Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 533
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah, sebagaimana ia ditulis dan diwariskan, tak selalu adil pada semua tokoh yang turut membentuknya. Ada nama-nama yang diabadikan, dipatungkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Namun ada pula yang perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, melainkan karena narasi tak selalu ramah pada mereka yang bekerja dalam diam.

Di Gorontalo, ada satu tanggal yang setiap tahun diperingati dengan khidmat: 23 Januari 1942. Sebuah tanggal monumental, ketika rakyat Gorontalo dengan berani menyatakan diri merdeka dari penjajahan Belanda—lebih dari tiga tahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan di Jakarta. Dalam ingatan kolektif, nama Nani Wartabone bergema sebagai tokoh utama peristiwa heroik itu. Ia memang sentral, orator ulung, penggerak massa, dan simbol perlawanan rakyat.

Di balik sorotan terhadap Nani Wartabone, ada nama-nama lain yang menopang peristiwa 23 Januari 1942 dengan risiko yang sama besar, keberanian yang setara, dan pengorbanan yang nyata. Salah satu nama itu adalah Pendang Kalengkongan—seorang tokoh yang nyaris tak disebut, tetapi justru memegang kunci keberhasilan revolusi Gorontalo.

Gorontalo dan Bara Revolusi yang Menyala Lebih Awal

Ketika Perang Dunia II mengguncang dunia, peta kekuasaan kolonial di Hindia Belanda mulai rapuh. Jepang merangsek masuk ke Asia Tenggara, sementara Belanda terdesak dan kehilangan kendali atas banyak wilayah. Di tengah kekacauan global itu, para pemuda dan tokoh pergerakan di Gorontalo membaca momentum dengan jernih.

Dipimpin oleh Abdul Kadir Wartabone—kelak dikenal sebagai Nani Wartabone—sebuah gerakan revolusioner disusun secara rapi dan senyap. Gerakan ini melibatkan banyak unsur: tokoh adat, pemuda, ulama, pegawai pemerintahan kolonial yang berpihak pada rakyat, serta tokoh-tokoh Kristen Minahasa yang bertugas di Gorontalo. Perjuangan ini bersifat lintas identitas, disatukan oleh satu tekad: mengakhiri penjajahan.

Komunikasi menjadi urat nadi gerakan. Tanpa kendali informasi, tanpa pemutusan jalur komando kolonial, deklarasi kemerdekaan lokal bisa berujung kegagalan. Di titik inilah, peran Pendang Kalengkongan menjadi tak tergantikan.

Pendang Kalengkongan: Operator Sunyi Revolusi

Pendang Kalengkongan adalah seorang Kristen taat asal Minahasa yang menjabat sebagai Kepala Kantor Pos dan Telegraf di Gorontalo pada masa kolonial. Ia juga sempat menjadi Kepala Pos Polisi Gorontalo. Dua jabatan ini menempatkannya di posisi yang sangat strategis—menguasai arus komunikasi dan informasi resmi pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam banyak catatan lisan dan ingatan kolektif para pelaku sejarah lokal, Kalengkongan disebut sebagai tokoh yang memutus jalur komunikasi antara Pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo dengan pusat kekuasaan kolonial di luar Sulawesi. Tindakan ini bukan sekadar administratif. Ia adalah langkah revolusioner yang berisiko tinggi. Kesalahan sekecil apa pun bisa berujung penangkapan, penyiksaan, bahkan hukuman mati. Namun Kalengkongan memilih berpihak pada rakyat.

Pada 23 Januari 1942, ia menjadi salah satu tokoh yang mengibarkan bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di halaman Kantor Pos dan Telegraf Gorontalo. Pengibaran itu bukan seremoni kosong. Ia adalah deklarasi terbuka bahwa kekuasaan kolonial telah runtuh. Tak lama setelahnya, pasukan rakyat Gorontalo menangkap pimpinan pemerintahan Belanda di kantor pusat pemerintahan—kini dikenal sebagai rumah dinas gubernur.

Tanpa penguasaan komunikasi, tanpa pengendalian informasi, peristiwa itu hampir mustahil terjadi. Kalengkongan bukan hanya saksi sejarah. Ia adalah pelaku inti sejarah.

Tidak Masuk Komite, Terhapus dari Narasi

Ironisnya, dalam struktur resmi perjuangan, Pendang Kalengkongan tidak tercatat sebagai anggota Komite 12—komite perjuangan yang dipimpin oleh Kusno Danupoyo sebagai ketua dan Nani Wartabone sebagai wakil ketua. Hingga kini, tak ada penjelasan tunggal mengapa namanya absen.

Sebagian peneliti menduga faktor perbedaan latar agama dan dinamika politik internal menjadi sebab mengapa Kalengkongan perlahan disisihkan dari narasi resmi. Namun apapun alasannya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ia berada di lingkaran terdalam perjuangan.

Sejarah mungkin tidak mencatatnya dalam struktur, tetapi penjajah mencatatnya sebagai ancaman.

Setelah Belanda tumbang dan Jepang masuk, Pendang Kalengkongan justru ditangkap dan dibuang ke Pulau Morotai di Kepulauan Maluku. Pembuangan ini menjadi bukti paling kuat bahwa perannya nyata dan berbahaya bagi penguasa kolonial baru. Penjajah tak pernah membuang orang yang tidak berpengaruh.

Sejumlah sejarawan dan aktivis sejarah lokal kemudian mengusulkan istilah “Tri Tunggal Kemerdekaan Gorontalo”, yang terdiri dari:

  • Nani Wartabone, penggerak massa dan simbol perlawanan,

  • Kusno Danupoyo, arsitek strategi perjuangan,

  • Pendang Kalengkongan, operator kunci komunikasi dan pengibar pertama Merah Putih.

Namun dalam ingatan publik, hanya dua nama yang hidup. Kalengkongan tetap berada di pinggir sejarah. Tak ada monumen besar, tak ada buku pelajaran khusus, hanya sepotong nama jalan dan fragmen cerita lisan yang nyaris pudar. Padahal, tanpa perannya, deklarasi 23 Januari 1942 bisa gagal total.

Pendang Kalengkongan bukan satu-satunya tokoh Kristen yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Gorontalo. Ada pula nama-nama seperti J. Poluan, J.J.F. Paat, J.A. Lasut, Th. Tumewu, A. Kondowangko, dan A. Tombeng—tokoh-tokoh Kristen Minahasa yang memegang posisi strategis dan berpihak pada rakyat Gorontalo.

Kehadiran mereka menegaskan satu hal penting: kemerdekaan Indonesia dibangun lintas iman dan lintas suku. Gorontalo sejak awal adalah ruang perjumpaan antara Islam dan Kristen, antara penduduk lokal dan pendatang, yang disatukan oleh semangat anti-kolonialisme.

Meluruskan Sejarah, Merawat Keadilan Ingatan

Sejarah sering dikatakan ditulis oleh para pemenang. Namun di era keterbukaan informasi hari ini, kita memiliki kewajiban moral untuk meninjau ulang narasi-narasi yang timpang. Mengangkat kembali nama Pendang Kalengkongan bukanlah upaya menafikan peran tokoh lain, melainkan melengkapi sejarah agar lebih adil dan utuh.

Gorontalo telah menyalakan api revolusi lebih dini. Api itu tidak mungkin menyala tanpa banyak tangan yang bekerja dalam senyap. Pendang Kalengkongan adalah simbol dari nasionalisme yang melampaui sekat identitas, dan bukti bahwa keberanian sejati tak selalu berdiri di panggung utama.

Kini, setiap 23 Januari, saat Hari Patriotik Gorontalo diperingati, sudah sepatutnya kita menyebut kembali satu nama yang lama dilupakan—Pendang Kalengkongan, sang pengibar Merah Putih, sang penggerak sunyi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasca Kebakaran di Sipatana, Pemkot Gorontalo Salurkan Bantuan untuk Korban photo_camera 2

    Pasca Kebakaran di Sipatana, Pemkot Gorontalo Salurkan Bantuan untuk Korban

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 116
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo bergerak cepat membantu warga yang terdampak musibah kebakaran di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Ahad (15/3/2026). Bantuan tersebut disalurkan melalui sejumlah instansi sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat yang tengah mengalami musibah. Penyaluran bantuan dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM), serta […]

  • Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Abu Lubabah bin Abd al-Mundzhir adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar, berasal dari suku Aws di Madinah. Nama aslinya Basyir bin ‘Abd al-Mundhir. Ia termasuk Muslim awal di Madinah dan terlibat dalam fase-fase penting komunitas setelah hijrah. Dalam Perang Badr, ia ditugaskan menjaga Madinah sehingga tidak hadir di medan tempur, tetapi tetap dihitung […]

  • Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Pada edisi terakhir tulisan Ramadan tahun 2026 ini, saya menutupnya dengan kisah seorang tokoh yang unik dan penuh teladan: Uwais al-Qarni. Namanya mungkin terdengar asing dibanding tokoh-tokoh sahabat yang lain, tetapi kisah hidupnya menyimpan pelajaran yang mendalam tentang kesalehan, ketulusan, dan bakti kepada orang tua. Meskipun hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, Uwais tidak dikategorikan sebagai […]

  • MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Gorontalo kembali mempererat sinergi untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Dulohupa, Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu (2/7/2025). Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka membangun generasi sehat dan unggul menuju […]

  • Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

    Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Orang NU kalau melihat bencana biasanya langsung bilang, “Ini bukan murka Tuhan, tapi kelalaian manusia.” Gus Dur malah lebih tajam: “Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak pengampun itu manusia”terutama kalau sudah pegang izin tambang. Di Aceh dan Sumatera, izin usaha ekstraktif tumbuh lebih subur daripada pohon mahoni. Bedanya, mahoni menahan air, izin tambang menahan akal […]

  • Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Kebakaran hebat melanda empat pabrik di kawasan industri Olak Lempit, Banting, pada Sabtu malam, 14 Maret 2026. Peristiwa tersebut menimbulkan kobaran api besar disertai asap tebal yang terlihat dari jarak jauh dan mengundang kerumunan warga di sekitar lokasi. Kebakaran terjadi di kawasan industri Olak Lempit yang berada di wilayah Banting, negara bagian Selangor, […]

expand_less