Post-Tarbiyah : Akhir Politik Kebencian
- account_circle Almunauwar Bin Rusli
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 85
- print Cetak

Almunauwar bin Rusli - Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999), Fukuyama mengatakan jika kejahatan sosial di Amerika dan Eropa sering terjadi karena hilangnya struktur keluarga yang sehat, tingginya angka perceraian dan meningkatnya anak yang dibesarkan orang tua tunggal. Dalam State-Building: Governance and World Order in the 21st Century (2004), lagi-lagi Fukuyama mengatakan jika birokrasi profesional adalah syarat mutlak bagi terciptanya pembangunan, keamanan, dan demokrasi. Dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995), akhirnya Fukuyama mengunci dengan pernyataan bahwa industri bisnis berwatak fleksibel merupakan modal dasar memenangkan perekonomian global dan hanya pada masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan sosial tinggilah modal ini akan terwujud.
Evolusi Tarbiyah Dalam Kehidupan Modern
Mengikuti pikiran Hegel (1956), gagasan post-tarbiyah ini terus bergerak maju melalui proses sejarah yang rasional-universal, teratur serta berdialektika agar bisa menciptakan struktur dan fungsi kehidupan yang lebih baik. Dalam Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment (2018) Fukuyama menegaskan kembali apabila akhir sejarah umat manusia ialah kebutuhan akan pengejaran materi (homo economicus) dan kebutuhan akan pengakuan martabat (homo honorificus). Tarbiyah pun berevolusi menuju kedua hukum sejarah ini melalui lensa ekonomi klasik Smith (1776) yaitu kepentingan diri (self-interest), pembagian kerja (division of labour), pertukaran modal (capital exchange), kebebasan berpikir & bertindak (laissez-faire), permintaan & penawaran (supply and demand) serta keseimbangan sosial (invisible hand). Pembangunan berkelanjutan hanya ilusi jika hanya mengandalkan satu aliran. Jika hanya ada modernis, pembangunan akan kering spiritual. Jika hanya ada tradisionalis, pembangunan akan dibunuh oleh status quo, dan jika hanya ada revivalis, pembangunan akan dikubur oleh kekerasan identitas. Melalui mekanisme ‘pasar agama’, interaksi ketiganya menciptakan checks and balances. Jika prinsip fundamental ini diterapkan, maka politik kebencian akan berkesudahan.
Penutup
Post-tarbiyah ditandai oleh dua proses utama yaitu unifikasi dan evolusi. Post-tarbiyah hadir untuk mengikis habis sentimen populis dan menjawab tantangan pembangunan di tengah krisis. Ketika manusia hanya dididik untuk mengultuskan dan mengimitasi ajaran Islam yang sudah diwariskan tradisi, maka Islam tidak akan efektif untuk menjawab masalah disrupsi informasi. Ketika manusia hanya dididik untuk alergi dengan peradaban Barat, maka Islam akan terisolasi dari kemajuan teknologi. Ketika manusia hanya dididik untuk membela makna literal kitab suci, maka Islam hanya akan menjadi rantai besi yang membelenggu mulut dan kaki perempuan agar tidak terlibat dengan gaya hidup kosmopolitan. Mari kita beri kesempatan bagi intelektual-intelektual muda progresif untuk terus bersuara dan bernafas !
Penulis : Dosen IAIN Manado/Anggota KPPP MUI Sulawesi Utara
- Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Saat ini belum ada komentar