Akuntansi Kemenangan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 79
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Idul Fitri kemudian datang sebagai “rapat umum pemegang saham (RUPS)” tahunan antara manusia dan Tuhannya. Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar memperoleh laba bersih (net profit) berupa ketakwaan? Atau justru kita mengalami “defisit moral” yang ditutupi dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin”?
Di sinilah letak jenaka sekaligus tragisnya kehidupan kita. Kita begitu fasih meminta maaf, tapi seringkali lupa memperbaiki sistem. Dalam bahasa audit, kita hanya memperbaiki presentation, bukan substance. Kita mengganti kata-kata, tapi tidak mengubah perilaku. Seolah-olah dosa itu bisa dihapus dengan journal entry sederhana:
Debit: Maaf
Kredit: Selesai
Padahal, dalam akuntansi ilahi, tidak ada yang namanya manipulasi jurnal. Semua tercatat dengan presisi yang bahkan melampaui standar International Financial Reporting Standards. Tidak ada “creative accounting” di hadapan Yang Maha Akuntan.
Humor ala NU sering mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak boleh kaku. Ada kisah santri yang bertanya kepada kiai: “Kiai, kalau saya puasa tapi masih marah-marah, apakah puasanya batal?” Sang kiai menjawab, “Puasanya tidak batal, tapi sayang sekali… diskonnya hangus.” Di sini kita belajar bahwa ibadah tanpa akhlak itu seperti investasi tanpa return—capek iya, hasilnya minim.
Idul Fitri sejatinya adalah momentum rekonsiliasi total. Dalam akuntansi, rekonsiliasi berarti mencocokkan catatan internal dengan realitas eksternal. Dalam hidup, ini berarti menyelaraskan niat, ucapan, dan tindakan. Jika selama Ramadhan kita hanya memperbaiki ritual tanpa menyentuh relasi sosial, maka laporan kita belum reconciled. Masih ada selisih yang harus dijelaskan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar