Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Senin, 29 Des 2025
  • visibility 431
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ingatan manusia sering kali tertuju pada hal-hal yang dianggap penting. Jika pernyataan ini benar, maka muncul pertanyaan: apakah kecenderungan ini termasuk dalam ranah emosi atau hal yang bersifat rasional?

Banyak yang berpendapat bahwa ini lebih berkaitan dengan emosi. Sebab, ketika seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang bermakna secara pribadi, emosional, atau bernilai subjektif, itu menunjukkan bahwa ingatan dipengaruhi oleh perasaan dan kepentingan pribadi.

Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai motivated memory atau emotional salience; yakni kecenderungan otak untuk lebih kuat menyimpan informasi yang menyentuh emosi atau relevan secara pribadi dibandingkan informasi yang netral. Hal ini berkaitan erat dengan motivasi, keinginan, dan perasaan semua elemen yang berada dalam ranah emosi.

Sebaliknya, proses rasional merujuk pada cara berpikir yang logis, objektif, dan berbasis analisis. Jika seseorang lebih mengingat informasi karena logika atau akurasi, maka barulah itu masuk dalam kategori rasional. Dengan demikian, kita dapat melihat adanya tipologi manusia dalam mengingat: ada yang cenderung emosional, ada pula yang rasional.

Ingatan emosional bersifat alami dan spontan, sementara ingatan rasional memerlukan strategi belajar agar bertahan lama. Mengulang pelajaran atau membaca ulang adalah bagian dari strategi tersebut.

Asumsusi, Makna dan Konteks

Dari sini, mungkin menarik jika kita melangkah lebih jauh ke persoalan bagaimana makna terbentuk dalam pikiran manusia? Pada umumnya, asumsi memainkan peran penting dalam memaknai dan memahami sesuatu.

Meskipun asumsi merupakan proses kognitif yang berpijak pada dugaan awal tanpa dukungan bukti yang akurat, namun ia tetap memiliki kekuatan untuk membentuk makna, kendati makna yang dihasilkan dari asumsi tersebut belum tentu mencerminkan kebenaran objektif.

Asumsi tumbuh dalam ruang ketidaktahuan, membentuk pemahaman awal yang memberi arah pada persepsi. Namun, makna yang lahir darinya bisa berubah, bergeser, bahkan runtuh, seiring hadirnya pengetahuan baru.

Asumsi adalah benih dari makna, dan makna itu sendiri rapuh, mudah berganti rupa ketika ada informasi baru menyapanya. Karenanya, makna sangat bergantung pada konteks, dan konteks selalu terkait dengan ruang dan waktu.

Misalnya, selembar kertas bekas yang tergeletak di meja bisa dianggap sebagai benda biasa. Namun, ketika dipindahkan ke tempat sampah, ia berubah menjadi sampah. Jika kemudian digunakan untuk membungkus kacang, maknanya pun berubah lagi. Ini menunjukkan bahwa makna tidak statis; ia terus bergerak mengikuti konteks.

Mereka yang mampu memahami konteks dengan luas tidak akan mudah terjebak dalam satu makna yang kaku. Mereka menyadari bahwa makna bersifat dinamis dan bergantung pada sudut pandang serta situasi.

Betapa pentingnya memahami konteks, sebab tidak jarang sebuah narasi memiliki makna ganda. Dalam petuah Mandar, misalnya, terdapat ungkapan: Mate di batang, tammate di pau-pau (Jasadnya telah tiada, namun cerita tentangnya tiada henti).

Bagi sebagian orang Mandar memaknai, ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang semasa hidupnya berbuat jahat, sehingga kisah tentang mereka terus bergema dalam nada kecaman. Namun, bagi yang lain, ungkapan tersebut adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang baik yang kisah kebaikannya terus hidup.

Jebakan Asumsi

Kedua tafsir atau pemaknaan tersebut tentu saja sah, karena semuanya berpulang pada konteks yang melatarinya. Inilah mengapa teori the map is not the territory (peta bukan wilayah) menjadi relevan. Peta, asumsi, atau paradigma tidak pernah benar-benar mewakili kenyataan secara utuh.

Ibarat gambar menu makanan, ia tidak akan pernah bisa mewakili rasa yang sesungguhnya. Kita sering kecewa saat makanan yang datang tidak sesuai dengan gambar di menu, disebabkan karena kita terlalu percaya pada asumsi yang terbangun di kepala.

Fakta lain, kita sering kali menghakimi sesuatu berdasarkan pengalaman terbatas. Misalnya, jika pernah makan nasi goreng yang terlalu asin, kita bisa saja reaktif menganggap semua nasi goreng asin. Padahal, itu hanyalah satu pengalaman dari sekian banyak kemungkinan.

Karenanya, untuk mengatasi jebakan asumsi, kita perlu bertanya dan mengalami langsung. Apapun itu, menu bukan rasa, dan Kekecewaan sering kali terjadi bukan semata karena perasaan, melainkan karena kita terlalu percaya pada asumsi yang belum tentu benar. Maka, memahami konteks dan membuka diri terhadap pengalaman baru adalah kunci untuk membebaskan diri dari makna yang menyesatkan.

(Penulis adalah Korwil GUSDURian Sulampapua)

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abdullah bin Salam: Seorang Rabbi yang Mengenali Kebenaran (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #23)

    Abdullah bin Salam: Seorang Rabbi yang Mengenali Kebenaran (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #23)

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 364
    • 0Komentar

    Abdullah bin Salam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari kalangan Yahudi di Madinah. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai seorang rabbi, sebutan untuk pemimpin agama Yahudi yang memahami Taurat dan hukum-hukum keagamaan Bani Israil. Ia berasal dari Bani Qaynuqa’, salah satu komunitas Yahudi yang tinggal di Madinah sebelum kedatangan Nabi. Nama aslinya sebelum […]

  • Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 355
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Suasana pagi itu berbeda dari biasanya di Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Deretan santri dan pengurus duduk rapi di auditorium pesantren, bukan untuk mengaji kitab kuning seperti hari-hari sebelumnya, melainkan untuk menyimak sesuatu yang selama ini jarang menjadi pembahasan di lingkungan pesantren: literasi keuangan syariah. Pada Sabtu, 9 Mei 2025, Bank […]

  • Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

    Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Perdebatan mengenai bentuk negara tidak pernah benar-benar usai. Ia muncul kembali setiap kali ketimpangan pembangunan melebar, distribusi sumber daya dipersoalkan, atau hubungan pemerintah pusat dan daerah dipenuhi rasa saling curiga. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apakah Indonesia harus tetap menjadi negara kesatuan, melainkan apakah pola penyelenggaraannya yang masih menyisakan watak sentralistik masih memadai untuk […]

  • Heboh Tumpukan Potongan Uang di TPS Liar Setu Bekasi, Ini Penjelasan Polisi dan BI

    Heboh Tumpukan Potongan Uang di TPS Liar Setu Bekasi, Ini Penjelasan Polisi dan BI

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    nulondalo.com, BEKASI –  Warga Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, dihebohkan dengan temuan tumpukan potongan uang pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu di sebuah tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Desa Taman Rahayu. Peristiwa ini menjadi viral setelah video amatir yang memperlihatkan karung berisi cacahan uang bercampur sampah beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, potongan […]

  • Inilah Pengurus Baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia Gorontalo

    Inilah Pengurus Baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Para pelaku usaha perbenihan di Provinsi Gorontalo resmi membentuk dan memilih pengurus baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia (Asbenindo). Kegiatan ini dihadiri oleh penangkar, produsen benih, serta pengawas benih tanaman dari berbagai kabupaten/kota. Melalui proses pemilihan yang berlangsung secara aklamasi, terpilih sebagai pengurus baru Ketua: Ervan Baga, Wakil Ketua: Umar Etango, Sekretaris: Hitler Datau, dan Bendahara: […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 465
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

expand_less