Breaking News
light_mode
Trending Tags

Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 111
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah-kisah tentang keluarga miskin yang  berhasil menyekolahkan anaknya hingga mencetak sarjana bahkan sampai meraih gelar doktor, selalu mengalirkan inspirasi.  Di media sosial ceritanya memantik perhatian yang tinggi. Narasinya dibagikan berulang-ulang. Orang menanggapinya dengan pujian dan rasa haru. Keberhasilan  orang-orang miskin itu menorehkan kesan yang kuat. Sebab mereka meraih sarjana dengan perjuangan yang berdarah-darah. Ada yang orang tuanya hanya buruh tani, payabo-yabo (pemulung), pembantu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menunjukkan mereka dari kelas bawah.  Simaklah kisah Siti Soleha, siswa dari Indramayu yang orang tuanya hanya buruh tani, tetapi bisa tembus kulih S2 Northeast Normal University, China. Orang tuanya dan dia sendiri harus jungkir balik untuk bisa terus mengecap pendidikan. Di lain tempat ada cerita tentang Chanita, demi dia agar bisa merengkuh cita-cita merebut gelar sarjana, kakaknya memilih putus  sekolah.

Kisah-kisah itu memang menginspirasi, bahwa orang miskin pun tidak kalah dengan mereka yang sejak kecil bergelimang harta. Tidak ada bedanya anak yang sarapan pizza dengan bocah yang  makan seadanya. Jika punya tekad yang kuat, dan semangat juang yang tingi, anak dari kalangan miskin juga bisa bersaing tanpa henti.  Tetapi betulkah demikian? Saya rasa di sinilah tersembunyi satu persoalan besar. Anak-anak  miskin itu dipuji setelah lulus, tapi dilupakan saat berjuang. Keberhasilan anak miskin menjadi sarjana, seolah-olah menunjukkan bahwa di negeri ini siapa pun berhak mendapatkan pendidikan yang layak, padahal senyatanya tidak.  Yang miskin memang bisa menjadi sarjana, bahkan ada yang tembus bertitel doktor, tetapi mereka harus merebut itu.  Catat!  ‘Merebut’, kawan, bukan menerima. Artinya sistem belum memberikan ruang bagi anak miskin untuk secara mudah mendapatkan gelar sarjana. Mereka harus berjibaku. Akses mereka terhadap pendidikan yang layak tidak terbuka. Michael P. Todaro, seorang ekonom, menegaskan bahwa semakin rendah status ekonomi seseorang, semakin sulit baginya untuk mengakses fasilitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan, termasuk pendidikan.

Kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Yang kaya bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas serba lengkap. Belajar dengan pendingin udara, alat pembelajaran berteknologi tinggi, serta diajar oleh guru lulusan universitas luar negeri. Sementara anak orang miskin hanya bisa duduk di bangku sekolah yang rapuh, gedung sekolahnya doyong, dan menulis di buku yang lecek.

Ketika anak-anak dari keluarga mapan melesat mulus dengan bimbingan belajar, sekolah internasional, dan beasiswa luar negeri sejak SMP, maka anak-anak keluarga miskin tidak hanya belajar, tapi juga bertahan hidup. Seturut kata Wai Poi (2016) persoalannya adalah titik berangkat antara anak-anak orang kaya dan orang miskin yang tidak sama. Kesempatan mendapatkan akses pendidikan yang baik, kesehatan dan gizi yang bagus  tidak mudah diperoleh oleh anak-anak miskin. Sementara anak-anak orang kaya  dengan mudah mendapatkan fasilitas itu.

Jika start-nya jelas tak sama,  lalu di mana letak keadilannya? Apa yang dibayangkan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan sebagai alat pembebasan., rasanya semakin ke sini semakin kabur. Hari ini, pendidikan lebih mirip seleksi alam. Siapa kuat, bertahan dan terus melaju ke jenjang berikutnya. Yang tak punya cukup bekal, silahkan tersingkir, takdirmu bukan di dunia sekolah. Apalagi seperti diramalkan Piketty, masa depan ekonomi bisa saja bertumbuh, tetapi kesenjangan akan semakin menganga. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara bisa jadi semakin sulit.

Di saat kita memperingati Hari Pendidikan 2 Mei ini, diiringi kisah-kisah yang membanggakan dari anak-anak miskin yang berhasil meraih gelar sarjana atau melanjutkan kuliah di negeri seberang, kita harus kembali merenung: ‘ketika anak-anak miskin itu harus berjibaku sendiri agar bisa sekolah, berarti negara belum hadir untuk mereka. Seluruh anak Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak dan akses yang setara. Untuk itu negara jangan tanggung-tanggung membiayai dunia pendidikan. Bukan sekadar berbagai makan bergizi untuk memenuhi janji kampanye. Jangan sampai adagium “Orang Miskin dilarang Sekolah” betul-betul nyata adanya.

Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Ketua SEMA-HABAR (Sentral Mahasiswa Halmahera Barat), Riwan Basir menyampaikan harapannya kepada Bupati Halmahera Barat, James Uang yang baru terpilih dan baru saja dilantik beberapa hari lalu agar lebih memperhatikan berbagai aspek pembangunan di kabupaten Hal-bar. Ketua Sentral Mahasiswa menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur, terutama jalan, sekolah, rumah sakit, transportasi umum, serta pengelolaan pasar yang lebih baik. […]

  • Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah

    Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Hamzah Durisa
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Senja turun perlahan di pesisir Mandar bukanlah perkara jarang ditemukan. Langit memerah di atas laut, dan perahu-perahu nelayan kembali dengan layar yang mulai dilipat merupakan penghias keseharian hidup orang Mandar. Di sela desir angin laut, terdengar adzan Magrib memanggil dari masjid kampung. Suaranya lembut, tetapi tegas—seperti panggilan yang sudah akrab sejak kecil. Orang-orang berhenti sejenak. […]

  • Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 276
    • 0Komentar

    Amanah sering kita dengar di khutbah Jumat atau ceramah Ramadan. Ia terdengar khidmat, tapi juga kadang terasa jauh dari kehidupan politik sehari-hari. Amanah seolah dipindahkan ke ruang ibadah, sementara di ruang kekuasaan ia diperlakukan seperti barang opsional—dipakai kalau perlu, ditinggalkan kalau mengganggu kepentingan. Padahal republik tidak berdiri hanya dengan undang-undang dan birokrasi. Ada kontrak tak […]

  • Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 160
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros — Seorang anak berinisial MA (8), warga Lingkungan Allu, Kelurahan Baji Pamai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah menjadi korban petasan rakitan. Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, khususnya pemerintah kecamatan dan elemen masyarakat sipil. Sebagai wujud kepedulian terhadap warganya, Camat […]

  • Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Umat Islam di Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi kemungkinan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Perbedaan tersebut dipicu oleh kondisi astronomis hilal yang belum memenuhi kriteria kesepakatan regional pada saat pemantauan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan […]

  • DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024 untuk menjadi perda. Hal tersebut dibahas pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Gorontalo ke-28, Selasa (8/7/2025). “Alhamdulillah, antara tim anggaran pemerintah dan badan anggaran serta para anggota dewan yang terhormat, kita bersepakat bahwa […]

expand_less