Generasi Stroberi: Fakta atau Stigma?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada pola yang terus berulang dalam setiap fase zaman. Biasanya, generasi terdahulu menjustifikasi generasi setelahnya. Setiap peralihan era selalu akrab dengan kalimat semacam ini: “Generasi sekarang tidak seperti dulu, mereka sekarang….” Titik-titik itu hampir selalu diisi dengan narasi yang menegaskan keunggulan masa lalu sekaligus meragukan masa kini.
Dulu, saya akrab dengan ceramah Zainuddin MZ yang menyebut generasi muda sedang mengalami dekadensi moral. Generasi muda yang dimaksud adalah kami, generasi X dan awal generasi Y. Generasi yang hari ini justru memegang kendali sosial dan moral di Indonesia. Yang dikhawatirkan oleh Zainuddin MZ tidak sepenuhnya terjadi, generasi X berhasil melewati zaman dan tampil menjadi pemimpin di berbagai sektor kehidupan. Guru-guru senior saat ini adalah generasi X.
Hari ini, pola yang sama muncul kembali dalam istilah yang terdengar ringan namun sarat bias: Generasi Stroberi. Kita—terutama Generasi X dan Y—kerap menyebut Generasi Z sebagai generasi yang indah di luar, tetapi rapuh secara mental dan mudah surut ketika menghadapi tekanan.
Tetapi benarkah demikian?
Untuk menjawabnya, kita tidak cukup hanya mengandalkan kesan atau nostalgia. Kita perlu melihatnya sebagai fenomena yang lebih mendalam. Kita bisa meminjam teori Michel Foucault tentang diskontinuitas sejarah, bahwa setiap zaman memiliki cara sendiri dalam memproduksi kebenaran dan membentuk identitas melalui relasi kuasa.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar