Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Masa Depan Partai Islam di Serambi Madinah oleh Dr. Funco Tanipu

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 179
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Partai-partai Islam di Indonesia rata-rata mengambil gambar Bulan sebagai lambang partainya masing-masing. Selain bulan, ada juga bintang sebagai bagian dari lambang partai. Selain partai, ada beberapa ormas yang menggunakan bulan sebagai lambang organisasi, seperti HMI, GP Ansor, dll.

Bulan dan bintang memiliki makna keberanian, ketinggian, keteguhan, dan kekuatan politik yang menjamin tegaknya syariat Islam.

Selain jadi lambang partai, bulan juga pertanda waktu bagi perempuan ; datang bulan. Juga penanda kesejahteraan ; awal bulan dan akhir bulan. Tapi, yang parah jika dijadikan “bulan-bulanan”.

Di Gorontalo, sayangnya nama bulan menjadi istilah minuman memabukan (komix dicampur sprite/minuman bersoda) yakni menjadi bulan-bulan.

Sebenarnya, walaupun penggunaan simbol bulan dan bintang lebih kental dengan era Islam, tetapi penggunaan bulan sabit dan bintang sebagai simbol sebenarnya sudah jauh lebih dahulu digunakan sebelum masa Islam. Simbol ini telah digunakan beberapa ribu tahun sebelumnya. Namun informasi tentang asal-usul simbol ini sulit untuk dikonfirmasi, tetapi sebagian besar sumber setuju bahwa simbol astronomi kuno ini pernah digunakan oleh masyarakat Asia Tengah dan Siberia dalam pemujaan mereka terhadap dewa-dewa matahari, bulan, dan langit. Ada juga laporan yang mengatakan bahwa bulan sabit dan bintang digunakan untuk mewakili dewi Carthaginian, Tanit, atau dewi Yunani, Diana.

Secara umum, ada 12 negara Islam yang menggunakan bulan pada bendera negaranya. Di Luar negara Islam tersebut, ada 2 negara non muslim yang menggunakan lambang bulan yakni Singapura dan Nepal.

Pada Pemilu 2024, total ada 3 partai yang menggunakan lambang bulan untuk lambang partai yakni PKB, PKS, dan PBB.

Untuk ketiga partai ini, tentu saja niatnya untuk menyampaikan kepada konstituen bahwa partai tersebut merepresentasikan nilai-nilai Islam, dan berharap umat Islam bisa menyalurkan aspirasi politik melalui partai itu.

Tentu saja, secara lebih teknis, program ketiga partai ini lebih banyak yang berkaitan dengan program-program yang bernuansa Islam.

Persoalan apakah nanti partai-partai tersebut memang benar-benar memperjuangkan aspirasi umat Islam atau tidak, itu persoalan berikut. Sebab jika melihat trend perolehan suara, suara partai-partai yang berlambang bulan semakin hari semakin turun dibandingkan partai yang tidak menggunakan lambang bulan.

Partai Islam sendiri, yang terdiri dari PKB, PKS, PAN, PPP, PBB, Partai Ummat pada Pemilu 2024 meraih 46.886.819 suara atau 30.89 % pemilih. Secara perolehan suara, naik sekitar 4.827.441 suara dari Pemilu 2019.

Jika melihat tren tersebut, konsentrasi pemilih lebih banyak berada di PKB, PKS dan PAN. Adapun PPP sudah keluar dari parlemen karena tidak memenuhi ambang batas parlemen.

Secara khusus di Gorontalo, perolehan suara partai Islam di Gorontalo sejak Pemilu tahun 1955 hingga 2024 terus menurun. Bahkan, dalam sejarah penempatan wakil di DPR RI, baru PPP yang berhasil menempatkan wakil di DPR RI yakni Suharso Monoarfa dan AW Thalib. Itupun jika ditilik lebih mendalam, Soeharso bisa lolos ke DPR RI karena didominasi faktor individual, demikian pula AW Thalib tahun 2009 karena limpahan pemilihnya yang emosional saat dirinya tidak lolos di Pilwako 2008.

Adapun PKB, PKS, dan PAN, belum pernah menempatkan kadernya di DPR RI. Padahal jika melihat berbagai hasil survey tentang jumlah pemilih yang terafiliasi pada organisasi seperti NU yang cenderung “dekat” ke PKB dan Muhammadiyah “dekat” ke PAN serta organisasi Islam lain, termasuk yang beririsan ideologi dengan PKS, mestinya partai-partai tersebut sudah pernah dan telah mengirimkan wakil ke DPR RI. Nyatanya tidak demikian. Pemilih NU, Muhammadiyah dan organisasi Islam lain, lebih memilih elit partai nasionalis yang lebih dianggap bisa mewakili aspirasinya.

Tren lima kali Pemilu dari 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024, wakil Gorontalo di DPR RI cenderung diisi partai-partai nasionalis seperti Golkar, Gerindra dan Nasdem. Hal ini berarti bahwa semangat “bulan” yang dibawa oleh partai-partai Islam, tidak dianggap bisa mewakili aspirasi pemilih Islam itu sendiri.

Sentimen ideologi yang begitu ketat dan cenderung “kanan” saat Pemilu 2019, mulai bergerak ke tengah saat Pemilu 2024. Jualan “ideologi bulan” sepertinya sudah tidak relevan.

Pertanyaannya, bagaimana nasib partai-partai Islam Gorontalo di 2029 nanti? Apakah akan seperti biasa ataukah malah cenderung menurun? Sebab, jika untuk meningkat dari Pemilu 2024 sepertinya tidak ada tanda-tanda yang signifikan. Hal ini terlihat pada hasil perolehan kursi di DPRD Provinsi tahun 2024, bahwa PAN, PPP, PKB, PKS cenderung bertahan seperti Pemilu 2019 dan tidak naik. Termasuk tidak terlihat indikasi akan naik untuk Pemilu 2029.

Jika Pun ada elit-elit partai yang menggunakan sentimen agama pasca Pemilu 2024 bukanlah elit partai Islam, tetapi partai non Islam, salah satu contoh adalah Adhan Dambea yang dulunya di PAN kini beralih ke Gerindra, apalagi kini terpilih menjadi Walikota Gorontalo. Tentu saja pemilih yang cenderung pro ke isu keagamaan lebih cenderung akan memilih Gerindra dibandingkan partai-partai Islam.

Nah, untuk distribusi elit partai pun, elit-elit yang powerfull memiliki kecenderungan bergabung dengan partai-partai nasionalis. Hal ini karena rekrutmen elit partai oleh partai-partai Islam cenderung tertutup, sehingga barisan elit adalah dari kelompok yang terbatas networking dan sumber daya.

Pertanyaannya, apakah afiliasi organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah hingga organisasi lain bisa diharapkan untuk bisa mengarahkan anggotanya ke partai-partai Islam, sepertinya akan sulit. Organisasi-organisasi keagamaan tersebut tidak sama struktur dan kulturnya seperti di Jawa, NTB atau Kalimantan Selatan yang irisan partai Islam serta organisasi keagamaan sangatlah kental.

Apalagi misalnya jika partai-partai Islam tersebut dalam rancangan program serta agenda kepartaian tidaklah mencerminkan agenda keumatan.

Jadi, bisa saja Gorontalo diklaim sebagai daerah Serambi Madinah pemilihnya pun cenderung menginginkan adanya agenda-agenda keumatan, tetapi karena partai-partai Islam memilih jalur yang berlainan dengan keinginan pemilih, maka masa depan partai-partai Islam di Gorontalo bisa saja akan memasuki era senjakala.

Penulis : Dr. Funco Tanipu, MA  (Akademisi Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Baju Baru Lebaran: Antara Sunnah, Syukur, dan Makna yang Sering Terlupa

    Baju Baru Lebaran: Antara Sunnah, Syukur, dan Makna yang Sering Terlupa

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 553
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional selalu dipenuhi masyarakat yang berburu pakaian baru. Fenomena ini seolah menjadi tradisi yang mengakar, bahwa Lebaran identik dengan baju baru. Bahkan, tak sedikit yang merasa ada yang kurang jika tidak mengenakan pakaian baru saat hari kemenangan tiba. Namun, apakah benar memakai baju baru […]

  • Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, resmi mengukuhkan Muhammad Aras Prabowo sebagai Doktor Ilmu Akuntansi dalam sidang terbuka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sabtu (27/9). Aras meraih gelar doktor lewat disertasi berjudul “Nilai-Nilai Teseng dalam Konstruksi Akuntabilitas di Sektor Pertanian”. Penelitiannya mengangkat kearifan lokal masyarakat Bugis Bone, khususnya […]

  • Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 365
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan inovasi unik dalam membangun budaya bersih di lingkungan sekolah, yakni melalui lomba “toilet terbersih” yang digelar setiap bulan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husin Ali, menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar menilai kebersihan fisik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter […]

  • Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati di Papua Dirilis untuk Publik

    Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati di Papua Dirilis untuk Publik

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 344
    • 0Komentar

    GORONTALO, NULONDALO.COM – Upaya baru dalam pelestarian alam di Indonesia bagian timur lahir dengan selesainya identifikasi Important Bird and Biodiversity Areas (IBAs) di wilayah Papua. Melalui kerja sama antara Burung Indonesia dan berbagai mitra strategis, data ini kini dapat diakses oleh publik sebagai alat bantu utama dalam menentukan daerah prioritas pelestarian keanekaragaman hayati di Papua dengan menggunakan […]

  • Adhan Dambea Tegaskan Siap Tindak Tegas Caffe dan Warung Penjual Miras di Kota Gorontalo

    Adhan Dambea Tegaskan Siap Tindak Tegas Caffe dan Warung Penjual Miras di Kota Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Calon Wali Kota Gorontalo terpilih, Adhan Dambea, menegaskan komitmennya untuk memberantas peredaran minuman keras (miras) di wilayah Kota Gorontalo. Ia menyatakan tidak akan memberi toleransi bagi caffe maupun warung yang kedapatan menjual miras, termasuk menindak tegas oknum yang menjadi backing di balik aktivitas ilegal tersebut. Adhan menuturkan, langkah tegas ini akan langsung ia buktikan setelah […]

  • Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 259
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap eks Kapolres Bima Kota AKBP DPK resmi menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Putusan tersebut dibacakan dalam sidang etik yang digelar di Gedung TNCC Mabes Polri, Kamis (19/2/2026). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa sidang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga […]

expand_less