Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

  • account_circle Nur Shollah Bek
  • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
  • visibility 335
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau organisasi.

Konsep ini sejalan dengan teori kepemimpinan modern yang menekankan transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu mengubah nilai, kesadaran, dan perilaku kolektif, bukan sekadar mengejar capaian jangka pendek. Dalam perspektif ini, pemimpin ideal adalah mereka yang mempengaruhi dengan keteladanan, bukan menundukkan dengan instruksi; menggerakkan dengan hikmah, bukan memecah dengan kepentingan.

Gus Dur: Representasi Kepemimpinan Ilmiah, Moral, dan Kemanusiaan

Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah contoh konkret dari kepemimpinan ala al-Ghazālī. Gus Dur bukan pemimpin yang membangun wibawa dari jarak dan kekakuan, melainkan dari kedalaman ilmu, keluasan pandangan, dan keberanian moral. Ia menempatkan NU sebagai rumah besar keilmuan, kebudayaan, dan kemanusiaan, bukan sekadar kendaraan kekuasaan.

Secara intelektual, Gus Dur adalah ulama kosmopolit—menguasai tradisi pesantren, literatur klasik Islam, sekaligus pemikiran modern dan demokrasi. Secara keagamaan, ia teguh memegang prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, namun menolak menjadikannya alat eksklusivisme. Dan secara akhlak, Gus Dur dikenal sebagai pribadi yang memaafkan, merangkul, dan mengedepankan kemaslahatan di atas ego kelompok.

Inilah kepemimpinan yang menyembuhkan, bukan melukai; mempersatukan, bukan mempertajam konflik.

Pergeseran Keteladanan dalam Kepemimpinan PBNU

Dalam konteks kekinian, sebagian warga Nahdliyyin merasakan adanya pergeseran orientasi kepemimpinan PBNU. Dari kepemimpinan yang dahulu bertumpu pada moralitas, keilmuan, dan kearifan jam’iyah, menuju kecenderungan yang lebih elitis, pragmatis, dan politis. Bukan berarti seluruh capaian organisasi harus dinafikan, namun evaluasi kritis tetap diperlukan agar NU tidak tercerabut dari ruh pendiriannya.

Al-Ghazālī mengingatkan bahwa kerusakan pemimpin akan melahirkan kerusakan yang lebih luas, sebab masyarakat cenderung mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemimpinnya. Ketika keteladanan melemah, kepercayaan pun perlahan terkikis. Ketika kebijaksanaan digantikan oleh manuver, maka yang tumbuh bukan keberkahan, melainkan kegaduhan.

NU dan Tantangan Kepemimpinan Moral

Sebagai organisasi keagamaan terbesar, NU sejatinya memikul tanggung jawab moral yang besar: menjaga keseimbangan antara agama, negara, dan kemanusiaan. Kepemimpinan PBNU idealnya kembali pada prinsip al-Ghazālī: memadukan ilmu, iman, dan akhlak; menjadikan jabatan sebagai sarana khidmah, bukan simbol kuasa.

Belajar dari Gus Dur, NU tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, tetapi pemimpin yang jujur pada nilai, berani menegur diri sendiri, dan mau mendengar suara jamaah. Sebab dalam tradisi pesantren, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling tinggi posisinya, melainkan siapa yang paling bermanfaat dan memberi teladan.

Evaluasi kepemimpinan PBNU bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan wujud cinta dan tanggung jawab moral sebagai bagian dari jam’iyah. Sebagaimana pesan al-Ghazālī, dan telah dipraktikkan oleh Gus Dur, pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menerangi jalan, bukan sekadar berdiri di depan; yang menyembuhkan luka sosial, bukan menambahnya.

NU akan tetap besar bukan karena struktur kekuasaannya, tetapi karena keteladanan para pemimpinnya—yang berpijak pada ilmu, disinari agama, dan dimuliakan oleh akhlak.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah Bek
  • Editor: Nur Shollah Bek

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjaga Marwah Ulama, Merawat Khitah NU: Menguji Nalar Hukum atas Laporan terhadap KH Musta’in Syafi’i

    Menjaga Marwah Ulama, Merawat Khitah NU: Menguji Nalar Hukum atas Laporan terhadap KH Musta’in Syafi’i

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 125
    • 0Komentar

      Oleh Fathurrahman Marzuki, S.H.,M.H (Advokat/Alumni Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang Jawa Timur/Ketua Bidang Kerohanian dan Kerukunan Antar Ummat Beragama Dewan Pimpinan Cabang PERADI Makassar) NULONDALO.COM – Laporan yang dilayangkan oleh Gerakan Tabayun Advokasi dan Keadilan (GERTAK) ke Bareskrim Polri terhadap ulama dan akademisi pesantren Tebuireng, KH. Musta’in Syafi’i, terkait materi ceramah menjelang Muktamar […]

  • Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo menyampaikan apresiasi atas dukungan internasional dalam upaya percepatan penurunan stunting. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, yang mewakili Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, dalam acara penyerahan bantuan oleh Branch Singapore Aid kepada 150 keluarga berisiko stunting di Kota Gorontalo. Kegiatan ini merupakan bagian dari […]

  • Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 427
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kapal nelayan, KM Elnas III, dilaporkan mengalami mati mesin saat beroperasi di perairan Teluk Tomini. Beruntung, seluruh awak kapal berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Kejadian ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rahman, pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, KM Elnas […]

  • Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar— Malam itu, langit Pambusuang tampak pekat. Rinai hujan turun perlahan, seolah menyapa tanah yang basah dengan kelembutan. Usai salat Magrib, meski langit masih gelap, hujan mulai reda. Di depan Masjid At-Taqwa, panggung berukuran 4 x 4 meter ditata dengan cermat. Pengeras suara yang sejak sore terbungkus terpal dibuka, sementara beberapa ruas jalan […]

  • Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 388
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi Lebaran Ketupat di kawasan Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo, resmi dimulai dengan pelaksanaan doa Bado Ketupat yang berlangsung khidmat di Masjid Al Muttaqin, Sabtu (28/03/2026). Prosesi religius ini dihadiri langsung oleh Sofyan Puhi, didampingi Tonny S. Junus serta Sugondo Makmur. Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi yang […]

  • Intelektual Muda NU Kritik Pengelolaan Anggaran: Rakyat Bayar Pajak, Jangan Diminta Menalangi Program Negara

    Intelektual Muda NU Kritik Pengelolaan Anggaran: Rakyat Bayar Pajak, Jangan Diminta Menalangi Program Negara

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, menilai sejumlah pernyataan pejabat publik belakangan ini menunjukkan persoalan yang lebih mendasar dalam tata kelola pemerintahan. Hal yang menjadi sorotan Aras yakni lemahnya disiplin komunikasi publik dan munculnya persepsi publik mengenai menurunnya akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Menurut Aras, […]

expand_less