Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 181
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Panggilan haji
Telah tiba lagi
Menunaikan ibadah
Panggilan Baitullah
Tanah Suci Makkah
Ya Makkatul Mukarramah”

Lagu “Panggilan Haji”, dari grup Kasidah ‘Nasida Ria’ mengalun lembut dari pita kaset radio yang sudah terlihat kucar-kacir tersebut. Jangan heran, di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa dan ditinggalkan zaman, tetapi di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida Ria tetaplah yang terfavorit.  Ia hanya bisa disaingi oleh lagu-lagu dangdut bang Haji Rhoma, Megy Z atau Chaca Handika.  Jika musim haji tiba, lagu “Panggilan Haji” tadi akan terdengar berulang-ulang dari radio-radio penduduk. Tak jarang malah terdengar dari pelantang masjid.

Persis ketika ujung syair  lagu “Panggilan Haji” berakhir dari radio yang ada di ruang tamu itu, lelaki setengah baya di depan saya mengisap dalam-dalam rokok kawungnya yang terlihat semakin pendek, lalu rokok tersebut berakhir dengan tergilasnya pelan-pelan di dalam asbak yang ada di atas meja. Sejurus lelaki berkulit sedikit legam ini termangu-mangu. Semacam mengingat sesuatu yang nun berada di tempat yang entah ber-entah. Kopiah hitamnya yang sudah menguning pada masing-masing tepinya dan semula menclok begitu saja di atas meja, diletakkan lagi di atas kepalanya. Lalu berkatalah lelaki dengan penampilan bersahaja ini.

“Setiap mendengar lagu ‘Panggilan Haji’, hati saya selalu berdebar-debar. Boleh jadi karena rindu pula diri awak ini ingin berkunjung ke Kabah dan mungkin juga teringat pengalaman-pengalaman saya saat naik ke puncak Bawakaraeng.”

“Naik haji ke Bawakaraeng?” Pertanyaan saya menyambar cepat. Saya paham betul lelaki bersahaja di depan saya ini, sering bolak-balik ke Bawakaraeng. Kebanyakan ia naik pada musim-musim haji, justru ketika sebagian umat Islam sedang berduyun-duyun menuju Makkah. Tidak ada yang tahu persis apa yang dilakukan oleh lelaki bersahaja dan orang-orang yang bersamanya di puncak Bawakaraeng.  Tetapi ada sementara kalangan yang menyebut; ‘Si lelaki bersahaja & berkulit sedikit legam ini naik haji di Bawakaraeng’.

“Dengarkanlah!  Saya akan menuturkan segala sisik melik perjalanan saya ke puncak gunung itu, terserah nanti engkau menyimpulkannya seperti apa anak muda!”

Kalimat yang sederhana saja, tetapi ibarat mantra, saya langsung terdiam. Lalu bak tentara siaga satu, saya memasang kuping baik-baik.  Gestur saya jelas memperlihatkan kepadanya, saya sangat siap mendengar cerita itu.

Subuh masih merayap-rayap, matahari masih berada di balik selimut dan gelap masih menyungkupi mayapada. Tetapi dalam suasana gelap dan udara dingin di kampung itu, lelaki berkulit sedikit legam itu, bersama beberapa sejawat dan sanak kadangnya telah berjalan menyusuri jalan desa yang berbatu-batu. Sesekali cahaya senter menerangi jalan yang akan mereka lalui. Rata-rata orang-orang tersebut berjaket dan menyampirkan sarung di pundaknya. Beberapa orang membawa tas di punggungnya, sebagian lainnya menenteng bungkusan dari sarung, entah berisi apa. Mereka berjalan cepat ke arah barat, menerobos gelap dan menyibak dinginnya subuh yang terasa menusuk-nusuk kulit .

Kurang lebih tiga jam mereka berjalan, sampailah di kaki gunung Lompobattang. Sejenak mereka beristirahat. Sebagian bekal mulai disantap. Selanjutnya berjalan dimulai lagi. Kini mereka sudah mulai mendaki, menyelusuri jalan setapak, sekali-dua kali menerobos semak belukar. Tak ada kompas petunjuk arah, tidak ada alat mendaki, pakaian hanya jaket sekenanya untuk melindungi dari sengatan dingin yang luar biasa.

Mereka memang bukan pendaki, tetapi warga biasa dari kampung itu. Tetapi mendaki Gunung Lompobattang, selanjutnya menuju ke Bawakaraeng adalah kebiasaan mereka pada bulan Zulhijah, khususnya menjelang hari raya Idul Adha. Dalam perjalanan menuju ke puncak gunung, tanpa petunjuk arah, mereka bukannya tidak pernah tersesat, tetapi di situlah keajaiban sering datang tak terduga. Suatu waktu mereka kehilangan arah. Barat dan timur jadi kabur, utara-selatan tak ketahuan juntrungannya, pada saat itulah tiba-tiba seorang lelaki tua entah dari mana datangnya datang menghampiri si lelaki bersahaja berkulit sedikit legam itu. Meraih tangannya lalu menuntunnya menuju puncak.

“Siapa lelaki tua itu?”

“Dialah yang tidak bisa disebut namanya anak muda,” Jawab lelaki berkulit sedikit legam itu.

Bukan Valdemort tentunya. Tokoh jahat itu hanya ada dalam dongeng Harry Poter. Di kampungku dan sekitarnya, dia yang tidak bisa disebut namanya adalah Nabi Khaidir.

Begitu sampai di puncak, mereka harus menyeberang menuju ke Bawakaraeng, tempat orang sering melaksanakan salat Idul Adha. Bukan perkara mudah untuk menyeberang ke lokasi tersebut. Mereka harus melewati jalan sempit yang di atasnya tebing terjal, sementara di bawahnya adalah jurang yang curam. Angin berputar dari bawah jurang menyapu ke atas. Mereka melewati jalan setapak yang disebutnya jalan “siratal mustaqim” itu dengan berbagai cara. Beberapa berjalan biasa, yang lainnya dengan tertatih-tatih, banyak pula yang harus merangkak. Ini tergantung dari nyali. Tetapi bagi lelaki berkulit sedikit legam, itu tergantung keyakinan dan rasa ikhlas.

Pada saat tiba di satu dataran di salah satu puncak Bawakaraeng, mereka kemudian menghamparkan tikar. Ada pula yang memasang tenda seadanya. Mereka tidak mendirikan kemah yang mirip milik para pendaki profesional, tapi hanya tenda biasa yang dipasang mirip kemah. Mereka ber-‘kemah’ mengelilingi satu tugu batu yang disebutnya ‘Bakkah’ (mungkin kata itu diambil dari kata Kabah).  Kendati bernama Bakkah, lelaki berkulit sedikit legam bersama rombongannya tidak menyebut batu itu pengganti kabah di tanah suci.

“Kalau kami menyebutnya Bakkah, tak lain itu hanya pancaran kerinduan kami pada Kabah, tak ada niat untuk mengganti Kabah di tanah suci” Begitu katanya.

Adapun tugu batu itu, seturut keterangan para pendaki resmi, adalah tanda untuk mengukur ketinggian puncak gunung Bawakaraeng. Konon dulunya dipasang oleh kompeni. Tidak ada yang tahu persis bagaimana kompeni meletakkan tugu batu itu di atas puncak gunung. Cerita yang masyhur, tugu itu dijatuhkan dari atas pesawat dan dengan perhitungan tertentu bisa menancap tepat di puncak tersebut.

Malam yang dingin dilalui dengan rangkaian salat. Mereka salat dalam alam yang terbuka, di tengah dinginnya udara yang menusuk-nusuk dan dalam keheningan yang begitu syahdu. Mereka bisa menatap langit begitu dekat. Dalam keheningan yang mencengkau itu, mereka seakan merasakan kecilnya seorang hamba di hadapan Tuhannya.  Di saat yang sama mereka merasakan kenikmatan spiritual yang merasuk sukma. Keharuan merambat dalam jiwa, merasuk ke mata hati yang paling dalam.

Esok hari, ketika matahari sudah muncul sepenggalah, biasanya mereka melaksanakan salat Idul Adha. Kadang ada khatibnya, tetapi sering pula mereka hanya salat sunat dua rakaat. Apakah ada tawaf mengelilingi ‘Bakkah’  atau sai, semacam di Makkah? Tak ada.  Mereka memang tidak melaksanakan syariat haji, sebagaimana syariat haji di Makkah.

