Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 455
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah imagined community: komunitas politik yang dibayangkan, terbatas, dan berdaulat.

Nasionalisme menuntut keberpihakan: kepentingan bangsa ditempatkan di atas klaim individu atau kelompok lain, dan loyalitas nasional diposisikan sebagai bentuk loyalitas tertinggi. Namun, apakah nasionalisme hanya sebatas klaim identitas dan kebutuhan sosial yang melahirkan serangkaian kewajiban normatif?

Pertanyaan itu relevan ketika kita melihat kenyataan bahwa nasionalisme kerap “dijual” dalam bentuk simbol-simbol formal. Garuda ditempel di map pidato, merah putih dicat di pagar kantor, atau istilah masa lalu dibangkitkan kembali lewat kebijakan birokratis. Tetapi, benarkah kecintaan pada tanah air bisa diringkas hanya dalam judul program pemerintah?

Fenomena ini semakin nyata ketika merah putih dan Garuda “dipinjam” untuk membungkus proyek-proyek negara. Dengan menamai kebijakan “Koperasi Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, seolah-olah kecintaan pada tanah air otomatis hadir di sana. Padahal, ada jebakan imajinasi yang membuat kita salah sangka. Kita didikte bahwa mencintai negeri harus lewat rapat formal, kerja struktural, atau menjadi bagian dari sistem.

Fakta nasionalisme juga ada di jalanan, seorang pengayuh becak atau ojek online yang berjuang demi keluarganya, bukankah juga sedang merawat tanah air? Justru mereka adalah manifestasi hidup dari siasat bertahan, atau Relawan yang membawa buku ke pelosok dengan motor atau perahu pusaka, mengajar anak-anak di kolong jembatan tanpa berharap insentif jabatan. Mereka sedang merawat imajinasi publik agar tidak kerdil. Mereka menjaga martabat manusia tanpa seremoni.

Dari sini kita belajar bahwa nasionalisme sejati adalah cinta terhadap tanah air dan keberagaman di dalamnya, bukan pengabdian buta pada penguasa yang kerap menggadaikan kekayaan negeri. Sayangnya, di tengah sistem yang menjadikan demokrasi sekadar etalase dan fasisme sebagai alat kendali, nasionalisme kita sering terjepit. Ia dirayakan sebagai slogan dan simbol semata.

Anderson, lewat gagasan imagined community, menekankan pentingnya ruang imajinasi bersama. Namun kini, ruang itu sering dibajak oleh penguasa agar bangsa hanya dibayangkan melalui simbol-simbol mereka. Inilah yang disebut Anderson sebagai official nationalism; nasionalisme dari atas, dipaksakan demi menjaga kekuasaan. Yang luput kita lihat adalah nasionalisme yang tumbuh dari bawah: lahir dari rasa senasib para pejuang hidup di jalanan.

Ketika pemerintah meluncurkan proyek berlabel “Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, sesungguhnya mereka sedang menyeragamkan imajinasi. Mereka ingin kita percaya bahwa mencintai tanah air berarti menyetujui program mereka. Padahal, nasionalisme menurut Anderson adalah deep horizontal comradeship; persaudaraan setara antar-manusia, bukan hubungan vertikal antara atasan dan bawahan.

Maka pertanyaan menganggu kerap terbersit, di mana nasionalisme sejati berada? Apakah ia hanya topeng otoritas yang menuntut rakyat berkorban atas nama “kepentingan nasional”, sementara kebijakan justru menguntungkan segelintir oportunis? Pada prinsipnya, jangan biarkan imajinasi kita didikte oleh baliho dan proyek pemerintah. Nasionalisme tidak lahir dari kertas kebijakan, melainkan dari rasa sakit dan harapan yang sama.

Sejarah menegaskan bahwa nasionalisme adalah tanggung jawab etis untuk saling menjaga martabat sesama warga negara, terutama mereka yang terpinggirkan. Ia bukan sekadar ritual memuja simbol apalagi penguasa, melainkan komitmen moral untuk merawat kehidupan bersama.

Sebagai alternatif dari etalase simbolik nasionalisme yang digunakan pemerintah, kita perlu menghidupkan kembali Nasionalisme Kewargaan (Civil Nationalism). Jika nasionalisme ala pemerintah adalah doktrin kepatuhan, maka nasionalisme warga menuntut dan mengawal keadilan. Karena itu,  mencintai tanah air tidak berarti mengiyakan segala titah, melainkan memastikan bahwa setiap janji konstitusi sampai ke masyarakat secara setara,  sebab ia adalah bagian dari amanah sejarah bangsa ini.

Penulis : (Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: Muhammad Kamal
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Adythia Al Ghozaly
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Oleh: Adythia Al Ghozaly Kaempe, S.H   Setiap 22 Desember, kita disuguhi narasi nasional yang menyesatkan: peringatan “Hari Ibu” seolah menjadi satu-satunya representasi perempuan. Padahal, lebih dari sembilan dekade silam, perempuan-perempuan Nusantara berkumpul dalam Kongres Perempuan 1928, menuntut hak politik, kebebasan, pendidikan, dan pengakuan sosial yang setara. Namun, patriarki dengan cerdik merampas tanggal itu, membungkusnya […]

  • Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring Play Button

    Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Periode 2019–2025, saat saya memimpin Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menjadi fase penting dalam pembelajaran kepemimpinan dan pengelolaan program pengembangan sumber daya manusia keagamaan. Berbagai program yang dilaksanakan—mulai dari MB Speak Up, Sekolah Penguatan Moderasi Beragama, hingga Klinik Moderasi Beragama—menjadi laboratorium bagi pengembangan strategi, inovasi, dan implementasi kebijakan moderasi beragama di tingkat operasional. Pengalaman memimpin […]

  • PPPK Terancam? Wali Kota Gorontalo Buka Suara, Ini Jaminannya

    PPPK Terancam? Wali Kota Gorontalo Buka Suara, Ini Jaminannya

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kekhawatiran tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terkait kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat mulai dirasakan di berbagai daerah. Isu pengurangan belanja pegawai memicu kecemasan akan nasib ribuan tenaga PPPK, termasuk di Kota Gorontalo. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, akhirnya buka suara pada Senin, 30 Maret 2026. Ia menegaskan […]

  • Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 527
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghargai dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengabdian guru, Wali Kota Adhan Dambea resmi menetapkan kebijakan perubahan jam kerja khusus bagi guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan strategis ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026 dan menyasar seluruh tenaga pendidik berstatus […]

  • Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Dangi Rami sibuk meracik menu istimewa makan sahur. Di tengah suara dengkur suami dan anaknya yang masih terlelap tidur. Jeritan belanga goreng Dangi terdengar gaduh. Bersahutan dengan botu poluleya yang sulit dikendalikan bunyinya. Tiga menu berbahan ayam kampung untuk suami dan anaknya telah menebarkan aroma sedap. Mereka dibangunkan tat kala menu makan sahur itu sudah […]

  • Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Pada dekade 1990-an, masyarakat sipil di Indonesia menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai kekuatan penekan terhadap negara. Organisasi mahasiswa, LSM, kelompok intelektual, hingga komunitas berbasis agama dan budaya membentuk jejaring resistensi yang relatif solid. Dalam konteks itu, masyarakat sipil berfungsi sebagai oposisi ekstra-parlementer—sebuah ruang di mana kritik tidak hanya diproduksi, tetapi juga dikonsolidasikan menjadi gerakan yang […]

expand_less