Pendapatan Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
- visibility 158
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan fenomena unik dalam dunia akuntansi: grafik konsumsi naik, grafik diskon bertebaran, dan grafik kesabaran kadang turun—terutama saat menjelang buka puasa. Namun di balik riuhnya “war takjil” dan promo “beli dua gratis pahala (eh, maksudnya gratis satu)”, ada satu jenis pendapatan yang jarang dicatat dalam laporan keuangan: Pendapatan Langit.
Sebagai dosen akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Kalau PSAK mengatur pengakuan pendapatan berbasis akrual, maka Ramadhan mengajarkan pengakuan pahala berbasis keikhlasan.” Bedanya tipis, tapi implikasinya kosmis.
Dalam akuntansi konvensional, pendapatan diakui saat hak telah diperoleh dan dapat diukur secara andal. Dalam akuntansi Ramadhan, pendapatan langit diakui saat niat telah lurus dan amal dilakukan tanpa pamrih. Ini bukan standar yang diterbitkan oleh IAI, melainkan oleh “Dewan Standar Akhlak Ilahiah” yang sidangnya tidak pernah deadlock dan auditornya tidak bisa disuap.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar