Wagub Gorontalo Sidak Empat Dapur MBG di Kabupaten Gorontalo, Temukan Sejumlah Pelanggaran SOP
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- visibility 78
- print Cetak

Empat SPPG yang menjadi sasaran sidak berada di Kecamatan Boliyohuto dan Kecamatan Asparaga, masing-masing di Desa Sidodadi, Desa Monggolito, Desa Paris, dan Asparaga. Doc. Humas
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Gorontalo, Jumat (30/1/2026).
Sidak ini dilakukan untuk memastikan kelayakan dapur dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mencegah potensi terjadinya keracunan makanan pada peserta didik.
Empat SPPG yang menjadi sasaran sidak berada di Kecamatan Boliyohuto dan Kecamatan Asparaga, masing-masing di Desa Sidodadi, Desa Monggolito, Desa Paris, dan Asparaga.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur didampingi Satuan Tugas MBG yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Pangan, Balai POM, serta unsur terkait lainnya.
Rombongan bertolak dari Kota Gorontalo sejak pukul 04.20 Wita. Dari hasil pemantauan di lapangan, Wakil Gubernur menemukan sejumlah aspek yang perlu segera dievaluasi dan diperbaiki, terutama terkait standar pengolahan, penyimpanan, dan pendistribusian makanan.
“Program MBG ini menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak. Karena itu, seluruh SPPG wajib mematuhi standar operasional prosedur yang sudah ditetapkan. Tidak boleh ada kelalaian,” tegas Idah.
Ia menyoroti penyimpanan bahan makanan kering yang akan dikonsumsi keesokan harinya agar benar-benar dijaga dalam kondisi kering dan aman. Selain itu, ia menekankan pentingnya pencantuman tanggal kedaluwarsa pada produk roti sebagai jaminan kelayakan konsumsi.
Wagub juga meminta agar menu sayuran seperti sawi hijau atau caisim tidak lagi disajikan, khususnya bagi siswa SMA.
Menurutnya, jenis sayuran tersebut akan terasa pahit jika dikonsumsi setelah dimasak lebih dari lima jam, sehingga berpotensi menurunkan kualitas makanan dan minat makan siswa.
“Menu harus dipilih yang aman, bergizi, dan tetap layak dikonsumsi hingga waktu makan. Jangan sampai anak-anak justru enggan makan karena rasa atau kualitasnya menurun,” ujarnya.
Dalam aspek kebersihan, Wakil Gubernur menemukan masih ada ompreng berisi makanan yang diletakkan langsung di lantai.
Ia menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan pelanggaran serius karena dapat mengundang semut dan mencemari makanan.
“Tadi juga saya menemukan ada SPPG yang dapurnya kotor. Kalau kotor, banyak lalat yang masuk. Lalat bisa hinggap berjam-jam di makanan dan menyebabkan anak-anak sakit perut. Itu sebabnya dapur MBG tidak boleh kotor,” jelasnya.
Pada pemeriksaan gudang basah dan gudang kering, ditemukan praktik baik di salah satu SPPG yang melakukan belanja bahan pangan secara harian sehingga kualitas bahan tetap segar.
Namun, di sisi lain, ia juga menemukan beras yang masih disimpan dalam karung dengan warna mulai berubah.
“Beras dengan kualitas seperti itu harus segera diganti. Saya mendorong SPPG untuk membeli beras baru, terutama dari petani lokal, dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.
Sebagai penutup, Idah Syahidah Rusli Habibie mengingatkan bahwa apabila temuan serupa terus berulang dan tidak segera diperbaiki sesuai SOP, maka izin operasional dapur MBG dapat dicabut.
“Kepala SPPG bertanggung jawab penuh atas keamanan pangan, kebersihan dapur, serta ketepatan dan keamanan distribusi makanan ke sekolah. Kami akan terus melakukan evaluasi. Ini tidak bisa ditawar,” pungkasnya.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar