Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 816
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kisah yang sejatinya akan terdengar pada peringatan Haul ke-16 Gus Dur, yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa, Pambusuang, Polewali Mandar, 12 Februari 2026. Kisah itu semula hendak disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Namun, cerita sejarah tersebut tampaknya tidak akan pernah terucap, sebab Puang Salim, sapaan akrab beliau telah berpulang ke hadirat Ilahi pada 31 Januari 2026 di RS. Siloam Makassar.

Sebelum kepergiannya yang mengejutkan, almarhum Puang Salim telah menyatakan kesediaannya hadir dalam acara haul Gus Dur yang digelar oleh Lesbumi Sulbar bersama Lembaga Inspirasi Anak Rakyat (LIAR) dan GUSDURian Polman. Kehadirannya bukan sekadar fisik, melainkan untuk menghadirkan kembali sebuah fragmen penting dalam perjalanan hidupnya, yaitu cerita tentang Nahdlatul Ulama dan persahabatan karibnya dengan Sang Guru Bangsa, Gus Dur.

Sebagaimana dituturkan oleh Ahmad Zaky dan Suaib Prawono, Puang Salim telah menyiapkan narasi itu. Ia ingin berkisah tentang hari-hari panjang belasan tahun saat bertugas di Jawa Tengah; masa di mana benang merah persahabatannya dengan KH. Maimoen Zubair dan Gus Dur terjalin erat.

Kita bisa membayangkan, betapa kayanya kisah itu; tentang tawa Gus Dur yang meledak, diskusi sunyi di sudut pesantren, hingga bagaimana nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dirawat dalam relasi yang berlandaskan kemanusiaan.

Namun, takdir kerap bekerja dalam keheningan yang tak terduga. Sebelum lisan sempat berucap, sebelum khalayak sempat menyerap hikmah dari ceritanya, Puang Salim dipanggil pulang. Maut mendahului suara, meninggalkan keluarga, sahabat, dan pengagumnya dalam rasa penasaran yang menggantung.

Kendati demikian, kepergian mendadak itu justru mengubah rasa penasaran menjadi refleksi yang lebih dalam. Salah satunya adalah kesadaran bahwa Puang Salim tidak perlu lagi bercerita banyak, sebab seluruh hidupnya sudah menjadi cerita itu sendiri.

Beliau dan Gus Dur adalah dua teladan yang melampaui fase “berbicara tentang agama” dan telah sampai pada fase “menghidupkan ajaran agama.” Mereka tidak terjebak dalam retorika, melainkan menjalani hari-harinya dengan khidmat dan penghayatan religiusitas yang tulus.

Bagi Puang Salim, religiusitas bukan soal panggung atau validasi publik, melainkan tentang bagaimana menjadi pribadi yang meneduhkan bagi sesama. Jejak pengabdiannya yang panjang adalah bukti nyata dari hal itu.

Agenda haul di Polman mungkin terasa sepi tanpa kehadiran fisiknya. Namun, kita tahu bahwa dalam dimensi yang lebih abadi, cerita itu telah tergenapi. Di alam keabadian, barangkali Puang Salim dan Gus Dur tengah melanjutkan tawa dan diskusi mereka, menuntaskan rindu yang belum sempat terucap di dunia.

Puang Salim, terima kasih telah mengajarkan kami bahwa hidup yang berkualitas adalah hidup yang diwakafkan untuk kemanusiaan. Cerita tentang Jawa Tengah itu kini telah abadi bersama langkahmu yang tenang menuju keabadian. Dan kami yakin, engkau akan dikenang sebagai kesatria yang “mate di batang, tammate dipau-pau'” (jasadmu boleh hancur berkalang tanah, tetapi kebaikanmu akan senantiasa hidup dalam hati sanubari rakyat Sulbar).

Penulis:  Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Utang Langit

    Utang Langit

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu punya cara unik mengajarkan akuntansi kepada umat. Bedanya, ini bukan akuntansi laba-rugi perusahaan, melainkan laporan keuangan batin. Dalam bahasa sederhana: kita semua punya “Utang Langit”. Bedanya dengan utang bank, yang ini tidak ditagih debt collector, tapi oleh nurani. Di bulan suci, manusia mendadak rajin menghitung. Menghitung pahala, menghitung takjil, menghitung THR, bahkan menghitung […]

  • Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat yang sering dikenal dengan nama RA Kartini sebagai salah satu perempuan Indonesia asal jepara-jawa tengah, pejuang emansipasi perempuan itu selalu diperingati setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April, tahun kelahirannya 1879. Dalam catatan sejarah, kartini menggores tinta perlawanan atas penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Doktrin Perjuangannya mengangkat martabat perempuan sebagai […]

  • Tiga Organisasi Perempuan Terima Hibah Rp750 Juta, Wagub Gorontalo Tekankan Dampak Nyata

    Tiga Organisasi Perempuan Terima Hibah Rp750 Juta, Wagub Gorontalo Tekankan Dampak Nyata

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 336
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Tiga organisasi perempuan di Gorontalo menerima dana hibah dari pemerintah provinsi untuk tahun anggaran 2026. Penyerahan hibah ditandai dengan penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan organisasi penerima. Ketiga organisasi tersebut yakni Persatuan Istri Anggota Dewan, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita, dan Dharma Wanita Persatuan. Masing-masing memperoleh […]

  • Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 78
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti rangkaian acara Fun Games dalam Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Agenda ini dirancang secara khusus sebagai ruang edukasi alternatif yang mengenalkan isu ekologi, etika digital, hingga nilai-nilai karakter bangsa […]

  • Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Indonesia terlalu besar untuk didiskusikan, diurus, dan diperhatikan. Tapi bukannya mustahil. Bangsa yang lahir dari rahim para pemikir ini harus kita diskusikan, harus kita urus, dan harus kita perhatikan. Farid Gaban, Dhandy Laksono, dan kawan-kawan merupakan salah satu orang-orang yang getol menyuarakan persoalan ke-Indonesia-an. Ada beragam cara mereka bersuara. Melalui film dokumenter, dan buku. Salah […]

  • Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Muhamad Ersad Mamonto
    • visibility 1.933
    • 0Komentar

    Tulisan yang berjudul “Dekonstruksi PBMR” oleh Tyo Mokoagow, kawan saya, beberapa hari lalu, terus terang menggoda saya untuk menulis. Sebenarnya saya berupaya untuk menghindari menanggapi isu ini, karena telah benar-benar menjadi semacam debat kusir yang tak berkesudahan. Namun tulisan seperti yang Tyo buat adalah sesuatu yang tidak bisa dilewati begitu saja.  Saya sepakat dengan konsepsi […]

expand_less