Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Meong Palo Karellae dalam Pusaran Modernisasi

  • account_circle Muh. Akbar
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 350
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Sulawesi Selatan memiliki cerita rakyat yang cukup terkenal. Cerita rakyat ini termuat dalam salah satu episode dalam sureq La Galigo. Cerita rakyat tersebut dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Meong Palo Karellae, kisah yang mengandung nilai moral, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan.

Meong Palo Karellae mengisahkan seekor kucing belang tiga yang menemani Sangiangseri (Dewi Padi) dalam perjalanan menyebarkan kemakmuran pertanian di Sulawesi Selatan. Nasihat serta pantangan-pantangannya dianggap mampu menyuburkan serta melindungi pertanian dari serangan hama.

Siapa sosok Sangiangseri (Dewi Padi)

Cerita lisan yang berkembang di Sulawesi Selatan menjadikan sosok Sangiangseri tidak luput dari pembicaraan masyarakat. Dalam naskah La Galigo, Sangiangseri merupakan puteri dari sepasang suami istri Batara Guru dan We Nyilik Timo yang wafat setelah tiga hari kelahiran.

We Oddang Riu adalah nama yang diberikan setelah kelahirannya, namun karena berselang beberapa hari setelah wafatnya, makam puterinya banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang kelihatannya asing, sehingga Batara Guru mengadu kepada Datu’ Patotoq (Raja Botting Langi), dari penjelasan Datu’ Patotoq yang tumbuh di makam We Oddang Riu disebut sebagai padi. We Oddang Riu menjelma menjadi Dewi Padi Sangiangseri atas kehendak Datu’ Patotoq (Penentu Takdir).

Sangiangseri ditakdirkan untuk memberikan kehidupan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, diyakini sebagai penjamin kemakmuran, pemberi hasil panen yang melimpah, dan pelindung tanaman padi dari hama. Pemujaan dan penghormatan terhadap sangiangseri sering diwujudkan dalam tradisi adat Sulawesi Selatan, seperti Maddoja Bine, dan Mappadendang saat upacara panen. Itu semua dilakukan karena Sangiangseri (Dewi Padi) merupakan asal usul padi di Sulawesi Selatan.

Kisah Meong Palo Karellae

Meong Palo Karellae adalah sebutan untuk kucing jantan dengan mempunyai bulu tiga warna, hitam, putih, dan coklat, yang pada umumnya sulit untuk menemukan kucing dengan warna tersebut. Kisah kucing tersebut sering dikaitkan dengan mitos diberbagai budaya. Di masyarakat Bugis sendiri, Meong Palo Karellae dikisahkan merupakan pengawal setia Sangiangseri (Dewi Padi).

Meong Palo Karellae awalnya yang bermukim di Wage (sekarang Wajo) hidup dengan bahagia, tentram, tidak pernah mengalami siksaan atau penderitaan dari tuannya. Hidupnya mulai berubah secara drastis ketika masyarakat setempat tidak lagi menghormati Sangiangseri, nasihat dan pantangan-pantangannya tidak lagi didengar oleh masyarakat setempat.

Disisi lain, Meong Palo Karellae mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, di tempat tersebut Meong Palo Karellae mulai merasakan penderitaan dan kepedihan dari tuannya. Atas nasihat dan pamali yang tidak didengar akibatnya padi dimakan tikus di siang hari, dan dipatuk ayam di malam hari. Dengan keadaan demikian, Sangiangseri memutuskan meninggalkan tempat tersebut.

Sangiangseri memutuskan melakukan pengembaraan mencari tempat dimana mereka diterima dengan baik, di dudukkan ditempat yang agung. Dalam pengembaraannya mereka tiba di Enrekang, kemudian ke Maiwa, selanjutnya ke Soppeng, Langkemme, Kessi, lisu, hingga sampai ke Barru dan menetap disana.

Dalam rute perjalanannya yang melewati Enrekang hingga ke Lisu, mereka selalu merasakan penderitaan ditempat yang mereka singgahi. Bukan hanya itu, kelakuan dan sifat masyarakat terhadap padi tidak menempatkan ditempat yang agung, membiarkan nasi jatuh ke tanah dan tidak dipungut oleh masyarakat.
Ketika masuk di wilayah Barru, mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan dalam perjalanan. Sangiangseri dan Meong Palo Karellae disambut dengan baik, diagungkan dan ditempatkan ditempat yang layak. Semua masyarakatnya jujur, ramah dan berlaku adil, sehingga Sangiangseri dan Meong Palo Karellae merasa nyaman tinggal di daerah tersebut.

