Breaking News
dark_mode
Trending Tags

To Build the World Anew: Pesan untuk Kegagalan Tatanan Dunia Modern

  • account_circle Muhammad Suryadi R
  • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
  • visibility 262
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia abad ke-21 sering dipromosikan sebagai dunia paling maju dalam sejarah manusia. Teknologi berkembang pesat, konektivitas lintas benua terjadi dalam hitungan detik, dan pengetahuan seolah tak lagi memiliki batas. Tetapi di balik semua itu, dunia justru terasa semakin terbelah. Perang tidak berhenti, ketimpangan melebar, dan rasa saling percaya antarbangsa semakin menipis. Alih-alih membangun dunia baru, umat manusia justru sibuk membangun dan memperkuat kubu masing-masing.

Pidato Sukarno, To Build the World Anew, 66 tahun yang lalu kembali menemukan relevansinya. Disampaikan di pertengahan abad ke-20, pidato itu bukan sekadar seruan politik, melainkan kritik moral terhadap tatanan dunia yang dibangun di atas dominasi dan ketakutan. Apa yang dikatakan Sukarno benar. Bahwa dunia yang dikritiknya tidak benar-benar pergi, ia hanya berganti bentuk.

Kala Perang Dingin berakhir, dunia seolah dijanjikan masa depan yang lebih damai. Runtuhnya tembok Berlin dianggap sebagai simbol berakhirnya politik blok dan politik aliansi. Faktanya tidak demikian. Sejarah rupanya bergerak dengan cara yang tidak linear. Hari ini kita menyaksikan sama-sama, politik blok kembali hadir bukan lagi dalam bentuk ideologi yang kaku, melainkan dalam aliansi strategis yang cair namun agresif.

The AUKUS, The QUAD, NATO, SCO, hingga BRICS merupakan tanda bahwa dunia kembali diorganisasi berdasarkan logika kawan dan lawan. Perbedaannya adalah, jika dulu dunia terbelah secara bipolar, kini terfragmentasi secara multipolar. Tetapi kemudian fragmentasi ini tidak otomatis menghadirkan keseimbangan. Justru sebaliknya, ia menciptakan ketidakpastian yang lebih kompleks.

Sukarno sejak awal mengkritik dunia yang dibangun di atas ketakutan. Dalam pidatonya, ia menolak logika bahwa keamanan hanya bisa dicapai melalui kekuatan militer dan aliansi eksklusif. Baginya, dunia lama adalah dunia yang memproduksi konflik dengan dalih stabilitas. Dunia baru yang ia bayangkan justru menempatkan keadilan dan kesetaraan sebagai fondasi.

Aliansi dan Krisis Kepercayaan

Munculnya aliansi-aliansi strategis hari ini sesungguhnya adalah gejala krisis kepercayaan global. AUKUS, misalnya, dibentuk atas nama keamanan Indo-Pasifik. Tetapi di balik retorika stabilitas itu, ia justru mempercepat perlombaan senjata dan meningkatkan kecemasan regional. Negara-negara di Asia Tenggara yang tidak dilibatkan dalam pembentukan aliansi tersebut justru berada di posisi paling rentan terkena dampak.

The QUAD yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia menampilkan wajah lain dari politik aliansi modern. Ia tidak secara formal disebut sebagai pakta militer, tetapi pesan geopolitiknya jelas bahwa keberadaannya menyeimbangkan pengaruh Tiongkok. Dunia kembali menyerupai papan catur, di mana kekuatan besar mengatur langkah, sementara negara-negara lain harus menyesuaikan diri agar tidak tergilas.

Di sisi lain, Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS muncul sebagai respons terhadap dominasi Barat. SCO menawarkan kerja sama keamanan dan politik di kawasan Eurasia, sementara BRICS menjanjikan alternatif ekonomi global yang lebih inklusif. Kendati begitu, pertanyaannya tetap sama; apakah aliansi ini sungguh membangun dunia baru atau hanya memindahkan pusat kekuasaan?

BRICS misalnya, sering dipandang sebagai simbol kebangkitan negara selatan-selatan. Tetapi di dalamnya terdapat perbedaan kepentingan yang tajam. Tanpa fondasi nilai yang kuat, aliansi ini berisiko mereproduksi ketimpangan dalam skala yang berbeda. Dunia baru tidak otomatis lahir hanya karena aktor-aktornya berganti.

Dari Blok Ideologi ke Blok Kepentingan

Jika Perang Dingin adalah pertarungan ideologi, maka geopolitik hari ini adalah pertarungan kepentingan. Aliansi tidak lagi dibangun atas kesamaan nilai universal, melainkan atas persepsi ancaman dan logika jangka pendek. Inilah yang membuat dunia Nampak terlihat cair, tetapi juga sekaligus semakin rapuh.

Dalam konteks inilah, pesan Sukarno menjadi sangat futuristik. Pidatonya tidak sekadar menolak kolonialisme klasik, tetapi juga memperingatkan bahaya dunia yang dikendalikan oleh elite global. To build the world anew berarti membangun tatanan yang tidak menjadikan manusia sebagai korban strategi geopolitik.

Aliansi modern seringkali mengklaim menjaga perdamaian, tetapi justru menciptakan logika yang berbasis ketakutan. Dunia menjadi aman bukan karena saling percaya, melainkan karena saling mengancam. Inilah paradoks keamanan modern yang gagal dipatahkan hingga hari ini.

Negara Berkembang di Tengah Pusaran Blok
Bagi negara selatan-selatan, kebangkitan politik aliansi menciptakan dilema serius. Di satu sisi, mereka membutuhkan kerjasama ekonomi dan keamanan, tetapi lain sisi, keterlibatan dalam blok tertentu berisiko menghancurkan kemandirian politik.

Indonesia, misalnya, berada di persimpangan strategis Indo-Pasifik. Kehadiran AUKUS dan QUAD di kawasan ini menuntut kehati-hatian ekstra. Prinsip politik luar negeri bebas-aktif kembali diuji, apakah ia masih relevan atau justru semakin penting?
Semangat Non-Blok sebagaimana dibayangkan Sukarno perlu dimaknai ulang. Non-Blok bukan sikap pasif, tetapi keberanian untuk tidak tunduk pada logika dominasi. Ia adalah cara menjaga otonomi di tengah tekanan global yang semakin halus, namun kuat.

Kepentingan aliansi abad ke-21 saat ini sudah beroperasi ke ranah yang paling mutakhir, yakni beroperasi di ranah militer dan ekonomi, tetapi juga di ranah teknologi. Perlombaan kecerdasan buatan, kontrol data, dan dominasi platform digital menciptakan bentuk baru kolonialisme-kolonialisme data. Negara yang menguasai teknologi mengendalikan masa depan.

Dalam dunia seperti ini, ketimpangan tidak hanya soal senjata dan uang, tetapi juga soal akses informasi dan kemampuan inovasi. Sukarno mungkin tidak membayangkan dunia digital seperti hari ini, tetapi kritiknya terhadap ketimpangan struktural tetap kuat dan relevan. Dunia baru tidak akan lahir jika teknologi hanya memperkuat hierarki lama.

Membangun Dunia Anew di Tengah Fragmentasi

Terakhir, pertanyaan mendasarnya kini adalah mungkinkah membangun dunia baru di tengah fragmentasi global? Jawabannya bergantung pada keberanian moral kolektif. Dunia baru tidak bisa dibangun di atas paranoia dan eksklusivitas, tetapi membutuhkan multilateralisme sejati, reformasi lembaga global, dan keberpihakan pada keamanan manusia, tidak sekadar keamanan negara.

Menurut penulis, aliansi tetap dibutuhkan, tetapi tidak boleh menjadi tujuan kekuasaan. Aliansi seharusnya menjadi alat sementara untuk mengatasi masalah bersama, bukan sebagai fondasi permanen tatanan dunia. Tanpa perubahan nilai, aliansi hanya akan memperpanjang siklus konflik.

Lebih dari setengah abad setelah Sukarno menyerukan pembangunan dunia baru, umat manusia masih terjebak dalam dilema yang sama, yakni memilih antara kekuasaan dan keadilan. Tatanan dunia modern, dengan segala aliansinya, menunjukkan kegagalan untuk keluar dari logika dunia lama.
To Build the World Anew bukan nostalgia romantik, melainkan peringatan masa depan. Melalui pidatonya, Sukarno mengingatkan bahwa dunia tidak akan berubah hanya karena struktur kekuasaan direorganisasi. Dunia berubah ketika nilai yang menopangnya ikut diperbarui.

Di tengah bangkitnya aliansi global dan fragmentasi geopolitik, pesan Sukarno justru terdengar semakin mendesak bahwa dunia baru hanya mungkin lahir jika manusia, bukan kekuatan, ditempatkan di pusat sejarah. Jika tidak, kita hanya akan membangun ulang dunia lama dengan alat yang lebih canggih dan kerusakan yang lebih luas.

(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)

  • Penulis: Muhammad Suryadi R
  • Editor: Muhammad Suryadi R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo Play Button photo_camera 4

    Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 260
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kedai kopi baru bernama Tempat Kemarin perlahan menjelma menjadi ruang favorit anak muda lintas generasi di Kota Gorontalo. Mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga warga umum, kedai ini ramai dikunjungi terutama pada sore hingga malam hari. Terletak di Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U-1, Kecamatan Kota Selatan, posisi kedai ini terbilang sangat strategis. Di […]

  • Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 665
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya sorotan terhadap kekayaan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga, sebuah unggahan dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Kabupaten Pohuwato, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menarik perhatian publik. Unggahan yang dibuat pada 12 Maret 2026 tersebut dinilai relevan dengan maraknya perbincangan mengenai gaya hidup dan kekayaan sejumlah […]

  • Pemkot–BPSDM Gorontalo Gelar Pelatihan PBJ Pemerintah

    Pemkot–BPSDM Gorontalo Gelar Pelatihan PBJ Pemerintah

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Gorontalo memulai Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pemerintah. Kegiatan ini berlangsung di Kelas NKRI BPSDM Provinsi Gorontalo ini sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas aparatur dalam memahami dan mengimplementasikan proses pengadaan barang dan jasa secara profesional, transparan, dan akuntabel. “Pada hari […]

  • Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

    Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur […]

  • Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Khoirul Umam Mubarok
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Delapan tahun berturut-turut sejak 2016, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Tahun 2024, pemerintah bahkan menyerahkan LKPP tepat waktu — dirayakan sebagai pencapaian akuntabilitas fiskal yang membanggakan. Di saat bersamaan, kebijakan efisiensi anggaran senilai Rp306 triliun justru memantik kritik luas karena menyasar program pembangunan strategis. […]

  • Hijau Hitam di Era Digital: Semarak Milad ke-79 HMI

    Hijau Hitam di Era Digital: Semarak Milad ke-79 HMI

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo.com
    • visibility 366
    • 0Komentar

    Nulondalo.com-Makassar. Suasana Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun ini terasa berbeda. Meski tidak semua kader hadir secara fisik dalam perayaan, semangat kebersamaan tetap bergema di ruang-ruang digital. Status WhatsApp, unggahan Instagram, hingga cuitan di Twitter menjadi tanda bahwa kader HMI di seluruh penjuru tanah air ikut menyemarakkan momentum bersejarah ini. Kebanggaan sebagai kader tampak nyata. […]

expand_less