Breaking News
light_mode
Trending Tags

Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
  • visibility 91
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur saya katakan: sejak awal, saya tidak terlalu menyukai pertanyaan yang muncul berulang kali dalam banyak forum — “Siapa yang moderat?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi memiliki beban ideologis. Ia memuat sebuah jebakan: moderat adalah status akhir, label bersertifikat, yang bisa dilekatkan pada seseorang, sekelompok orang, atau bahkan pada satu tafsir keagamaan tertentu. Padahal bagi saya, moderasi — jika ingin tetap hidup — tak boleh berubah menjadi sertifikat. Ia harus tetap menjadi ruang, menjadi proses, menjadi perjalanan.

Roland Barthes mengajarkan saya sejak lama untuk berhati-hati terhadap pemaknaan kata-kata. Dalam Mythologies, ia menyingkap bagaimana kata-kata, simbol, bahkan nilai-nilai bisa berubah menjadi mitos. Narasi yang tampaknya netral, padahal sarat muatan ideologis. Dan saya mulai berfikir: jangan-jangan “moderat” yang dibayangkan sebagai tujuan akhir moderasi beragama menjadi mitos. Ia menjadi simbol yang kita puja, tanpa kita sadari bahwa maknanya telah dibekukan dan dijauhkan dari dinamika masyarakat tempat ia semula tumbuh.

Barthes menulis: “Mitos adalah cara tertentu untuk memahami dunia: ia menghilangkan sejarah, dan menampilkan sesuatu sebagai alamiah.” Menuntut “siapa moderat” berarti sekaligus menuntut untuk menampilkan “siapa tidak moderat”. Seolah-olah harus ada garis batas yang jelas dan abadi. Padahal, dari pengalaman saya di lapangan, keberagaman ekspresi keagamaan terlalu cair untuk dipetakan sesederhana itu. Siapapun bisa menjadi moderat dengan caranya masing-masing. Dalam banyak perjumpaan, mereka yang kita label sebagai “konservatif” justru menunjukkan sikap terbuka, sementara yang kita anggap “moderat” kadang terjebak pada kesombongan moral yang membeku.

Di titik inilah, saya meminjam cara pandang Jacques Derrida: jangan percaya pada oposisi biner. Kata “moderat” tidak memiliki makna yang stabil. Ia tidak berdiri di titik tengah antara ekstrem dan liberal secara tetap. Memang, ia berangkat dari posisi awal ini, tetapi kehadirannya juga memiliki beban ideologis. Bagaimanapun juga. Ia adalah bagian dari permainan bahasa. Derrida punya konsep différance — di mana makna terus menerus ditunda, digeser, dan didekonstruksi. “Moderat”, dalam bahasa Derrida, bukan entitas tunggal; ia terbentuk dari rangkaian negosiasi, relasi kuasa, dan posisi-posisi diskursif yang tak pernah tetap.

Derrida mengatakan: “There is nothing outside the text.” Maka saya membaca moderasi beragama bukan sebagai kebenaran statis, tapi sebagai kebenaran dalam teks yang terus ditulis. Kita tidak pernah benar-benar selesai menjadi moderat. Moderasi adalah kerja harian, kerja keberanian, kerja kesabaran — dan kerja bahasa. Ia lebih dekat pada kata kerja daripada kata benda. Moderasi seharusnya berarti: memoderasi. Ia adalah tindakan, bukan status.

Apabila kita terlampau percaya diri bahwa kita sudah moderat — justru di situlah seharusnya kita mulai curiga pada diri sendiri. Kita mulai harus mengudar asumsi kita sendiri. Jangan-jangan kita sedang menjadikan moderasi sebagai alat penilaian, bukan sebagai ruang dialog. Jangan-jangan kita sedang memakai kata moderat untuk mengontrol narasi, bukan membuka ruang yang cair dan setara.

Saya ingin menjadikan “moderasi” sebagai kerja reflektif, bukan atribut. Sebagai aktivitas bukan identitas. Sebagai upaya bukan pencapaian. Saya ingin melihat moderasi sebagai ruang dinamis yang penuh kemungkinan, bukan podium yang tinggi dan stabil. Sebab seperti kata Derrida, makna selalu ditunda, dan dalam penundaan itu, kita punya peluang untuk tumbuh.

Moderasi yang saya bayangkan adalah gerak yang terus terbuka. Ia bersedia untuk dikritik, bahkan untuk diubah. Ia tak terikat pada satu bentuk tunggal, tapi mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap zaman dan konteks. Dalam semangat itu, saya ingin tetap percaya: bahwa moderasi beragama bukanlah jawaban final, tapi pertanyaan yang harus terus menerus kita ajukan — dengan rendah hati, dan dengan cinta.

Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa Melahirkan Persaudaran Kemanusiaan

    Puasa Melahirkan Persaudaran Kemanusiaan

    • calendar_month Senin, 11 Mar 2024
    • account_circle Dr. Mansur Basir
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Di jantung setiap agama (In the heart of religion), terdapat salah satu doktrin yang memiliki sisi persamaan yakni misi kesucian/fitrah (holistic). Kesuciaan Ini kemudian melahirkan cintakasih (love to other) dan cinta melahirkan persaudaraan sejati yang pada level ini mempersepsi manusia secara egaliter dan equal tanpa memandang warna kulit dan status sosial. Doktrin ini sebenarnya mampu melahirkan kedamaian di mana […]

  • Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini kita memang sering dikejutkan dengan berbagai berita mencengangkan. Dari pajak yang naik berlipat-lipat, hingga sewa tempat tinggal anggota dewan terhormat yang berjumlah 50 juta perbulan. Dan kita lagi lagi dikejutkan dengan viralnya berita seorang rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan bawahannya. Berita pelecehan seksual semacam […]

  • Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo menggelar Orientasi Politik yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) serta pengukuhan pengurus masa bakti 2026–2031. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi dan penegasan arah perjuangan partai menjelang Pemilu 2029. Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI sekaligus Ketua Perempuan Bangsa DPP PKB, […]

  • Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap persoalan-persoalan serius yang menghantui daerah. Salah satu aktivisnya, Sandri atau yang lebih akrab disapa Kevin Lapendos, menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu-isu strategis, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, pertambangan ilegal, hingga persoalan tata kelola sumber […]

  • Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Umat Islam di Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi kemungkinan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Perbedaan tersebut dipicu oleh kondisi astronomis hilal yang belum memenuhi kriteria kesepakatan regional pada saat pemantauan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan […]

  • Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah insiden terjadi dalam sidang Senate Armed Services Committee di Washington D.C. pada 4 Maret 2026, ketika seorang veteran Marinir Amerika Serikat, Brian McGinnis, melakukan aksi protes terkait kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Dalam sidang tersebut, McGinnis berdiri dan meneriakkan penolakan terhadap potensi perang yang menurutnya dipicu oleh dukungan […]

expand_less