Generasi Stroberi: Fakta atau Stigma?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap generasi lahir dalam lanskap yang berbeda dan terlihat terputus atau diskontinu. Generasi X tumbuh dalam keterbatasan informasi; Generasi Y berkembang dalam masa transisi digital; Generasi Z hidup dalam banjir informasi; sementara Generasi Alpha berada dalam dunia yang sepenuhnya dimediasi oleh algoritma. Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara bertahan hidup.
Namun, diskontinuitas ini tidak berarti keterputusan total. Ia justru membentuk kesinambungan yang kompleks—continuity in discontinuity. Setiap generasi tetap terhubung dalam arus sejarah yang sama, tetapi menghadapi medan tempur yang berbeda.
Masalah muncul ketika konteks medan tempur ini disederhanakan. Ketika ketahanan fisik dan kesabaran—yang menjadi kekuatan Generasi X—dijadikan standar, maka generasi yang hidup dalam tekanan psikologis yang lebih subtil akan tampak “lemah”. Padahal, Generasi Z dan Alpha tidak hidup dalam dunia yang lebih mudah; mereka hidup dalam dunia yang lebih kompleks: dunia dengan ekspektasi digital yang tak pernah padam, krisis identitas yang terus dinegosiasikan, serta tekanan sosial yang bekerja secara simultan dan sering kali tak kasat mata.
Label “stroberi” menjadi semakin problematis ketika dihadapkan pada realitas empiris. Peristiwa di Nepal, misalnya, menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok muda dari Generasi Z justru tampil sebagai aktor kritis dalam merespons dinamika sosial dan politik. Mereka tidak menunjukkan kerapuhan, melainkan keberanian—mengartikulasikan ketidakadilan, mengorganisir diri, dan menuntut perubahan. Dan, dalam banyak hal, mereka berhasil.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar