Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
  • visibility 176
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur saya katakan: sejak awal, saya tidak terlalu menyukai pertanyaan yang muncul berulang kali dalam banyak forum — “Siapa yang moderat?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi memiliki beban ideologis. Ia memuat sebuah jebakan: moderat adalah status akhir, label bersertifikat, yang bisa dilekatkan pada seseorang, sekelompok orang, atau bahkan pada satu tafsir keagamaan tertentu. Padahal bagi saya, moderasi — jika ingin tetap hidup — tak boleh berubah menjadi sertifikat. Ia harus tetap menjadi ruang, menjadi proses, menjadi perjalanan.

Roland Barthes mengajarkan saya sejak lama untuk berhati-hati terhadap pemaknaan kata-kata. Dalam Mythologies, ia menyingkap bagaimana kata-kata, simbol, bahkan nilai-nilai bisa berubah menjadi mitos. Narasi yang tampaknya netral, padahal sarat muatan ideologis. Dan saya mulai berfikir: jangan-jangan “moderat” yang dibayangkan sebagai tujuan akhir moderasi beragama menjadi mitos. Ia menjadi simbol yang kita puja, tanpa kita sadari bahwa maknanya telah dibekukan dan dijauhkan dari dinamika masyarakat tempat ia semula tumbuh.

Barthes menulis: “Mitos adalah cara tertentu untuk memahami dunia: ia menghilangkan sejarah, dan menampilkan sesuatu sebagai alamiah.” Menuntut “siapa moderat” berarti sekaligus menuntut untuk menampilkan “siapa tidak moderat”. Seolah-olah harus ada garis batas yang jelas dan abadi. Padahal, dari pengalaman saya di lapangan, keberagaman ekspresi keagamaan terlalu cair untuk dipetakan sesederhana itu. Siapapun bisa menjadi moderat dengan caranya masing-masing. Dalam banyak perjumpaan, mereka yang kita label sebagai “konservatif” justru menunjukkan sikap terbuka, sementara yang kita anggap “moderat” kadang terjebak pada kesombongan moral yang membeku.

Di titik inilah, saya meminjam cara pandang Jacques Derrida: jangan percaya pada oposisi biner. Kata “moderat” tidak memiliki makna yang stabil. Ia tidak berdiri di titik tengah antara ekstrem dan liberal secara tetap. Memang, ia berangkat dari posisi awal ini, tetapi kehadirannya juga memiliki beban ideologis. Bagaimanapun juga. Ia adalah bagian dari permainan bahasa. Derrida punya konsep différance — di mana makna terus menerus ditunda, digeser, dan didekonstruksi. “Moderat”, dalam bahasa Derrida, bukan entitas tunggal; ia terbentuk dari rangkaian negosiasi, relasi kuasa, dan posisi-posisi diskursif yang tak pernah tetap.

Derrida mengatakan: “There is nothing outside the text.” Maka saya membaca moderasi beragama bukan sebagai kebenaran statis, tapi sebagai kebenaran dalam teks yang terus ditulis. Kita tidak pernah benar-benar selesai menjadi moderat. Moderasi adalah kerja harian, kerja keberanian, kerja kesabaran — dan kerja bahasa. Ia lebih dekat pada kata kerja daripada kata benda. Moderasi seharusnya berarti: memoderasi. Ia adalah tindakan, bukan status.

Apabila kita terlampau percaya diri bahwa kita sudah moderat — justru di situlah seharusnya kita mulai curiga pada diri sendiri. Kita mulai harus mengudar asumsi kita sendiri. Jangan-jangan kita sedang menjadikan moderasi sebagai alat penilaian, bukan sebagai ruang dialog. Jangan-jangan kita sedang memakai kata moderat untuk mengontrol narasi, bukan membuka ruang yang cair dan setara.

Saya ingin menjadikan “moderasi” sebagai kerja reflektif, bukan atribut. Sebagai aktivitas bukan identitas. Sebagai upaya bukan pencapaian. Saya ingin melihat moderasi sebagai ruang dinamis yang penuh kemungkinan, bukan podium yang tinggi dan stabil. Sebab seperti kata Derrida, makna selalu ditunda, dan dalam penundaan itu, kita punya peluang untuk tumbuh.

Moderasi yang saya bayangkan adalah gerak yang terus terbuka. Ia bersedia untuk dikritik, bahkan untuk diubah. Ia tak terikat pada satu bentuk tunggal, tapi mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap zaman dan konteks. Dalam semangat itu, saya ingin tetap percaya: bahwa moderasi beragama bukanlah jawaban final, tapi pertanyaan yang harus terus menerus kita ajukan — dengan rendah hati, dan dengan cinta.

Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 558
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • Bank Sampah hingga Ketahanan Pangan: Langkah Nyata Ecopesantren di Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah photo_camera 2

    Bank Sampah hingga Ketahanan Pangan: Langkah Nyata Ecopesantren di Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.893
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah tampak berbeda pada Senin (8/12/2025) sore itu. Bukan hanya lantunan kajian kitab yang terdengar, tetapi juga dialog hangat tentang sampah, ketahanan pangan, dan masa depan bumi. Para santri, mahasiswa, hingga perwakilan komunitas duduk bersama menyimak penjelasan tentang bagaimana pesantren dapat menjadi kekuatan besar dalam gerakan pelestarian lingkungan. […]

  • Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Ketua SEMA-HABAR (Sentral Mahasiswa Halmahera Barat), Riwan Basir menyampaikan harapannya kepada Bupati Halmahera Barat, James Uang yang baru terpilih dan baru saja dilantik beberapa hari lalu agar lebih memperhatikan berbagai aspek pembangunan di kabupaten Hal-bar. Ketua Sentral Mahasiswa menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur, terutama jalan, sekolah, rumah sakit, transportasi umum, serta pengelolaan pasar yang lebih baik. […]

  • Hari Ketiga, Tim SAR Gabungan Tempuh Jalur Ekstrem Evakuasi Korban ATR 42-500

    Hari Ketiga, Tim SAR Gabungan Tempuh Jalur Ekstrem Evakuasi Korban ATR 42-500

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS-PANGKEP — Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan menempuh jalur ekstrem yang selama ini hanya digunakan oleh warga setempat. Hal itu disampaikan Asisten Perencanaan Kodam (Asrendam) XIV/Hasanuddin, Kolonel Infanteri Abi Kusnianto, saat ditemui di lokasi PoskoAJU, Desa […]

  • Kemenag Sulsel Serahkan SK Redistribusi PPPK, 66 Pegawai Kembali Bertugas di Daerah Asal

    Kemenag Sulsel Serahkan SK Redistribusi PPPK, 66 Pegawai Kembali Bertugas di Daerah Asal

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan penyerahan Surat Keputusan (SK) redistribusi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Selasa (5/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan bagian dari upaya penataan dan optimalisasi sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Agama. Sebanyak 66 PPPK dari berbagai kabupaten […]

  • Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Agenda SANTRIPRENEUR TALKS dengan Tema “Peradaban santri: Berpendidian, Berdaya, Berkhidmat Membangun Negeri” merupakan kegiatan kolaboratif antara Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) dan LPDP PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang diselenggarakan di Aula Masjid Istiqlal pada Jum’at, 14 Maret 2025. Kegiatan SANTRIPRENEUR TALKS Dibuka secara resmi oleh ketua umum DPP GENINUSA, Zikal […]

expand_less