Breaking News
light_mode
Trending Tags

Map Is Not Territory

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 139
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Pepy Albayqunie (Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

Dalam kegiatan orientasi atau pelatihan Moderasi Beragama, ada satu latihan sederhana yang sering memantik diskusi selanjutnya. Peserta diminta menggambar denah perjalanan dari rumah menuju lokasi pelatihan. Tidak perlu akurat, tidak perlu artistik—cukup versi mereka sendiri. Setelah itu, denah-denah tersebut dipertukarkan. Peserta lain diminta menjawab satu pertanyaan krusial: “Apakah kamu yakin bisa sampai ke alamat tujuan hanya bermodal peta ini?”

Jawabannya hampir selalu sama: ragu. Bahkan ketika alamat yang dituju identik, peta yang dihasilkan nyaris tak pernah serupa. Ada yang menekankan masjid sebagai penanda, ada yang mengandalkan belokan dan jarak, ada yang menuliskan “warung kopi dekat pohon besar” sebagai koordinat penting. Di sinilah sebuah teori klasik menjadi sangat relevan: map is not the territory.

Ungkapan map is not the territory pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Korzybski. Intinya sederhana namun radikal: representasi realitas bukanlah realitas itu sendiri. Peta membantu kita memahami wilayah, tetapi ia selalu selektif, disederhanakan, dan dipengaruhi oleh sudut pandang pembuatnya.

Dalam konteks pelatihan Moderasi Beragama, peta perjalanan itu adalah metafora dari cara kita memandang dunia, agama, identitas, dan “yang lain”. Apa yang kita gambar bukanlah dunia sebagaimana adanya, melainkan dunia sebagaimana kita pahami.

Latihan peta tadi mengajak peserta menyentuh dua lapis realitas: realitas eksternal dan realitas internal.

Realitas eksternal adalah dunia di luar sana—jalan yang sama, bangunan yang sama, rute yang sama. Tetapi ketika realitas itu masuk ke dalam diri manusia, ia disaring oleh realitas internal.

Realitas internal adalah ruang penyimpanan data yang bekerja melalui tanda dan bahasa. Di dalamnya bercampur nilai, keyakinan, pengalaman masa lalu, asumsi, emosi, serta mental model. Dua orang melewati jalan yang sama, tetapi menyimpan ingatan dan makna yang berbeda. Bagi satu orang, masjid adalah orientasi utama; bagi yang lain, pasar atau lampu merah lebih bermakna.

Ladder of Inference: Dari Pengalaman ke Keyakinan

Chris Argyris membantu kita memahami bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan melalui konsep Ladder of Inference, atau tangga inferensi. Tangga ini menjelaskan bagaimana kita bergerak dari realitas yang nyata menuju kesimpulan, sering kali tanpa disadari.

Prosesnya dimulai dengan data dan pengalaman mentah, yaitu apa yang benar-benar terjadi. Dari sekian banyak data, kita melakukan seleksi, memilih informasi yang dianggap penting dan mengabaikan sisanya. Setelah itu, kita memberi makna pada data yang terpilih, berdasarkan bahasa, budaya, dan pengalaman pribadi.

Langkah berikutnya adalah membangun asumsi dari makna yang kita tetapkan, kemudian merumuskan kesimpulan dan keyakinan yang mendasari cara kita memandang dunia. Akhirnya, semua itu memengaruhi tindakan yang kita anggap paling tepat.

Dengan memahami tangga ini, kita bisa menyadari bahwa tindakan dan keyakinan kita bukan sekadar respons langsung terhadap realitas, melainkan hasil interpretasi berlapis yang dibentuk oleh pengalaman, pilihan, dan asumsi kita.

Saat peserta pelatihan diminta menggambar peta perjalanan dari rumah ke lokasi acara, mereka sebenarnya sedang menaiki tangga inferensi Chris Argyris—meski tidak menyadarinya. Langkah pertama dimulai dengan data mentah: jalanan yang mereka lalui, belokan yang mereka ingat, gedung atau pohon yang mereka anggap penting. Semua itu adalah realitas eksternal yang mereka alami.

Dari data mentah itu, peserta melakukan seleksi. Tidak semua jalan, lampu lalu lintas, atau detail kecil dicatat; mereka memilih apa yang menurut mereka relevan. Lalu, setiap elemen yang terpilih diberi makna, dipahami melalui pengalaman, budaya, dan bahasa masing-masing. Sebuah masjid bisa menjadi landmark penting bagi satu peserta, sedangkan warung kopi atau pasar lebih bermakna bagi peserta lain.

Berdasarkan makna itu, terbentuk asumsi: “Kalau aku belok di sini, pasti sampai,” atau “Kalau melewati gedung ini, jalannya benar.” Asumsi ini kemudian membuahkan kesimpulan dan keyakinan, seolah peserta yakin bahwa peta yang mereka buat akan membawa siapa pun ke tujuan dengan benar. Akhirnya, langkah terakhir adalah tindakan—dalam konteks latihan ini, berupa percaya pada peta atau mencoba menggunakannya untuk sampai ke alamat.

Latihan sederhana ini menunjukkan bahwa setiap peta yang dibuat hanyalah refleksi interpretasi individu, hasil pengalaman, seleksi, dan asumsi. Sama seperti dalam moderasi beragama, perbedaan peta bukanlah kesalahan; perbedaan itu menandakan bahwa tiap individu memiliki tangga inferensi sendiri. Memahami proses ini membantu peserta menyadari bahwa realitas bukan hanya apa yang terlihat di luar, tapi juga bagaimana kita menafsirkannya—dan dari interpretasi itulah tindakan kita lahir.

Pengalaman dan Interpretasi sebagai Kunci

Di sinilah pengalaman dan interpretasi muncul sebagai koentji utama. Semakin kaya pengalaman seseorang, semakin banyak referensi yang dimilikinya untuk membaca realitas, semakin fleksibel pula ia dalam memahami dunia. Namun pengalaman semata tidak cukup. Pengalaman harus disertai kesadaran interpretatif—kemampuan untuk menyadari bahwa apa yang kita tangkap hanyalah satu peta di antara sekian banyak peta lain yang mungkin ada. Tanpa kesadaran ini, pengalaman berisiko menjadi alat untuk menguatkan asumsi sendiri, bukan untuk memperluas pemahaman.

Latihan sederhana menggambar denah perjalanan menjadi refleksi yang sangat relevan. Jika untuk urusan sepele seperti mencari alamat kita bisa berbeda, bingung, bahkan ragu-ragu, mengapa kita begitu yakin bahwa pemahaman keagamaan kita sepenuhnya mewakili “wilayah” yang sesungguhnya? Latihan ini mengajarkan bahwa moderasi bukan sekadar menahan diri dari konflik, tetapi mampu melihat peta orang lain, menguji asumsi sendiri, dan bergerak dengan kesadaran bahwa peta kita selalu parsial dan sementara. Dengan kata lain, moderasi beragama adalah seni menavigasi keragaman peta tanpa kehilangan arah, sambil tetap terbuka untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Dalam perspektif ini, Moderasi Beragama bukan untuk menyeragamkan peta, apalagi menghapus peta orang lain. Moderasi berarti menyadari keterbatasan peta kita sendiri, memberi ruang bagi peta orang lain, dan bersedia meninjau ulang tangga inferensi yang selama ini kita naiki secara otomatis.

Semua peta layak dipahami sebelum dinilai. Dengan pendekatan ini, moderasi bergerak dari sekadar slogan menjadi praktik reflektif: menunda penghakiman, memperkaya pengalaman, dan memelihara kesadaran interpretatif yang kritis.

Pada akhirnya, peta memang bukan wilayah. Namun tanpa peta, kita mudah tersesat. Tantangannya bukan memilih satu peta untuk semua orang, melainkan belajar membaca banyak peta sekaligus—dengan rendah hati, terbuka, dan sadar bahwa realitas selalu lebih luas daripada yang bisa digambarkan oleh setiap peta individu.

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

  • Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 229
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Umat Islam di Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi kemungkinan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Perbedaan tersebut dipicu oleh kondisi astronomis hilal yang belum memenuhi kriteria kesepakatan regional pada saat pemantauan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan […]

  • Adhan Dambea Bongkar Manajemen RSAS, Terungkap Pembayaran ke Pihak Ketiga Pernah Tertunda Hingga Setahun

    Adhan Dambea Bongkar Manajemen RSAS, Terungkap Pembayaran ke Pihak Ketiga Pernah Tertunda Hingga Setahun

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persoalan tata kelola di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) kembali terungkap. Sebelum pemerintahan Adhan Dambea dan Indra Gobel memimpin Kota Gorontalo, rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut disebut menghadapi berbagai masalah, mulai dari pelayanan, ketersediaan alat kesehatan, hingga pengelolaan keuangan. Fakta terbaru mencuat dalam rapat evaluasi dan silaturahmi antara Wali Kota Gorontalo dengan […]

  • Jejak Cengkeh, Luka Petani, dan Cahaya Gus Dur dari Masa Lalu

    Jejak Cengkeh, Luka Petani, dan Cahaya Gus Dur dari Masa Lalu

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Apriyanto Radjak
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Penulis: Apriyanto Rajak –  (seorang petani, nelayan dan pemain sepak bola amatir) Di penghujung Agustus 2025, saya bersama Rizki memutuskan untuk bekerja sama menyelesaikan pekerjaan di kebun masing-masing. Kebetulan kebun milik kami berdua tidak terlalu berjauhan. Adapun jarak dari kampung bisa diasumsikan dengan waktu tempuh 15 menit menggunakan sepeda motor. Lokasinya berada di pegunungan Landaso, Kecamatan Bolaang […]

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Menag Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

    Menag Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 189
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia dilarang menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan mudik Lebaran. Larangan tersebut disampaikan Menag sebagai bagian dari upaya menjaga integritas serta memastikan fasilitas negara digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai peruntukannya. “ASN wajib menjaga integritas, profesionalitas, serta menggunakan fasilitas negara secara […]

expand_less