Saat menetap di daerah Barru, Sangiangseri memberikan nasihat, pesan, pamali yang berkaitan dengan cara penanaman padi, serta adat dalam memperlakukan tanaman padi sehingga masyarakat hidup dalam kebaikan. Masyarakat Barru kemudian percaya bahwa ketika mereka malaksanakan apa yang diperintahkan Sangiangseri, maka mereka akan merasakan kebaikan dan tidak akan ditinggalkan oleh Sangiangseri.

Pertanian Modern yang Melupakan Warisan Leluhur

Meong Palo Karellae, walaupun hanya sebatas cerita rakyat dan mempunyai unsur mitos, namun cerita tersebut sarat dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Banyak memberikan pengajaran bagi masyarakat Sulawesi Selatan lebih khususnya masyarakat Bugis.

Dalam dunia yang serba modern hari ini, tentunya terasa kuno atau ketinggalan zaman ketika melakukan aktivitas bercocok tanam masih menggunakan cara tradisional atau model-model lama. Fenomena seperti ini tidak jarang kita temui di Sulawesi Selatan, pengetahun bercocok tanam yang diwariskan leluhur kita tidak lagi di terapkan di dunia pertanian. Padahal para leluhur telah mewariskan pengetahuan lokal mulai awal pembibitan hingga melakukan panen.

Pengetahuan lokal tentang pertanian dimuat dalam beragam tradisi, ritual atau upacara adat yang berkembang di masyarakat, seperti Maddoja Bine yang berhubungan dengan pembacaan sureq Meong Palo Karellae. Sureq tersebut dibacakan untuk menghormati Sangiangseri sebagai Dewi Padi, upacara ini rutin dilakukan sebelum penanaman dengan tujuan agar padi tumbuh subur dan kelak hasil panen melimpah dan berhasil.

Namun sekarang, seiring berkembangnya zaman, tradisi dan ritual seperti pembacaan sureq Meong Palo Karellae sudah jarang dilakukan. Terjadinya perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, hingga penemuan bahan kimia yang mampu menyuburkan dan melindungi tanaman dari hama menjadi salah satu faktor jarangnya masyarakat melakukan tradisi dan ritual tersebut. Padahal selain memberikan manfaat pada tanaman, pembacaan sureq Meong Palo Karellae merupakan salah satu bentuk kesusastraan Bugis yang perlu dilestarikan.

Penulis : Ketua Kaderisasi PMII Cabang Barru, Pemimpin PMII Gerbong Dekol

  • Penulis: Muh. Akbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gusdur Dalam Memori  Mbak Yenny dan Gus Mus

    Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Riski Hidayat
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025. Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa […]

  • Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

    Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Belakangan ini saya semakin memahami mengapa Gus Dur begitu dekat dengan dunia sastra. Padahal beliau adalah seorang ulama dengan dasar keilmuan agama yang sangat kuat, seorang pemikir Islam, sekaligus tokoh bangsa yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengurus persoalan umat dan negara. Namun di tengah kesibukan membaca kitab, berdiskusi tentang agama, dan terlibat dalam berbagai […]

  • Masjid Istiqlal Luncurkan Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa pada Peringatan Nuzulul Qur’an

    Masjid Istiqlal Luncurkan Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa pada Peringatan Nuzulul Qur’an

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 241
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Masjid Istiqlal akan meluncurkan program Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa dalam rangkaian peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah yang mengusung tema “Jembatan Harmoni Peradaban.” Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026, sebagai bagian dari rangkaian acara yang digelar bersama Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama serta Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Program […]

  • Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo mengadakan kegiatan Doa Lintas Agama di Aula Rudis Wali Kota, yang dihadiri oleh berbagai pemuka agama. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kebersamaan dan kerja sama antarumat beragama. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan bahwa pembangunan daerah harus melibatkan semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa Pemkot tidak akan pilih kasih dalam memberikan […]

  • 25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 270
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mengungkapkan sebanyak 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Provinsi Gorontalo ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional. Penutupan tersebut disebabkan belum terpenuhinya sejumlah persyaratan utama, di antaranya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum sesuai standar serta belum dimilikinya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Hal itu […]

  • Keutamaan Salat Isya Menurut Imam an-Nawawi

    Keutamaan Salat Isya Menurut Imam an-Nawawi

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Salat Isya adalah salah satu dari lima salat fardhu yang diwajibkan atas setiap Muslim. Waktunya berada di penghujung siang, ketika tubuh manusia telah letih dan condong pada istirahat. Dalam kondisi demikian, syariat tetap mendorong umat Islam untuk tetap menunaikan salat Isya, bahkan dengan jaminan keutamaan yang besar. Ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Yahya bin Syaraf […]

expand_less