Pendapatan Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
- visibility 163
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bayangkan jika setiap pejabat dan pengusaha menghitung pendapatan langit sebelum menghitung pendapatan proyek. Mungkin defisit moral bisa ditekan, dan surplus integritas bisa ditingkatkan. Sebab krisis terbesar bangsa ini bukan krisis fiskal, tetapi krisis etikal.
Sebagai akademisi, saya melihat Ramadhan sebagai momentum revaluasi aset jiwa. Kita menilai kembali apakah aset kesabaran masih produktif atau sudah menjadi non-performing asset. Kita audit ulang utang-utang sosial—janji yang belum ditepati, maaf yang belum diminta, hak yang belum dikembalikan.
Pada akhirnya, pendapatan langit adalah tentang perspektif. Kita boleh kaya harta, tetapi jangan miskin makna. Kita boleh sibuk mencatat transaksi dunia, tetapi jangan lupa mencatat transaksi akhirat. Karena saat tutup buku kehidupan dilakukan, yang berlaku bukan standar internasional, melainkan standar keadilan Ilahi.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar