Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ketika Alam Bicara

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 371
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Alam kembali bersuara. Kali ini, ia berteriak lantang lewat banjir bandang dan tanah lonsor yang meluluhlantakkan pemukiman warga di tiga provinsi; Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bukan hanya rumah dan harta benda yang hanyut dan tertimbun, tetapi juga nyawa manusia yang tak bersalah.

Berdasarkan data yang dilansir BNPB,  29 November 2025, total 303 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 279 dinyatakan hilang. Duka menyelimuti, dan kita kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: alam yang selama ini kita abaikan, kini seolah menagih perhatian.

Fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Meski banjir bandang bukan hal baru di negeri ini, kita tak kunjung belajar. Kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia terus terjadi, seolah menjadi bagian dari rutinitas yang tak pernah dipersoalkan secara serius.

Hutan-hutan ditebang tanpa kendali, bukit-bukit digunduli demi tambang dan pembangunan, sungai-sungai tersumbat oleh limbah dan sampah. Lalu ketika bencana datang, kita terkejut, panik, dan mencari kambing hitam.

Sebagian orang menyebut ini sebagai takdir. Namun, benarkah semua ini semata-mata kehendak Tuhan? Atau justru kita sendiri yang menciptakan jalan menuju kehancuran? Ketika alam dieksploitasi tanpa jeda, ketika keseimbangan ekosistem diabaikan, maka bencana hanyalah soal waktu.

Cuaca ekstrem kerap dijadikan alasan utama. Padahal, akar masalahnya lebih dalam: perilaku manusia yang tak kunjung berubah. Kita terlalu sibuk membangun, menggali, dan menebang, tanpa memikirkan dampaknya.

Usulan DPRD setempat untuk menginvestigasi penyebab banjir patut diapresiasi. Namun, mengapa langkah seperti ini selalu datang terlambat, setelah semuanya hancur?

Kita hidup dalam budaya reaktif, bukan preventif. Kesadaran kita baru muncul ketika bencana sudah terjadi. Kita jarang menggunakan imajinasi untuk membayangkan skenario terburuk, apalagi mengambil langkah nyata untuk mencegahnya. Padahal, membayangkan masa depan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.

Bencana alam yang terjadi di tiga wilayah di Sumatera adalah alarm keras yang seharusnya menggugah nurani kita. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi semata. Kita harus mulai memperlakukannya sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Bukan hanya demi hari ini, tetapi demi anak cucu kita kelak.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita mau mendengar dan belajar dari setiap peristiwa yang terjadi?

Penulis: Suaib Prawono
(Warga biasa; Pekerja Sosial di Jaringan GUSDURian)

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arus Mudik Leberan Berjalan Lancar, DPP GENINUSA Berikan Apresiasi Menteri Perhubungan dan Polri

    Arus Mudik Leberan Berjalan Lancar, DPP GENINUSA Berikan Apresiasi Menteri Perhubungan dan Polri

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Lancarnya arus mudik lebaran tahun 2025, mendapat respon dari Zikal Okta Syahtria, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA). Ketum DPP GENINUSA memberikan apresiasi kepada pemerintah lewat kementerian perhubungan dan kepolisian republik indonesia yang telah memberikan keamanan dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga arus mudik lebaran di tahun 2025 dapat berjalan dengan lancar. […]

  • Sekjen Kemenag Dorong Pesantren Ambil Peran di Ruang Publik

    Sekjen Kemenag Dorong Pesantren Ambil Peran di Ruang Publik

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Pesantren tidak boleh berjalan di ruang hampa. Tradisi keilmuan yang kaya dan mendalam harus terus berdialog dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Pesan inilah yang ditekankan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, saat membuka Evaluasi Program Direktorat Pesantren Tahun 2025 di Tangerang Selatan, dikutip dari laman kemenag.go.id (15/12/2025). Di hadapan para pengelola dan pemangku […]

  • Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo mempercepat pembangunan Kantor Wali Kota baru dengan mulai melakukan pembongkaran bangunan di kawasan eks Terminal 42 Andalas. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menegaskan bahwa langkah awal difokuskan pada pembongkaran aset milik pemerintah agar proses pembangunan dapat segera berjalan. “Untuk sementara kita bongkar yang milik pemerintah kota dulu,” ujar Adhan usai […]

  • Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat. Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  […]

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 332
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

  • Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, BANDUNG — Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam mempercepat transformasi digital sektor kesehatan kembali ditunjukkan. Bupati Maros, Chaidir Syam, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP) Paramarta Bandung, Rabu (24/12/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Transmedic, sistem digital yang telah lebih dulu diimplementasikan […]

expand_less