Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ilmu yang Masuk Angin

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 231
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta dapur rakyat.

Fenomena akademisi menara gading bukan hal baru. Gus Dur mungkin akan bilang, “Menara gading itu sebenarnya bagus, asal ada tangganya dan pintunya dibuka.” Masalahnya, banyak akademisi betah di atas, lupa di bawah ada petani yang pusing harga pupuk, nelayan yang bertaruh nyawa di laut, dan masyarakat miskin yang bertaruh hidup setiap hari.

Ilmu di kampus sering dibicarakan dengan bahasa yang hanya dipahami sesama akademisi. Kalau petani mendengar, bisa jadi dikira mantra. Kalau nelayan membaca jurnal, mungkin disangka ramalan cuaca yang salah. Ilmu jadi eksklusif, bukan emansipatif.

Di NU ada guyonan: “Sing ora duwe dalan, yo sing duwe jabatan.” Yang tidak punya jalan, ya yang punya jabatan. Dalam dunia akademik, yang punya proyek sering lebih didengar daripada yang punya penderitaan. Riset lebih cepat jalan kalau ada sponsor, apalagi kalau sponsornya punya logo besar dan rekening tebal.

Akademisi lalu rajin membuat kajian yang “tidak menyalahkan siapa-siapa”, “objektif tapi aman”, dan “kritis tapi sopan berlebihan”. Gus Dur mungkin nyeletuk, “Kalau terlalu sopan pada kekuasaan, nanti lupa sopan pada rakyat.” Ilmu yang seharusnya menjadi alat pembongkar ketidakadilan justru dipakai sebagai bedak: menutupi wajah kebijakan yang bopeng.

Lucunya, penelitian kita sering sangat hati-hati ketika membahas penguasa, elit, dan korporasi, bahasanya halus, penuh istilah teknis, dan ujung kesimpulannya aman. Tapi ketika membahas petani, nelayan, dan masyarakat miskin, analisisnya mendadak lugas: miskin karena kurang literasi, nelayan kalah karena tidak inovatif, petani tertinggal karena tidak adaptif.

Kalau Gus Dur hidup, mungkin beliau akan bilang, “Yang miskin kok disalahkan, yang kaya kok dibela. Ini ilmu apa ilmu cari aman?” Petani dan nelayan sering dijadikan objek penelitian, bukan subjek pengetahuan. Mereka ditanya, dicatat, difoto, lalu ditinggal, seperti mantan yang hanya dibutuhkan saat skripsi.

Dalam tradisi NU, keberpihakan bukan soal marah-marah, tapi soal ngemong. Akademisi harus sadar: netral di tengah ketimpangan itu sama saja dengan ikut membiarkan. Gus Dur pernah bilang, “Tuhan itu tidak netral terhadap kezaliman.”
Kesadaran keberpihakan berarti jujur mengakui bahwa ilmu selalu berpihak. Pertanyaannya: berpihak kepada siapa? Kepada yang sudah kuat, atau kepada yang masih berjuang bertahan hidup?

Pendidikan tinggi seharusnya mendidik mahasiswa agar tidak alergi lumpur sawah dan bau solar perahu. Penelitian perlu berani meneliti ke atas, membongkar kebijakan, kepentingan elit, dan praktik korporasi sekaligus mendampingi ke bawah.

Pengabdian kepada masyarakat jangan hanya jadi acara seremonial: foto, spanduk, lalu laporan. Dalam NU, khidmah itu proses, bukan event. Akademisi seharusnya hadir lama, sabar, dan mau belajar dari masyarakat.

Kampus tidak boleh hanya jadi lampu hias pembangunan terang tapi tidak menghangatkan. Kampus harus jadi obor: menerangi sekaligus membakar kesadaran. Akademisi tidak boleh menjadi kaki tangan penguasa, elit, dan korporasi. Kalau mau jadi kaki, jadilah kaki yang berjalan bersama petani, nelayan, dan masyarakat miskin.

Tugas akademisi adalah menuntun keberpihakan pemerintah dengan argumen ilmiah yang jujur dan berani. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau ilmu tidak membela yang lemah, itu bukan ilmu, itu keterampilan.”

Akhirnya, keberpihakan akademik bukan soal ideologi sempit, tetapi soal nurani. Ilmu yang baik itu seperti humor Gus Dur: sederhana, menohok, dan selalu berpihak pada kemanusiaan. Kalau tidak begitu, jangan-jangan ilmu kita hanya masuk angin—terasa hebat di dada, tapi tidak menyembuhkan siapa-siapa.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Akademisi UNUSIA Jakarta

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta – Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta menggelar diskusi internal untuk membedah riset mendalam mengenai kondisi Transmigrasi di Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Jum’at (2/1/2026). Agenda pembacaan riset ini merupakan langkah strategis organisasi dalam mematangkan data dan substansi sebelum dibawa ke forum Dialog Publik bersama Pusat Studi Pedesaan […]

  • Re-historiografi Gorontalo: Sebuah Dorongan Awal

    Re-historiografi Gorontalo: Sebuah Dorongan Awal

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Daniel A. Kalangie
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Narasi umum sejarah Gorontalo paling tidak hanya berkutat pada tiga peristiwa pokok; kisah terbentuknya Duluwo Limo lo Pohala’a, “kepahlawanan” dalam peristiwa 23 Januari 1942, dan cerita Pembentukan Provinsi Gorontalo. Tiga peristiwa pokok ini cenderung dianggap oleh pemerintah, akademisi, maupun awam sebagai pijakan untuk membentuk pengetahuan sejarah Gorontalo. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin tiga peristiwa yang terpaut […]

  • Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Hari, bulan dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80, […]

  • WaliKota Gorontalo Sidak Mobil Dinas, Ternyata Lebih Populer di Kalangan Istri Pejabat

    WaliKota Gorontalo Sidak Mobil Dinas, Ternyata Lebih Populer di Kalangan Istri Pejabat

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, kembali melakukan inspeksi mendadak (Sidak), kali ini menyasar mobil dinas (Mobnas) para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Sidak dilaksanakan dengan mengumpulkan seluruh kendaraan dinas operasional (KDO) di halaman kantor wali kota, Selasa (23/12/2025). Menurut Wali Kota Adhan, sidak dilakukan setelah banyak laporan masuk bahwa Mobnas lebih banyak digunakan […]

  • Jalan Rusak Total, Warga Kelurahan Tubo Berinisiatif Bangun Sandiri

    Jalan Rusak Total, Warga Kelurahan Tubo Berinisiatif Bangun Sandiri

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Kondisi jalan Ake Tubo di RT 007 dan RT 008 Kelurahan Tubo, Ternate Utara, Kota Ternate mengalami RUSAK TOTAL. Jalan ake Tubo adalah jalan satu-satunya yang digunakan tiap hari oleh warga untuk bolak balik ke tempat kerja, pasar dan juga aktifitas kebun masyarakat setempat. Selain itu, jalan ake Tubo juga merupakan akses jalan satu-satunya menuju […]

  • Warga NU Tegaskan Fiqh al-Bi’ah dan Keberpihakan pada Kaum Mustadl’afin photo_camera 10

    Warga NU Tegaskan Fiqh al-Bi’ah dan Keberpihakan pada Kaum Mustadl’afin

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di bawah rimbun pepohonan Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (21/12/2025), suasana kediaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi saksi pertemuan penuh makna. Bukan sekadar forum temu warga, Musyawarah Besar Warga Nahdlatul Ulama (NU) kali ini menjelma ruang keprihatinan sekaligus harapan, tempat nilai-nilai jam’iyyah dirawat di tengah polemik PBNU. Dengan mengusung tema “Mengembalikan NU […]

expand_less