Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

  • account_circle Nur Shollah Bek
  • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
  • visibility 390
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau organisasi.

Konsep ini sejalan dengan teori kepemimpinan modern yang menekankan transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu mengubah nilai, kesadaran, dan perilaku kolektif, bukan sekadar mengejar capaian jangka pendek. Dalam perspektif ini, pemimpin ideal adalah mereka yang mempengaruhi dengan keteladanan, bukan menundukkan dengan instruksi; menggerakkan dengan hikmah, bukan memecah dengan kepentingan.

Gus Dur: Representasi Kepemimpinan Ilmiah, Moral, dan Kemanusiaan

Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah contoh konkret dari kepemimpinan ala al-Ghazālī. Gus Dur bukan pemimpin yang membangun wibawa dari jarak dan kekakuan, melainkan dari kedalaman ilmu, keluasan pandangan, dan keberanian moral. Ia menempatkan NU sebagai rumah besar keilmuan, kebudayaan, dan kemanusiaan, bukan sekadar kendaraan kekuasaan.

Secara intelektual, Gus Dur adalah ulama kosmopolit—menguasai tradisi pesantren, literatur klasik Islam, sekaligus pemikiran modern dan demokrasi. Secara keagamaan, ia teguh memegang prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, namun menolak menjadikannya alat eksklusivisme. Dan secara akhlak, Gus Dur dikenal sebagai pribadi yang memaafkan, merangkul, dan mengedepankan kemaslahatan di atas ego kelompok.

Inilah kepemimpinan yang menyembuhkan, bukan melukai; mempersatukan, bukan mempertajam konflik.

Pergeseran Keteladanan dalam Kepemimpinan PBNU

Dalam konteks kekinian, sebagian warga Nahdliyyin merasakan adanya pergeseran orientasi kepemimpinan PBNU. Dari kepemimpinan yang dahulu bertumpu pada moralitas, keilmuan, dan kearifan jam’iyah, menuju kecenderungan yang lebih elitis, pragmatis, dan politis. Bukan berarti seluruh capaian organisasi harus dinafikan, namun evaluasi kritis tetap diperlukan agar NU tidak tercerabut dari ruh pendiriannya.

Al-Ghazālī mengingatkan bahwa kerusakan pemimpin akan melahirkan kerusakan yang lebih luas, sebab masyarakat cenderung mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemimpinnya. Ketika keteladanan melemah, kepercayaan pun perlahan terkikis. Ketika kebijaksanaan digantikan oleh manuver, maka yang tumbuh bukan keberkahan, melainkan kegaduhan.

NU dan Tantangan Kepemimpinan Moral

Sebagai organisasi keagamaan terbesar, NU sejatinya memikul tanggung jawab moral yang besar: menjaga keseimbangan antara agama, negara, dan kemanusiaan. Kepemimpinan PBNU idealnya kembali pada prinsip al-Ghazālī: memadukan ilmu, iman, dan akhlak; menjadikan jabatan sebagai sarana khidmah, bukan simbol kuasa.

Belajar dari Gus Dur, NU tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, tetapi pemimpin yang jujur pada nilai, berani menegur diri sendiri, dan mau mendengar suara jamaah. Sebab dalam tradisi pesantren, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling tinggi posisinya, melainkan siapa yang paling bermanfaat dan memberi teladan.

Evaluasi kepemimpinan PBNU bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan wujud cinta dan tanggung jawab moral sebagai bagian dari jam’iyah. Sebagaimana pesan al-Ghazālī, dan telah dipraktikkan oleh Gus Dur, pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menerangi jalan, bukan sekadar berdiri di depan; yang menyembuhkan luka sosial, bukan menambahnya.

NU akan tetap besar bukan karena struktur kekuasaannya, tetapi karena keteladanan para pemimpinnya—yang berpijak pada ilmu, disinari agama, dan dimuliakan oleh akhlak.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah Bek
  • Editor: Nur Shollah Bek

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 218
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang kritik publik terhadap penanganan kasus hukum yang menjerat Hogi Minaya, seorang suami korban penjambretan, akhirnya berujung pada keputusan tegas dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kapolres Sleman Kombes Pol Edy Setyanto resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil menyusul polemik penetapan status tersangka terhadap Hogi Minaya, yang justru diproses hukum setelah berusaha […]

  • Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang

    Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Sebagai salah seorang warganegara yang terlahir di tanah Molalahu, saya terkejut membaca postingan yang dibagikan warganet di media sosial, menyayat hati. Tentang aktivitas liar, mencabik-cabik bumi tanah leluhur. Kabar itu seketika menjadi viral. Berbagai komentar penolakan berseliweran di jagad maya, seturut viralnya 100 ribu rupiah ongkos naik bentor pada acara Penas Tani dan Nelayan Ke […]

  • Tradisi Ketupat, Wahdah Islamiyah Gorontalo dan Tuduhan tak Berdasar

    Tradisi Ketupat, Wahdah Islamiyah Gorontalo dan Tuduhan tak Berdasar

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2022
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 290
    • 0Komentar

    Baru siang tadi, beredar flyer podcast dengan judul “Meluruskan Tradisi Perayaan Ketupatan” yang diselenggarakan oleh Mimoza Podcast Gorontalo via Whatsapp. Podcast itu menghadirkan Ust. Ishak Bakari, ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Gorontalo sebagai narasumber kunci dan dimoderatori langsung oleh Nurhadi Taha. Ketika melihatnya saya kaget bukan main. Judul podcast ini provokatif: kata awal […]

  • Empat Desa di Molalahu Mulolo Merajut Ingatan Bersama di Tengah Isu Lingkungan

    Empat Desa di Molalahu Mulolo Merajut Ingatan Bersama di Tengah Isu Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 450
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Gorontalo – Komunitas Molalahu Mulolo yang digagas oleh mantan aktivis tahun 2000 menggelar pertemuan bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, dan generasi muda di Aula Kantor Desa Molalahu, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 2 Juli 2026. Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 tokoh dari empat desa, yakni Molalahu, Molamahu, Toyidito, dan Ayumolingo, ini menjadi ruang konsolidasi bersama […]

  • Sasar Kotak Amal Masjid, Tiga Remaja Diciduk Tim Resmob Polda Gorontalo

    Sasar Kotak Amal Masjid, Tiga Remaja Diciduk Tim Resmob Polda Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim Opsnal Resmob/Analis Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Gorontalo menciduk tiga remaja yang diduga terlibat dalam aksi pencurian kotak amal Masjid Jami Sabilil Huda, Jalan Ahmad A. Wahab, Desa Pantungo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Jumat (9/1/2026). Penangkapan tersebut merupakan tindak lanjut atas Laporan Polisi Nomor: LP/B/8/I/2026/SPKT Polda Gorontalo yang dilaporkan oleh […]

  • UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara dengan kampus-kampus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan pada acara Eid Al-Fitr Gathering yang diselenggarakan di Kalbis University, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan akademik antara UMK dengan institusi pendidikan Islam di Indonesia. […]

expand_less