Generasi Stroberi: Fakta atau Stigma?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 66
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Fenomena ini adalah fenomena global. Di berbagai tempat, muncul komunitas-komunitas kritis dari kalangan Generasi Z—mereka yang aktif dalam isu lingkungan, keadilan sosial, hingga kebebasan berekspresi. Gaya mereka mungkin berbeda: lebih cair, lebih digital, lebih ekspresif. Namun perbedaan gaya tidak bisa disederhanakan sebagai kelemahan.
Di titik inilah label “Generasi Stroberi” mulai runtuh. Ia gagal membaca kompleksitas realitas. Ia hanya menangkap permukaan—ekspresi emosional, gaya komunikasi, preferensi hidup—tanpa memahami struktur tekanan yang dihadapi generasi ini.
Jika kita melihat lebih jernih, setiap generasi bukanlah versi yang lebih buruk atau lebih baik dari generasi sebelumnya. Mereka adalah respons atas tantangan zamannya masing-masing. Generasi yang tumbuh dalam kekurangan belajar bertahan melalui kesabaran. Generasi yang tumbuh dalam kelebihan belajar bertahan melalui seleksi, negosiasi, dan kemampuan mengelola kompleksitas.
Karena itu, menyebut Generasi Z dan Alpha sebagai “stroberi” bukan hanya penyederhanaan, tetapi juga kegagalan membaca perubahan. Ia, boleh jadi, hanyalah nostalgia yang menyamar sebagai analisis.
Yang kita butuhkan bukanlah label, melainkan kesadaran bersama bahwa setiap generasi hidup dalam kompleksitas yang berbeda. Biarkan setiap generasi membentuk diri mereka sendiri dan menjawab tantangan hidup dengan cara yang mereka pilih.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar