Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 517
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah imagined community: komunitas politik yang dibayangkan, terbatas, dan berdaulat.

Nasionalisme menuntut keberpihakan: kepentingan bangsa ditempatkan di atas klaim individu atau kelompok lain, dan loyalitas nasional diposisikan sebagai bentuk loyalitas tertinggi. Namun, apakah nasionalisme hanya sebatas klaim identitas dan kebutuhan sosial yang melahirkan serangkaian kewajiban normatif?

Pertanyaan itu relevan ketika kita melihat kenyataan bahwa nasionalisme kerap “dijual” dalam bentuk simbol-simbol formal. Garuda ditempel di map pidato, merah putih dicat di pagar kantor, atau istilah masa lalu dibangkitkan kembali lewat kebijakan birokratis. Tetapi, benarkah kecintaan pada tanah air bisa diringkas hanya dalam judul program pemerintah?

Fenomena ini semakin nyata ketika merah putih dan Garuda “dipinjam” untuk membungkus proyek-proyek negara. Dengan menamai kebijakan “Koperasi Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, seolah-olah kecintaan pada tanah air otomatis hadir di sana. Padahal, ada jebakan imajinasi yang membuat kita salah sangka. Kita didikte bahwa mencintai negeri harus lewat rapat formal, kerja struktural, atau menjadi bagian dari sistem.

Fakta nasionalisme juga ada di jalanan, seorang pengayuh becak atau ojek online yang berjuang demi keluarganya, bukankah juga sedang merawat tanah air? Justru mereka adalah manifestasi hidup dari siasat bertahan, atau Relawan yang membawa buku ke pelosok dengan motor atau perahu pusaka, mengajar anak-anak di kolong jembatan tanpa berharap insentif jabatan. Mereka sedang merawat imajinasi publik agar tidak kerdil. Mereka menjaga martabat manusia tanpa seremoni.

Dari sini kita belajar bahwa nasionalisme sejati adalah cinta terhadap tanah air dan keberagaman di dalamnya, bukan pengabdian buta pada penguasa yang kerap menggadaikan kekayaan negeri. Sayangnya, di tengah sistem yang menjadikan demokrasi sekadar etalase dan fasisme sebagai alat kendali, nasionalisme kita sering terjepit. Ia dirayakan sebagai slogan dan simbol semata.

Anderson, lewat gagasan imagined community, menekankan pentingnya ruang imajinasi bersama. Namun kini, ruang itu sering dibajak oleh penguasa agar bangsa hanya dibayangkan melalui simbol-simbol mereka. Inilah yang disebut Anderson sebagai official nationalism; nasionalisme dari atas, dipaksakan demi menjaga kekuasaan. Yang luput kita lihat adalah nasionalisme yang tumbuh dari bawah: lahir dari rasa senasib para pejuang hidup di jalanan.

Ketika pemerintah meluncurkan proyek berlabel “Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, sesungguhnya mereka sedang menyeragamkan imajinasi. Mereka ingin kita percaya bahwa mencintai tanah air berarti menyetujui program mereka. Padahal, nasionalisme menurut Anderson adalah deep horizontal comradeship; persaudaraan setara antar-manusia, bukan hubungan vertikal antara atasan dan bawahan.

Maka pertanyaan menganggu kerap terbersit, di mana nasionalisme sejati berada? Apakah ia hanya topeng otoritas yang menuntut rakyat berkorban atas nama “kepentingan nasional”, sementara kebijakan justru menguntungkan segelintir oportunis? Pada prinsipnya, jangan biarkan imajinasi kita didikte oleh baliho dan proyek pemerintah. Nasionalisme tidak lahir dari kertas kebijakan, melainkan dari rasa sakit dan harapan yang sama.

Sejarah menegaskan bahwa nasionalisme adalah tanggung jawab etis untuk saling menjaga martabat sesama warga negara, terutama mereka yang terpinggirkan. Ia bukan sekadar ritual memuja simbol apalagi penguasa, melainkan komitmen moral untuk merawat kehidupan bersama.

Sebagai alternatif dari etalase simbolik nasionalisme yang digunakan pemerintah, kita perlu menghidupkan kembali Nasionalisme Kewargaan (Civil Nationalism). Jika nasionalisme ala pemerintah adalah doktrin kepatuhan, maka nasionalisme warga menuntut dan mengawal keadilan. Karena itu,  mencintai tanah air tidak berarti mengiyakan segala titah, melainkan memastikan bahwa setiap janji konstitusi sampai ke masyarakat secara setara,  sebab ia adalah bagian dari amanah sejarah bangsa ini.

Penulis : (Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: Muhammad Kamal
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Administrasi yang Menelan Manusia: Ketika Birokrasi Kehilangan Jiwa Pelayanan

    Administrasi yang Menelan Manusia: Ketika Birokrasi Kehilangan Jiwa Pelayanan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Tidak ada negara modern tanpa birokrasi. Ia lahir sebagai jawaban atas kebutuhan akan ketertiban, efisiensi, dan kepastian hukum. Max Weber bahkan menyebut birokrasi sebagai bentuk organisasi paling rasional yang pernah diciptakan manusia. Dengan pembagian kerja yang jelas, aturan yang baku, serta pengangkatan berdasarkan kompetensi, birokrasi diharapkan mampu menghindarkan negara dari praktik kekuasaan yang sewenang-wenang. Namun, […]

  • Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu photo_camera 5

    Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 341
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dakwah merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan dakwah tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang tertentu, tetapi harus terus berkembang hingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dakwah juga perlu dilakukan dengan […]

  • DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Nulondalo – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA), menggelar buka puasa bersama dan berbagi takjil dengan ibu Febrina sebagai salah satu dewan pembina Geninusa di kediamannya, Jakarta Selatan, Jum’at 07 Maret 2025. Sebagai salah satu dewan pembina Geninusa, ibu Febrina juga memberikan pesan sebagai dorongan kepada pengurus DPP Geninusa. Harapannya geninusa harus tetap […]

  • BINUS University Hadirkan Perpustakaan Digital Offline di Tiga Desa Sulawesi Selatan

    BINUS University Hadirkan Perpustakaan Digital Offline di Tiga Desa Sulawesi Selatan

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di sejumlah wilayah pelosok Indonesia. Ketika pembelajaran digital semakin berkembang di perkotaan, sebagian siswa di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan sumber belajar. Menjawab tantangan tersebut, BINUS University menghadirkan PusGita (Perpustakaan Digital Offline) versi 6.0, sebuah inovasi yang memungkinkan ribuan sumber belajar digital diakses […]

  • DPW PKB Gorontalo 2026–2031 Resmi Dilantik, Dzikyan Tegaskan Konsolidasi hingga Ranting

    DPW PKB Gorontalo 2026–2031 Resmi Dilantik, Dzikyan Tegaskan Konsolidasi hingga Ranting

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 364
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo periode 2026–2031 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ballroom Movenpick Hotel Jakarta City Centre, Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat. Pelantikan tersebut menandai dimulainya babak baru kepemimpinan PKB Gorontalo dengan fokus pada penguatan struktur dan kerja nyata di tengah masyarakat. Ruang pelantikan yang […]

  • Konflik Pesantren Darul Istiqomah Pusat Maros belum usai, Ratusan Santriwati SPIDI Merasa Terancam

    Konflik Pesantren Darul Istiqomah Pusat Maros belum usai, Ratusan Santriwati SPIDI Merasa Terancam

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros–Konflik internal di lingkungan Pesantren Darul Istiqomah Kabupaten Maros kembali memanas. Situasi tersebut mencuat setelah Polda Sulawesi Selatan melakukan pemasangan police line pada portal pesantren. Menurut informasi yang dihimpun awak media, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari pelaporan perwakilan warga yang berada di lingkungan pesantren beberapa bulan lalu. Konflik keluarga tersebut diketahui telah berlangsung cukup […]

expand_less