Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 184
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah-kisah tentang keluarga miskin yang  berhasil menyekolahkan anaknya hingga mencetak sarjana bahkan sampai meraih gelar doktor, selalu mengalirkan inspirasi.  Di media sosial ceritanya memantik perhatian yang tinggi. Narasinya dibagikan berulang-ulang. Orang menanggapinya dengan pujian dan rasa haru. Keberhasilan  orang-orang miskin itu menorehkan kesan yang kuat. Sebab mereka meraih sarjana dengan perjuangan yang berdarah-darah. Ada yang orang tuanya hanya buruh tani, payabo-yabo (pemulung), pembantu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menunjukkan mereka dari kelas bawah.  Simaklah kisah Siti Soleha, siswa dari Indramayu yang orang tuanya hanya buruh tani, tetapi bisa tembus kulih S2 Northeast Normal University, China. Orang tuanya dan dia sendiri harus jungkir balik untuk bisa terus mengecap pendidikan. Di lain tempat ada cerita tentang Chanita, demi dia agar bisa merengkuh cita-cita merebut gelar sarjana, kakaknya memilih putus  sekolah.

Kisah-kisah itu memang menginspirasi, bahwa orang miskin pun tidak kalah dengan mereka yang sejak kecil bergelimang harta. Tidak ada bedanya anak yang sarapan pizza dengan bocah yang  makan seadanya. Jika punya tekad yang kuat, dan semangat juang yang tingi, anak dari kalangan miskin juga bisa bersaing tanpa henti.  Tetapi betulkah demikian? Saya rasa di sinilah tersembunyi satu persoalan besar. Anak-anak  miskin itu dipuji setelah lulus, tapi dilupakan saat berjuang. Keberhasilan anak miskin menjadi sarjana, seolah-olah menunjukkan bahwa di negeri ini siapa pun berhak mendapatkan pendidikan yang layak, padahal senyatanya tidak.  Yang miskin memang bisa menjadi sarjana, bahkan ada yang tembus bertitel doktor, tetapi mereka harus merebut itu.  Catat!  ‘Merebut’, kawan, bukan menerima. Artinya sistem belum memberikan ruang bagi anak miskin untuk secara mudah mendapatkan gelar sarjana. Mereka harus berjibaku. Akses mereka terhadap pendidikan yang layak tidak terbuka. Michael P. Todaro, seorang ekonom, menegaskan bahwa semakin rendah status ekonomi seseorang, semakin sulit baginya untuk mengakses fasilitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan, termasuk pendidikan.

Kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Yang kaya bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas serba lengkap. Belajar dengan pendingin udara, alat pembelajaran berteknologi tinggi, serta diajar oleh guru lulusan universitas luar negeri. Sementara anak orang miskin hanya bisa duduk di bangku sekolah yang rapuh, gedung sekolahnya doyong, dan menulis di buku yang lecek.

Ketika anak-anak dari keluarga mapan melesat mulus dengan bimbingan belajar, sekolah internasional, dan beasiswa luar negeri sejak SMP, maka anak-anak keluarga miskin tidak hanya belajar, tapi juga bertahan hidup. Seturut kata Wai Poi (2016) persoalannya adalah titik berangkat antara anak-anak orang kaya dan orang miskin yang tidak sama. Kesempatan mendapatkan akses pendidikan yang baik, kesehatan dan gizi yang bagus  tidak mudah diperoleh oleh anak-anak miskin. Sementara anak-anak orang kaya  dengan mudah mendapatkan fasilitas itu.

Jika start-nya jelas tak sama,  lalu di mana letak keadilannya? Apa yang dibayangkan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan sebagai alat pembebasan., rasanya semakin ke sini semakin kabur. Hari ini, pendidikan lebih mirip seleksi alam. Siapa kuat, bertahan dan terus melaju ke jenjang berikutnya. Yang tak punya cukup bekal, silahkan tersingkir, takdirmu bukan di dunia sekolah. Apalagi seperti diramalkan Piketty, masa depan ekonomi bisa saja bertumbuh, tetapi kesenjangan akan semakin menganga. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara bisa jadi semakin sulit.

Di saat kita memperingati Hari Pendidikan 2 Mei ini, diiringi kisah-kisah yang membanggakan dari anak-anak miskin yang berhasil meraih gelar sarjana atau melanjutkan kuliah di negeri seberang, kita harus kembali merenung: ‘ketika anak-anak miskin itu harus berjibaku sendiri agar bisa sekolah, berarti negara belum hadir untuk mereka. Seluruh anak Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak dan akses yang setara. Untuk itu negara jangan tanggung-tanggung membiayai dunia pendidikan. Bukan sekadar berbagai makan bergizi untuk memenuhi janji kampanye. Jangan sampai adagium “Orang Miskin dilarang Sekolah” betul-betul nyata adanya.

Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fleksibilitas

    Fleksibilitas

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi. Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja […]

  • Dorong Zakat di Bidang Pertanian, BAZNAS Bantu Petani Binaan PWNU Gorontalo

    Dorong Zakat di Bidang Pertanian, BAZNAS Bantu Petani Binaan PWNU Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 220
    • 0Komentar

      Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Gorontalo (PWNU) menjalin kerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Gorontalo di bidang Zakat Pertanian. Mengingat potensi zakat di Indonesia tahun 2024 diperkirakan Rp41 triliyun. Kerjasama tersebut ditandai penandatanganan  Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kejasama (PKS) kedua belah pihak, Rabu (18/12/2024), bertempat di Kantor BAZNAS Provinsi Gorontalo, Jalan HB. […]

  • Pintraco Sekuritas Dorong Literasi Investasi Halal di Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo

    Pintraco Sekuritas Dorong Literasi Investasi Halal di Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Pintraco Sekuritas hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Seminar Pasar Modal Syariah bertajuk “Investasi Itu Mudah dan Waspada Investasi Ilegal” yang menjadi bagian dari Pekan Ekonomi Syariah di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Gorontalo, (Rabu 29/10/ 2025) Seminar ini menghadirkan Sugiman, perwakilan Pintraco Sekuritas, sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan pentingnya memahami investasi syariah sebagai […]

  • Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.506
    • 1Komentar

    nulondalo.com –  Polemik mengenai pembagian hewan kurban Presiden Prabowo Subianto menggunakan dana APBN terus memantik perdebatan publik. Di tengah silang pendapat antara pihak yang mengkritik dan membela kebijakan tersebut, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menyampaikan pandangannya secara kritis. Menurut Gus Aniq, sejumlah pihak mencoba membenarkan […]

  • Yayasan As Salam Terpadu Tenjo Buka PMBM 2026/2027, Siapkan Generasi Unggul Berbasis Nilai Islam

    Yayasan As Salam Terpadu Tenjo Buka PMBM 2026/2027, Siapkan Generasi Unggul Berbasis Nilai Islam

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 258
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Yayasan As Salam Terpadu Tenjo resmi membuka Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) untuk Tahun Pelajaran 2026/2027. Pendaftaran dibuka mulai Maret hingga Juli 2026 untuk tiga jenjang pendidikan, yakni Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Pembukaan PMBM ini merupakan bagian dari komitmen yayasan dalam memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas, […]

  • BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025 yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo resmi ditutup dengan seminar bertema “Skema Pembiayaan Melawan Rentenir”, Kamis (30/10/2025). Acara yang berlangsung di pelataran Kantor PWNU Gorontalo ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan PES yang telah diselenggarakan sejak 28 Oktober 2025. Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari […]

expand_less