Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
  • visibility 367
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan.

Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza, hal pertama yang ramai diklarifikasi pemerintah bukanlah peta jalan penyelesaian konflik, melainkan soal uang. Tenang, kata Menteri Luar Negeri. Ini bukan membership fee. Hanya iuran sukarela.

Frasa “iuran sukarela” adalah salah satu mahakarya diplomasi internasional. Ia terdengar bebas, tetapi sarat ekspektasi. Sukarela, tapi dianjurkan. Tidak wajib, tapi diharapkan. Tidak mengikat, tapi absen berarti tidak sopan. Perdamaian, rupanya, dijalankan dengan mekanisme yang sangat familiar bagi dunia birokrasi: halus di bahasa, keras di konsekuensi.

BoP Gaza dibentuk dengan tujuan yang sulit ditolak siapa pun: menyelesaikan konflik dan membiayai rekonstruksi. Namun justru dari tujuan mulia itu muncul pertanyaan paling jujur dan paling telanjang: siapa yang bayar? Uangnya dari mana? Pertanyaan ini adalah pengakuan diam-diam bahwa dalam tatanan global hari ini, keadilan tidak pernah benar-benar gratis. Yang gratis hanyalah pidato dan pernyataan sikap.

Indonesia, bersama Mesir dan Arab Saudi, diundang untuk duduk di meja perdamaian. Undangan semacam ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Mereka yang diajak bukan hanya yang bersuara lantang, tetapi juga yang dianggap cukup penting atau cukup mampu. Solidaritas kemanusiaan, dalam praktiknya, tetap harus melewati uji kelayakan finansial. Empati boleh universal, partisipasi tetap selektif.

Kebutuhan pemerintah untuk menegaskan bahwa tidak ada iuran tetap justru menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: publik sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana forum-forum internasional berubah menjadi ajang patungan global. Kursi di dewan, suara dalam forum, dan legitimasi moral sering kali datang sepaket dengan kontribusi finansial. Tidak tertulis dalam dokumen resmi, tetapi dipahami oleh semua yang terlibat.

Lebih ironis lagi, status “anggota selama tiga tahun” disampaikan seolah ini kontrak kerja sama, bukan misi kemanusiaan. Gaza, dengan segala luka dan kehancurannya, direduksi menjadi proyek multilateral dengan tenggat waktu, struktur kelembagaan, dan skema pendanaan. Di titik ini, penderitaan manusia tampak kalah cepat dibanding prosedur.

Satir terbesar dari situasi ini adalah bagaimana perdamaian selalu dipromosikan sebagai nilai universal, tetapi dikelola dengan logika eksklusif. Negara miskin diberi ruang untuk bersimpati, negara kuat diminta berpartisipasi. Yang satu menyumbang doa, yang lain menyumbang dana. Keduanya sama-sama disebut kontribusi, meski bobot dan risikonya tidak pernah benar-benar setara.

Di tengah keteraturan ini, penting untuk mengingat satu cara pandang yang sering absen dari meja-meja resmi, yakni cara pandang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi Gus Dur, Gaza tidak pernah dimulai dari peta geopolitik atau arsitektur forum internasional. Gaza dimulai dari wajah manusia; anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang hidup dalam kekerasan yang tidak mereka pilih.

Gus Dur percaya bahwa ketidakadilan terhadap rakyat Palestina adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Penjajahan adalah kejahatan moral, siapa pun pelakunya dan atas nama apa pun ia dilakukan. Namun pembelaan itu tidak pernah berubah menjadi kebencian membabi buta. Ia mengutuk kekerasan tanpa menutup pintu dialog, sebuah sikap yang sering dianggap ganjil di tengah dunia yang gemar memilih kubu.

Dalam cara berpikir Gus Dur, kemarahan yang tak dikelola justru menjadi bahan bakar kekerasan. Ia menolak melihat Gaza sebagai panggung pertarungan agama. Konflik Palestina–Israel terlalu sering disederhanakan menjadi Islam versus Yahudi, padahal akar persoalannya adalah kolonialisme, ketimpangan kekuasaan, dan kegagalan politik internasional. Ketika konflik direduksi menjadi identitas, korban sipil kehilangan tempat dalam narasi, dan penderitaan berubah menjadi alat legitimasi.

Karena itu Gus Dur memilih jalan yang tidak populer: dialog. Berbicara dengan musuh bukanlah pengkhianatan, melainkan syarat awal perdamaian. Memutus komunikasi, baginya, hanya memperpanjang derita. Perdamaian tidak lahir dari saling membungkam, tetapi dari keberanian membuka pintu, meski dengan risiko disalahpahami.

Gus Dur juga gelisah melihat bagaimana Gaza kerap diperlakukan sebagai simbol moral yang murah. Banyak pidato keras, banyak slogan heroik, tetapi sedikit strategi yang benar-benar menyentuh akar ketidakadilan. Solidaritas yang berhenti pada retorika, baginya, justru mengkhianati korban. Ia lebih mempercayai langkah sunyi yang konkret ketimbang teriakan yang hanya memuaskan emosi.

Indonesia tentu berhak merasa telah “ikut serta” dalam upaya perdamaian. Namun partisipasi tanpa keberanian politik hanya akan menjadikan kita penyokong sistem, bukan pengoreksinya. Gaza tidak hanya membutuhkan dana rekonstruksi, tetapi juga keberanian untuk mengatakan bahwa perdamaian tidak boleh direduksi menjadi proposal, apalagi dijual sebagai paket keanggotaan.

Jika perdamaian terus dikelola dengan cara seperti ini—lengkap dengan proposal di awal dan klarifikasi di akhir—maka satu hal patut dicatat, bahwa di dunia internasional, perang memang mahal, tetapi perdamaian tampaknya jauh lebih terorganisir.

Dan mungkin, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah perdamaian yang paling kita butuhkan hari ini adalah yang paling rapi strukturnya, atau yang paling setia menjaga martabat manusia?

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Presiden kepada jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) masa jabatan 2026–2031. Penyerahan SK dari Presiden Prabowo Subianto tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Momentum ini menandai dimulainya masa bakti 11 pimpinan Baznas yang akan menjalankan tugas selama lima tahun ke […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 221
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • CIMB Niaga dan IIJ Luncurkan Sustainability Journalism Fellowship 2026, Sediakan Dana Rp200 Juta untuk Jurnalis

    CIMB Niaga dan IIJ Luncurkan Sustainability Journalism Fellowship 2026, Sediakan Dana Rp200 Juta untuk Jurnalis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 300
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PT Bank CIMB Niaga Tbk bekerja sama dengan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) meluncurkan program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026, sebuah inisiatif yang membuka kesempatan bagi jurnalis Indonesia untuk mengembangkan ide keberlanjutan yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan. Program ini juga mendapat dukungan dari Global Reporting Initiative (GRI), organisasi internasional yang […]

  • Dikejar Notifikasi

    Dikejar Notifikasi

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Di zaman sekarang, manusia tidak lagi dikejar macan, tapi dikejar notifikasi. Dulu orang bangun subuh karena azan, sekarang karena pesan WhatsApp bertuliskan: “Segera lunasi pinjaman Anda!” Inilah zaman ketika rezeki datang lewat transfer, tapi musibah juga ikut nyempil lewat aplikasi bernama pinjaman online, atau yang lebih akrab disebut: pinjol. Awalnya pinjol katanya solusi. Cepat, mudah, […]

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Gorontalo – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan yang berlangsung di Resto Onato By Swiss 18, Senin (24/11/2025). Seminar ini memaparkan dua kajian strategis, yakni “Optimalisasi Kebutuhan Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan Provinsi Gorontalo” serta “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Sosial Ekonomi Keluarga di Provinsi […]

expand_less