Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 387
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar)

Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar.

Padahal, dalam perspektif sosiologi dan pendidikan kritis, kenakalan remaja bukanlah sebab utama, melainkan akibat dari kegagalan sosial yang sistemik. Busur yang dilepaskan di jalanan bukan sekadar senjata, melainkan simbol kegagalan ruang-ruang sosial keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara dalam merawat proses tumbuh remaja sebagai manusia yang utuh.

Kekosongan Norma dan Sekolah yang Gagal Memanusiakan

Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi kehilangan pedoman nilai sebagai anomie. Banyak remaja hari ini hidup dalam situasi tersebut: dituntut patuh, berprestasi, dan sukses, tetapi tak disediakan ruang aman untuk gagal, bertanya, atau berbeda.

Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang integrasi sosial, kerap berubah menjadi mesin seleksi. Nilai akademik dijadikan ukuran tunggal keberhargaan manusia. Remaja yang tak sesuai standar dianggap “masalah”, bukan subjek yang perlu didampingi. Akibatnya, sebagian remaja tercerabut dari sistem nilai resmi dan mencari makna di luar institusi bahkan melalui kekerasan.

Pembusuran dan tawuran pun menjelma sebagai ruang identitas alternatif di tengah kekosongan norma.

Stigma, Label “Nakal”, dan Kekerasan Simbolik

Teori labeling Howard Becker menjelaskan, penyimpangan sosial sering lahir dari reaksi masyarakat itu sendiri. Remaja yang terus dicap “nakal”, “bermasalah”, atau “gagal” perlahan menjadikan label itu sebagai identitas diri.

Di sinilah kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu, bekerja secara halus namun mematikan martabat. Bahasa merendahkan, sistem penilaian yang timpang, hingga praktik pengucilan membuat sebagian remaja terutama dari latar belakang rentan kehilangan rasa berharga.

Ketika institusi resmi gagal memberi pengakuan, geng dan kekerasan justru menyediakan status, solidaritas, dan rasa memiliki.

Ketimpangan Struktur, Jalan Buntu Pengakuan

Robert K. Merton melalui teori strain menegaskan bahwa penyimpangan muncul ketika terdapat jurang antara tujuan sosial yang diagungkan dan sarana legal untuk mencapainya. Masyarakat memuja prestasi dan kehormatan, namun akses terhadap pendidikan yang adil, inklusif, dan manusiawi masih timpang.

Dalam kondisi seperti ini, kenakalan remaja bukan tindakan acak, melainkan bentuk adaptasi menyimpang terhadap struktur sosial yang menutup jalur pengakuan yang sah. Pembusuran menjadi bahasa frustrasi dari generasi yang merasa pintu-pintu masa depan ditutup rapat.

Budaya Kekerasan yang Diam-diam Diajarkan

Masyarakat kerap mengutuk kekerasan remaja, namun tanpa sadar ikut menormalisasikannya: bentakan orang dewasa, hukuman fisik, perundungan yang dianggap wajar, hingga pemberitaan sensasional. Semua itu menjadi “kurikulum sosial” yang mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara memperoleh kuasa.

Albert Bandura menegaskan perilaku dipelajari dari apa yang dilihat. Jika konflik di ruang publik diselesaikan dengan dominasi dan ketakutan, maka tuntutan agar remaja memilih dialog menjadi kehilangan pijakan moralnya.

Negara, Represi, dan Solusi Instan

Tekanan publik yang cenderung menghukum kerap memberi legitimasi politis bagi negara untuk memilih jalan pintas: razia, penahanan, pengusiran dari sekolah. Kebijakan represif memang terlihat cepat, tetapi hanya mengelola gejala, bukan akar masalah.

Negara masih abai membenahi pendidikan yang eksklusif, minim layanan kesehatan mental remaja, dan miskin ruang partisipasi anak muda. Kenakalan remaja direduksi menjadi soal keamanan semata, padahal ia adalah krisis sosial dan pendidikan.

Cermin Retak Bernama Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja termasuk pembusuran bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif. Ia menyingkap bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang pemanusiaan, masyarakat lebih gemar menghakimi daripada mendengar, dan negara memilih ketertiban instan ketimbang keadilan jangka panjang.

Remaja tidak dilahirkan sebagai pelaku kekerasan. Mereka dibentuk oleh struktur sosial yang gagal merawat harapan. Selama pendidikan lebih peduli pada angka daripada manusia, dan masyarakat lebih sibuk memberi label ketimbang membuka ruang, busur akan terus menemukan tangannya.

Dan setiap busur yang dilepaskan adalah alarm keras: yang bermasalah bukan hanya remaja,tetapi kita semua.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ISNU Talent Pool Academy Gelar Kelas Proposal Penelitian, Dorong Lahirnya Intelektual Menuju Indonesia Emas 2045

    ISNU Talent Pool Academy Gelar Kelas Proposal Penelitian, Dorong Lahirnya Intelektual Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 236
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) melalui ISNU Talent Pool Academy kembali menghadirkan kelas inspiratif bertajuk “Kelas Proposal Penelitian” pada Jumat, 10 April 2026 pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Aras Prabowo, Kaprodi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sekaligus awardee Beasiswa Unggulan, dan menjadi bagian dari upaya membangun jalur terstruktur BIB 2026 […]

  • Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire

    Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Multazam. R
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Indikator utama kemajuan sebuah bangsa adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Negara dengan sistem pendidikan yang baik, umumnya memberikan jaminan terhadap mutu proses pembelajaran, masa depan murid, dan menciptakan SDM yang inovatif serta kritis, yang nantinya akan menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial. Di tengah himpitan arus globalisasi yang bebas nilai, pendidikan di […]

  • PWNU Gorontalo Imbau Tunda Kegiatan Besar, Ikuti Arahan PBNU untuk Perbanyak Zikir

    PWNU Gorontalo Imbau Tunda Kegiatan Besar, Ikuti Arahan PBNU untuk Perbanyak Zikir

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, Drs. H. Ibrahim T. Sore, mengimbau seluruh warga dan pengurus NU di daerahnya agar menunda sementara kegiatan seremonial yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Langkah ini sejalan dengan arahan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) guna menjaga kondusivitas di tengah situasi daerah yang belum stabil. “Untuk mengantisipasi keadaan, […]

  • Pra Konbes dan Munas Alim Ulama 2026 Bahas I’adatun Nazhar, NU Susun Pedoman Peninjauan Ulang Keputusan Bahtsul Masail

    Pra Konbes dan Munas Alim Ulama 2026 Bahas I’adatun Nazhar, NU Susun Pedoman Peninjauan Ulang Keputusan Bahtsul Masail

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 241
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mekanisme I’adatun Nazhar atau peninjauan ulang terhadap keputusan-keputusan Bahtsul Masail menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam Webinar Pra Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 yang digelar pada Ahad, 14 Juni 2026. Dalam pengantarnya, anggota Komisi Maudhu’iyah sekaligus pengurus LBM PBNU, KH Abdullah Aniq Nawawi, menjelaskan […]

  • Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Indonesia tercatat memiliki populasi hewan ternak yang sangat besar pada 2025. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ayam menjadi jenis ternak yang paling mendominasi dengan jumlah mencapai 3,92 miliar ekor. Berdasarkan publikasi yang dirilis melalui platform IndonesiaBaik.id, populasi ayam tersebut mencakup ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung, ayam ras pedaging, […]

  • SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Desa Majannang kembali menjadi sorotan setelah salah satu tokoh pemuda desa, Sakti, melontarkan kritik keras terhadap kondisi sebagian pemuda di Dusun Taipa, Desa Majannang, yang dinilai mulai kehilangan kepedulian terhadap masa depan desanya sendiri. Menurut Sakti, banyak pemuda saat ini lebih memilih diam dan acuh terhadap berbagai persoalan sosial di desa. Bahkan, […]

expand_less