Apakah Indonesia sudah dalam Cengkeraman Masyarakat Paliatif?
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- print Cetak

Muhammad Kamal/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kemarahan, kesedihan, dan kecemasan bukanlah sekadar luapan emosi pribadi yang sia-sia. Itu adalah sinyal sosial. Ketika kita marah melihat korupsi, itu artinya nurani kita masih menolak ketidakadilan. Ketika kita cemas melihat hutan yang gundul, itu artinya hubungan batin kita dengan alam belum sepenuhnya putus.
Namun, emosi ini sering sekali “dinetralisir”. Lihat saja media sosial. Amarah kita sering kali meledak-ledak, tapi cuma di kolom komentar atau lewat tagar yang viral selama dua hari, lalu hilang entah ke mana. Empati kita sering kali cuma berhenti pada reaksi spontan. Kita tidak sedang membangun kesadaran, kita hanya sedang bersirkulasi dalam emosi tanpa arah. Inilah jebakan masyarakat paliatif: rasa sakit sosial hanya jadi konten, bukan bahan refleksi.
Bagi freir kesadaran kritis juga sebuah proses di mana perasaan harus dibawa ke tingkat refleksi. Tak hanya berhenti pada marah, tapi Tanyakan, “Kenapa ini terjadi? Siapa yang diuntungkan? Apa struktur yang melanggengkan ini?” Kesadaran kritis tidak cuma mengakui adanya masalah, tapi berani membongkar bagaimana masalah itu dibuat dan dinormalisasi.
Ini pun terjadi di sekolah dan kampus kita. Sistem pendidikan kita makin hari makin sibuk mencetak orang-orang yang “siap kerja” dan “kompetitif”, tapi jarang melatih orang untuk peka. Kita melahirkan generasi yang pintar mengoperasikan teknologi, tapi gagap saat harus memahami mengapa ketimpangan terus saja terjadi di depan mata mereka.
Jadi, sebenarnya Indonesia tidak sedang krisis informasi. Kita krisis sensitivitas. Ketika ketidakadilan tidak lagi memicu amarah, dan penderitaan tidak lagi mengundang empati, maka yang sedang rapuh bukan lagi ekonomi atau politik kita, melainkan kualitas kemanusiaan kita sendiri.
dunia tidak akan berubah hanya karena kita tahu lebih banyak. Dunia berubah karena kita berani membiarkan diri kita disentuh oleh kenyataan, lalu berani bertanya, “Mengapa kita membiarkan ini terjadi?” Dalam masyarakat yang terobsesi dengan kenyamanan, kemampuan untuk tetap merasa tidak tenang dan menolak diam terhadap ketidakadilan adalah sebuah keberanian intelektual yang paling berharga.
Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogkyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar