Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dari Dosa Akuntansi ke Selera Politik

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 332
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri ini, fraud dan kriminalisasi sering kali seperti dua santri yang duduk satu bangku: kelihatannya berbeda kitab, tapi ujian akhirnya sama-sama bikin deg-degan. Fraud yang awalnya dosa akuntansi, lama-lama naik kelas menjadi dosa pidana. Sementara kriminalisasi, yang mestinya urusan hukum, kadang terasa seperti urusan selera politik. Maka jangan heran, jabatan publik kini sering dipersepsikan bukan sebagai amanah, tapi sebagai ladang ujian iman dan kesabaran—bahkan sebelum mati sudah diuji siksa kubur versi birokrasi.

Tatakelola manajemen pemerintahan sejatinya adalah pagar agar kambing tidak masuk kebun. Masalahnya, pagar sering bolong, kuncinya dipegang ramai-ramai, dan kambingnya malah ikut rapat menentukan tinggi pagar. Akibatnya, kontrol internal lemah, transparansi jadi jargon seminar, dan whistleblower lebih sering meniup peluit di kamar mandi daripada di ruang rapat. Bukan karena tak berani, tapi karena tahu: yang bersuara sering lebih dulu “disuarakan” ke aparat.

Good governance sering disebut-sebut seperti wirid setelah salat: dihafal, tapi tidak selalu diamalkan. Transparansi? Ada, tapi transparan ke atasan saja. Akuntabilitas? Ada, tapi akuntabel ke kekuasaan, bukan ke publik. Maka fraud pun bukan lagi penyimpangan, melainkan kebiasaan yang kalau tidak dilakukan justru dianggap tidak solid.

Dalam dunia akuntansi pemerintah, laporan keuangan seharusnya jujur seperti santri ngaji sorogan: salah sedikit langsung ditegur. Namun realitasnya, angka bisa lebih lentur daripada niat diet awal tahun. Belanja bisa membengkak tanpa kolesterol, kewajiban bisa ditunda seperti janji kampanye, dan pencatatan fiktif kadang lebih rapi daripada catatan kas masjid. Laporan keuangan akhirnya bukan cermin realitas, tapi bedak agar wajah anggaran tampak segar di depan auditor.

Kasus laporan keuangan fiktif di berbagai daerah menunjukkan kreativitas birokrasi yang luar biasa. Jika energi ini dialihkan ke inovasi pelayanan publik, mungkin antrean KTP sudah punah. Sayangnya, kreativitas justru dipakai untuk menyamarkan defisit, menyulap proyek gagal jadi “on track”, dan membuat kerugian negara terlihat seperti salah paham semata.

Struktur otorisasi keuangan idealnya seperti pembagian tugas di dapur pesantren: siapa masak, siapa belanja, siapa cuci piring. Namun di birokrasi, satu orang bisa masak, belanja, sekaligus menentukan menu, lalu heran kenapa dapur terbakar. Tanpa checks and balances, wewenang berubah menjadi senjata makan tuan. Fraud pun tumbuh bukan hanya karena niat jahat, tetapi karena sistem memberi karpet merah bagi kesalahan.

Akuntabilitas berjenjang sering kali berhenti di jenjang tertentu—biasanya tepat di bawah atasan yang “tak tersentuh”. Yang di bawah diminta bertanggung jawab penuh, yang di atas cukup bertanggung jawab secara moral, dan moralnya pun fleksibel mengikuti arah angin politik. Maka jangan heran jika staf kecil bisa jadi tersangka, sementara pengambil keputusan strategis cukup jadi saksi ahli di ruang tamu.

Kriminalisasi kemudian hadir sebagai babak lanjutan. Idealnya, hukum menindak fraud dengan adil dan objektif. Tapi dalam praktik, hukum kadang seperti senter: terang ke satu arah, redup ke arah lain. Ada kasus yang jelas tapi senyap, ada yang abu-abu tapi bising. Fraud yang sama bisa jadi pelanggaran administratif hari ini, tapi besok berubah menjadi pidana, tergantung siapa yang sedang butuh tumbal.

Di sinilah politisasi jabatan menemukan panggungnya. Jabatan publik diperlakukan seperti kursi rebutan di acara hajatan: siapa kuat, dia dapat. Ketika konflik muncul, laporan hukum menjadi senjata pamungkas. Kriminalisasi pun bukan lagi soal benar-salah, tapi soal siapa berdiri di barisan siapa.

Akibatnya, para profesional mulai berpikir dua kali. Akuntan, auditor, ekonom, akademisi yang hidupnya terbiasa dengan standar, prosedur, dan footnote, mendadak harus siap hidup dengan pasal. Masuk pemerintahan bukan lagi soal pengabdian, tapi soal kesiapan mental menghadapi kemungkinan “niat baik yang salah alamat”.

Kesalahan administratif bisa ditarik jadi fraud, diskresi kebijakan bisa ditafsirkan sebagai niat jahat, dan kerugian negara versi audit bisa menjadi vonis sosial sebelum pengadilan bicara. Profesional pun bertanya dalam hati: lebih baik memperbaiki sistem dari dalam dengan risiko dibui, atau mengkritik dari luar sambil minum kopi?

Dampaknya serius. Negara kehilangan orang-orang terbaik. Jabatan publik diisi bukan oleh yang paling kompeten, tapi oleh yang paling tahan banting secara politik. Yang punya integritas sering minggir, yang punya “backup” justru maju. Lingkaran setan pun terbentuk: kualitas turun, kesalahan naik, kriminalisasi menguat, lalu profesional makin menjauh.

Pemulihan kepercayaan tidak cukup dengan slogan “bersih dan melayani” yang ditempel di dinding kantor. Yang dibutuhkan adalah kejelasan: mana kesalahan administratif, mana kebijakan gagal, mana fraud sungguhan. Aparat harus menghukum niat jahat, bukan niat baik yang tersandung sistem.

Seperti kata Gus Dur, “Kalau orang jujur malah masuk penjara, nanti yang tidak jujur jadi minder.” Jabatan pemerintahan hanya akan kembali dipercaya ketika integritas tidak dipidana, profesional tidak dijadikan korban, dan hukum benar-benar menjadi panglima, bukan penonton yang bertepuk tangan pada skenario politik.

Kalau tidak, jabatan publik akan terus ditakuti, bukan dihormati. Dan negara pun harus siap kehilangan orang-orang baik, bukan karena mereka tidak mau mengabdi, tapi karena mereka terlalu waras untuk mempertaruhkan hidup pada sistem yang gemar salah sasaran.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Di antara beragam kuliner Nusantara yang menggoda selera, Lalampa menjadi salah satu kue tradisional khas Gorontalo yang patut diperkenalkan lebih luas. Kue ini merupakan simbol kekayaan kuliner pesisir Sulawesi, terutama dari masyarakat Gorontalo yang kaya akan rempah dan hasil laut. Sekilas, Lalampa terlihat seperti lemper dari Jawa. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan keunikan […]

  • Di Iftar Pendidikan Gorontalo, Indra Gobel Soroti Pentingnya Pendidikan dan Kebudayaan photo_camera 2

    Di Iftar Pendidikan Gorontalo, Indra Gobel Soroti Pentingnya Pendidikan dan Kebudayaan

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 249
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Keluarga besar Yayasan Pendidikan Dakwah Islamiyah Al Huda, IGTKI-PGRI, serta Komunitas Belajar Kreatif Kecamatan Kota Selatan menggelar kegiatan Iftar Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo yang dirangkaikan dengan silaturahmi Ramadan insan pendidikan. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, yang mewakili Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea. Turut hadir pimpinan Pondok Pesantren Al-Huda, […]

  • Umumkan Juara O2SN-FL2SN SD, Dinas Pendidikan Kota Ternate Siap Beri Dukungan Menuju Tingkat Provinsi Hingga Nasional

    Umumkan Juara O2SN-FL2SN SD, Dinas Pendidikan Kota Ternate Siap Beri Dukungan Menuju Tingkat Provinsi Hingga Nasional

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Dinas Pendidikan Kota Ternate menggelar kegiatan penetapan dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) tingkat Sekolah Dasar pada Kamis, 17 April 2025. Acara ini berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kota Ternate mulai pukul 15.00 WIT hingga selesai. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang […]

  • Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Lalyla binti Abdullah bin Abdu Syams al-Qurasyiyah al-Adawaiyah atau lebih dikenal dengan Al-Shifah binti Abdullah adalah perempuan Quraisy dari Bani ‘Adi yang masuk Islam pada fase awal dakwah di Makkah, lalu hijrah ke Madinah. Informasi tentang dirinya memang tidak sebanyak tokoh perempuan lain, tetapi data yang tersedia cukup jelas dalam beberapa sumber klasik seperti Al-Tabaqat […]

  • Dari Lailatul Ijtima’ ke Kemandirian: Pesan Hangat KH. Zulfa Musthofa di Gorontalo

    Dari Lailatul Ijtima’ ke Kemandirian: Pesan Hangat KH. Zulfa Musthofa di Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 497
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Zulfa Musthofa, menegaskan pentingnya membangun kemandirian organisasi melalui penguatan tradisi keagamaan Lailatul Ijtima’ sebagai fondasi gerakan Nahdlatul Ulama (NU) di daerah. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor PWNU Gorontalo pada Ahad, 19 April 2026. Acara tersebut dihadiri para ulama, kiai, tokoh […]

  • Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 177
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Pajukukang resmi mengawali rangkaian pengabdian kepada masyarakat melalui Seminar Rancangan Program Kerja yang digelar di Kantor Desa Pajukukang, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30–12.00 WITA itu dihadiri Kepala Desa Pajukukang, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dosen […]

expand_less