan tetangga, ada pula yang menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk singgah sebentar, membaca doa, lalu pulang. Salah satu titik yang paling ramai adalah kawasan Masjid Nuruttaubah Imam Lapeo. […]

  • UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 229
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) tidak bersifat diskriminatif meskipun perlindungan hukum dalam Pasal 8 hanya secara limitatif ditujukan kepada wartawan. Menurut MK, penulis lepas, kolumnis, dan kontributor nonwartawan tetap memiliki payung hukum lain di luar UU Pers. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua MK Saldi Isra […]

  • Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 431
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kapal nelayan, KM Elnas III, dilaporkan mengalami mati mesin saat beroperasi di perairan Teluk Tomini. Beruntung, seluruh awak kapal berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Kejadian ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rahman, pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, KM Elnas […]

expand_less