Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ilmu yang Masuk Angin

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 292
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta dapur rakyat.

Fenomena akademisi menara gading bukan hal baru. Gus Dur mungkin akan bilang, “Menara gading itu sebenarnya bagus, asal ada tangganya dan pintunya dibuka.” Masalahnya, banyak akademisi betah di atas, lupa di bawah ada petani yang pusing harga pupuk, nelayan yang bertaruh nyawa di laut, dan masyarakat miskin yang bertaruh hidup setiap hari.

Ilmu di kampus sering dibicarakan dengan bahasa yang hanya dipahami sesama akademisi. Kalau petani mendengar, bisa jadi dikira mantra. Kalau nelayan membaca jurnal, mungkin disangka ramalan cuaca yang salah. Ilmu jadi eksklusif, bukan emansipatif.

Di NU ada guyonan: “Sing ora duwe dalan, yo sing duwe jabatan.” Yang tidak punya jalan, ya yang punya jabatan. Dalam dunia akademik, yang punya proyek sering lebih didengar daripada yang punya penderitaan. Riset lebih cepat jalan kalau ada sponsor, apalagi kalau sponsornya punya logo besar dan rekening tebal.

Akademisi lalu rajin membuat kajian yang “tidak menyalahkan siapa-siapa”, “objektif tapi aman”, dan “kritis tapi sopan berlebihan”. Gus Dur mungkin nyeletuk, “Kalau terlalu sopan pada kekuasaan, nanti lupa sopan pada rakyat.” Ilmu yang seharusnya menjadi alat pembongkar ketidakadilan justru dipakai sebagai bedak: menutupi wajah kebijakan yang bopeng.

Lucunya, penelitian kita sering sangat hati-hati ketika membahas penguasa, elit, dan korporasi, bahasanya halus, penuh istilah teknis, dan ujung kesimpulannya aman. Tapi ketika membahas petani, nelayan, dan masyarakat miskin, analisisnya mendadak lugas: miskin karena kurang literasi, nelayan kalah karena tidak inovatif, petani tertinggal karena tidak adaptif.

Kalau Gus Dur hidup, mungkin beliau akan bilang, “Yang miskin kok disalahkan, yang kaya kok dibela. Ini ilmu apa ilmu cari aman?” Petani dan nelayan sering dijadikan objek penelitian, bukan subjek pengetahuan. Mereka ditanya, dicatat, difoto, lalu ditinggal, seperti mantan yang hanya dibutuhkan saat skripsi.

Dalam tradisi NU, keberpihakan bukan soal marah-marah, tapi soal ngemong. Akademisi harus sadar: netral di tengah ketimpangan itu sama saja dengan ikut membiarkan. Gus Dur pernah bilang, “Tuhan itu tidak netral terhadap kezaliman.”
Kesadaran keberpihakan berarti jujur mengakui bahwa ilmu selalu berpihak. Pertanyaannya: berpihak kepada siapa? Kepada yang sudah kuat, atau kepada yang masih berjuang bertahan hidup?

Pendidikan tinggi seharusnya mendidik mahasiswa agar tidak alergi lumpur sawah dan bau solar perahu. Penelitian perlu berani meneliti ke atas, membongkar kebijakan, kepentingan elit, dan praktik korporasi sekaligus mendampingi ke bawah.

Pengabdian kepada masyarakat jangan hanya jadi acara seremonial: foto, spanduk, lalu laporan. Dalam NU, khidmah itu proses, bukan event. Akademisi seharusnya hadir lama, sabar, dan mau belajar dari masyarakat.

Kampus tidak boleh hanya jadi lampu hias pembangunan terang tapi tidak menghangatkan. Kampus harus jadi obor: menerangi sekaligus membakar kesadaran. Akademisi tidak boleh menjadi kaki tangan penguasa, elit, dan korporasi. Kalau mau jadi kaki, jadilah kaki yang berjalan bersama petani, nelayan, dan masyarakat miskin.

Tugas akademisi adalah menuntun keberpihakan pemerintah dengan argumen ilmiah yang jujur dan berani. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau ilmu tidak membela yang lemah, itu bukan ilmu, itu keterampilan.”

Akhirnya, keberpihakan akademik bukan soal ideologi sempit, tetapi soal nurani. Ilmu yang baik itu seperti humor Gus Dur: sederhana, menohok, dan selalu berpihak pada kemanusiaan. Kalau tidak begitu, jangan-jangan ilmu kita hanya masuk angin—terasa hebat di dada, tapi tidak menyembuhkan siapa-siapa.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Akademisi UNUSIA Jakarta

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Di tanah Bugis, ada selembar kain yang tidak sekadar kain. Ia adalah cerita tentang kesabaran, ketelitian, dan peradaban yang panjang. Kain itu dikenal dengan nama Lipa’ Sa’be. Di balik setiap helai benang sutra itu, ada tangan-tangan perempuan Bugis yang bekerja dengan ketelitian dan kesabaran. Mereka duduk berjam-jam di depan alat tenun, menggerakkan benang demi benang […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Lomba Da’i Cilik, sebuah ajang yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat dakwah dan pemahaman nilai-nilai ekonomi syariah sejak usia dini. Kegiatan ini akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi No. 346, Kelurahan Limba U […]

  • Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Gorontalo melakukan re-assesment reviu kelas terhadap delapan rumah sakit yang tersebar di wilayah provinsi tersebut. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan delapan direktur rumah sakit terkait penyesuaian kelas rumah sakit tahun 2025. Pelaksanaan re-assesment ini disampaikan oleh Kepala […]

  • Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kehidupan zuhudnya. Ia berasal dari kabilah Ghifar, sebuah kabilah Arab yang tinggal di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Sebelum masuk Islam, kabilah ini dikenal keras dan hidup dari merampok kafilah dagang. Namun Abu Dzar memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan orang […]

  • Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat, nama-nama seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib sering dipersepsikan sebagai simbol keberanian, ketegasan, dan kekuatan fisik. Mereka menjadi rujukan bagi banyak generasi sebagai contoh keberanian yang luar biasa. Namun, di balik nama-nama besar itu, terdapat seorang sahabat yang jarang disebut, tetapi memiliki kekuatan fisik dan pengabdian yang tidak […]

  • Intangible Langit

    Intangible Langit

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi, ada istilah yang terdengar agak mistis bagi orang awam: aset tidak berwujud atau intangible assets. Ia tidak bisa disentuh, tidak bisa difoto, dan tidak bisa dimasukkan ke dalam karung beras. Tapi nilainya bisa sangat besar. Contohnya merek dagang, reputasi perusahaan, hingga hak paten. Lucunya, dalam kehidupan Ramadhan, umat Islam sebenarnya juga sedang […]

expand_less