Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
  • visibility 422
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan.

Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza, hal pertama yang ramai diklarifikasi pemerintah bukanlah peta jalan penyelesaian konflik, melainkan soal uang. Tenang, kata Menteri Luar Negeri. Ini bukan membership fee. Hanya iuran sukarela.

Frasa “iuran sukarela” adalah salah satu mahakarya diplomasi internasional. Ia terdengar bebas, tetapi sarat ekspektasi. Sukarela, tapi dianjurkan. Tidak wajib, tapi diharapkan. Tidak mengikat, tapi absen berarti tidak sopan. Perdamaian, rupanya, dijalankan dengan mekanisme yang sangat familiar bagi dunia birokrasi: halus di bahasa, keras di konsekuensi.

BoP Gaza dibentuk dengan tujuan yang sulit ditolak siapa pun: menyelesaikan konflik dan membiayai rekonstruksi. Namun justru dari tujuan mulia itu muncul pertanyaan paling jujur dan paling telanjang: siapa yang bayar? Uangnya dari mana? Pertanyaan ini adalah pengakuan diam-diam bahwa dalam tatanan global hari ini, keadilan tidak pernah benar-benar gratis. Yang gratis hanyalah pidato dan pernyataan sikap.

Indonesia, bersama Mesir dan Arab Saudi, diundang untuk duduk di meja perdamaian. Undangan semacam ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Mereka yang diajak bukan hanya yang bersuara lantang, tetapi juga yang dianggap cukup penting atau cukup mampu. Solidaritas kemanusiaan, dalam praktiknya, tetap harus melewati uji kelayakan finansial. Empati boleh universal, partisipasi tetap selektif.

Kebutuhan pemerintah untuk menegaskan bahwa tidak ada iuran tetap justru menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: publik sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana forum-forum internasional berubah menjadi ajang patungan global. Kursi di dewan, suara dalam forum, dan legitimasi moral sering kali datang sepaket dengan kontribusi finansial. Tidak tertulis dalam dokumen resmi, tetapi dipahami oleh semua yang terlibat.

Lebih ironis lagi, status “anggota selama tiga tahun” disampaikan seolah ini kontrak kerja sama, bukan misi kemanusiaan. Gaza, dengan segala luka dan kehancurannya, direduksi menjadi proyek multilateral dengan tenggat waktu, struktur kelembagaan, dan skema pendanaan. Di titik ini, penderitaan manusia tampak kalah cepat dibanding prosedur.

Satir terbesar dari situasi ini adalah bagaimana perdamaian selalu dipromosikan sebagai nilai universal, tetapi dikelola dengan logika eksklusif. Negara miskin diberi ruang untuk bersimpati, negara kuat diminta berpartisipasi. Yang satu menyumbang doa, yang lain menyumbang dana. Keduanya sama-sama disebut kontribusi, meski bobot dan risikonya tidak pernah benar-benar setara.

Di tengah keteraturan ini, penting untuk mengingat satu cara pandang yang sering absen dari meja-meja resmi, yakni cara pandang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi Gus Dur, Gaza tidak pernah dimulai dari peta geopolitik atau arsitektur forum internasional. Gaza dimulai dari wajah manusia; anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang hidup dalam kekerasan yang tidak mereka pilih.

Gus Dur percaya bahwa ketidakadilan terhadap rakyat Palestina adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Penjajahan adalah kejahatan moral, siapa pun pelakunya dan atas nama apa pun ia dilakukan. Namun pembelaan itu tidak pernah berubah menjadi kebencian membabi buta. Ia mengutuk kekerasan tanpa menutup pintu dialog, sebuah sikap yang sering dianggap ganjil di tengah dunia yang gemar memilih kubu.

Dalam cara berpikir Gus Dur, kemarahan yang tak dikelola justru menjadi bahan bakar kekerasan. Ia menolak melihat Gaza sebagai panggung pertarungan agama. Konflik Palestina–Israel terlalu sering disederhanakan menjadi Islam versus Yahudi, padahal akar persoalannya adalah kolonialisme, ketimpangan kekuasaan, dan kegagalan politik internasional. Ketika konflik direduksi menjadi identitas, korban sipil kehilangan tempat dalam narasi, dan penderitaan berubah menjadi alat legitimasi.

Karena itu Gus Dur memilih jalan yang tidak populer: dialog. Berbicara dengan musuh bukanlah pengkhianatan, melainkan syarat awal perdamaian. Memutus komunikasi, baginya, hanya memperpanjang derita. Perdamaian tidak lahir dari saling membungkam, tetapi dari keberanian membuka pintu, meski dengan risiko disalahpahami.

Gus Dur juga gelisah melihat bagaimana Gaza kerap diperlakukan sebagai simbol moral yang murah. Banyak pidato keras, banyak slogan heroik, tetapi sedikit strategi yang benar-benar menyentuh akar ketidakadilan. Solidaritas yang berhenti pada retorika, baginya, justru mengkhianati korban. Ia lebih mempercayai langkah sunyi yang konkret ketimbang teriakan yang hanya memuaskan emosi.

Indonesia tentu berhak merasa telah “ikut serta” dalam upaya perdamaian. Namun partisipasi tanpa keberanian politik hanya akan menjadikan kita penyokong sistem, bukan pengoreksinya. Gaza tidak hanya membutuhkan dana rekonstruksi, tetapi juga keberanian untuk mengatakan bahwa perdamaian tidak boleh direduksi menjadi proposal, apalagi dijual sebagai paket keanggotaan.

Jika perdamaian terus dikelola dengan cara seperti ini—lengkap dengan proposal di awal dan klarifikasi di akhir—maka satu hal patut dicatat, bahwa di dunia internasional, perang memang mahal, tetapi perdamaian tampaknya jauh lebih terorganisir.

Dan mungkin, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah perdamaian yang paling kita butuhkan hari ini adalah yang paling rapi strukturnya, atau yang paling setia menjaga martabat manusia?

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemerdekaan Petani Dimulai dari Jalan Menuju Kebun

    Kemerdekaan Petani Dimulai dari Jalan Menuju Kebun

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Apriyanto Rajak
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Menjelang 17 Agustus, suasana di Desa Tolondadu II dan Desa Sondana, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, berubah. Sepanjang jalan desa, ratusan bendera Merah Putih dipasang berjejer. Bendera-bendera itu diikat pada tiang bambu kecil dan ditancapkan dengan jarak kurang lebih tiga meter. Ratusan bendera tersebut sengaja ditancapkan tepat di tengah pembatas jalan […]

  • Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 24 Jun 2022
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Rumah besar berpenghuni banyak orang dengan banyak kamar besar serta halaman rumah yang luas, namun tak satupun orang-orang itu terlihat keluar dari rumahnya. Lampu halaman tak menyala, para tetangga tidak pernah disapa, bahkan para tetangga saja tidak mengenal setiap orang yang menghuni rumah besar itu. Karena mereka tak pernah terlihat bekerja menata lingkungan sekitar rumah. […]

  • Dikejar Polisi, Pemotor Asal Brebes Tewas Usai Tabrak Tiang dan Pagar di Gang Sempit

    Dikejar Polisi, Pemotor Asal Brebes Tewas Usai Tabrak Tiang dan Pagar di Gang Sempit

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 411
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Seorang pemotor asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tragis di jalan lingkungan padat penduduk. Kejadian tersebut terjadi pada Rabu, 25 Maret 2026, sekitar pukul 11.00–11.15 WIB di Dusun Pager, Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan, Jawa Timur. Korban diketahui bernama Diva Tri Herianto (21), warga Klampok, Wanasari, Brebes. Peristiwa nahas tersebut […]

  • BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    • calendar_month Minggu, 10 Feb 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 194
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3NU) Provinsi Gorontalo dijadwalkan menggelar Rapat Kerja (Raker) yang akan berlangsung di Ballroom Hotel Damhil, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Minggu, 10 Februari 2019. Rapat kerja tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan statuta serta kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sekaligus membahas regulasi perguruan tinggi swasta di lingkungan […]

  • Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Mubarak Idrus
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Tepat pukul 20.00 wita, jamaah Tarekat Khalwatiyah mulai memadati halaman masjid Baitul Izzah yang terletak di Jl. Baji Bicara 7. Beberapa di antaranya menenteng makanan yang akan disajikan selepas acara doa asyura dan tolak bala. Doa Asyura dan Tolak Bala merupakan salah satu amalan yang rutin dilakukan oleh Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari. Seperti tahun-tahun […]

  • Aset Langit

    Aset Langit

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang seperti auditor independen yang tidak bisa diajak kompromi. Ia memeriksa laporan keuangan batin kita tanpa perlu surat tugas dari kantor akuntan publik. Bedanya, auditor dunia bertanya soal saldo kas, auditor Ramadhan bertanya: “Saldo sabarmu berapa? Cadangan ikhlasmu cukup tidak?” Sebagai orang akuntansi, saya sering merenung, mengapa kita begitu rajin mencatat aset dunia, […]

expand_less