Lalu mengapa mereka disebut ‘Haji Bawakaraeng?’

“Saya juga tidak tahu” Jawab lelaki berkulit sedikit legam itu.

“Tetapi apakah ada orang yang sering naik ke Bawakaraeng yang menganggap ini sama dengan naik haji?” Tanyaku ngotot, mirip intel melayu yang sedang menginterogasi..

“Soal pendapat dalam hati orang, manalah saya tahu anak muda, tetapi sejauh ini, saya bersama rombongan  tidak ada yang menyandingkan kebiasaan kami naik ke Bawakaraeng dengan naik haji ke Makkah. Tetapi dari sisi batiniah, apakah yang kami laksanakan ini bisa dianggap haji oleh Allah atau tidak? Itu hak Allah untuk menilainya.

Sepintas jawabannya terkesan diplomatis, tetapi begitu saya ingat kisah-kisah para sufi terkait dengan haji, prasangka saya bahwa jawabannya itu sekadar retorika, saya benamkan dalam-dalam. Bukankah dalam kisah Rabiatul Adawiyah, dia tidak naik haji ke Makkah, tetapi Kabah yang datang mengunjunginya. Satu tanda bahwa Al-Adawiyah justru mendapatkan pahala haji melebihi para orang-orang yang berkunjung ke Makkah. Saya terkenang pula kisah Ali Al-Muwaffaq, ia tak bisa naik haji karena ongkos hajinya harus diserahkan pada orang yang lebih membutuhkan. Tetapi justru dialah yang dimimpikan oleh seorang ulama besar yaitu Abdullah Ibnu Mubarak, bahwa Ali Al-Muwaffaqlah satu-satunya yang diterima hajinya.

Ingatan saya buyar seketika, manakala  lelaki berkulit sedikit legam ini melanjutkan penjelasannya.

“Sebagian ada yang dari tanah suci, naik lagi ke Bawakaraeng. Tanggapan orang luar, mereka menyempurnakan hajinya. Padahal dari pengalaman saya bertemu dengan orang-orang tersebut mereka sedang melepas nazar. Mereka telah berjanji akan naik ke Bawakaraeng melakukan salat Idul Adha, jika pulang dengan selamat dari tanah suci. Bukankah janji harus ditunaikan anak muda? Lelaki berkulit sedikit gelap itu menutup penjelasannya dengan nada tanya, meski jelas pertanyaannya itu tidak membutuhkan jawaban.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa mereka digelari ‘Haji Bawakaraeng?’

Gelar itu ternyata pertama-tama muncul dari orang-orang dari luar komunitas yang sering naik melakukan ritual ke Bawakaraeng.  Dalam perkembangannya gelar itu sering disebut ulang oleh berbagai media, bahkan peneliti. Pada awalnya gelar haji Bawakaraeng disematkan orang luar sebagai bentuk ejekan terhadap perilaku komunitas Bawakaraeng ini. Gelar itu stereotip dan bermakna peyoratif.  Istilah itu seakan memersilkan tuduhan perilaku yang sesat.

Komunitas Bawakaraeng sendiri lama kelamaan malah menangkap identitas yang peyoratif ini.  Haji Bawakaraeng dijadikan identitas dengan makna baru; “Haji Bawakaraeng berarti orang yang mencari tempat yang paling tepat untuk menunjukkan dirinya sebagai hamba, karena belum sanggup ke tanah suci”,  “Haji Bawakaraeng juga berarti sebuah perjalanan untuk menunjukkan keikhlasan dan keyakinan.”  Yang lain memaknai haji Bawakaraeng semacam uzlah (menyepi untuk dekat dengan Sang Maha Kuasa). Apapun pemaknaan komunitas ini atas Haji Bawakaraeng, yang pasti mereka telah mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna positif.

Boleh dikata, jika merujuk pada Imanuel Castells (2003) apa yang dilakukan oleh komunitas (haji) Bawakaraeng itu adalah resistance of identity atau resistensi identitas. Hal ini muncul setelah sebelumnya kelompok di luar mereka melakukan semacam legitimizing of identity, yakni penyematan satu identitas yang terkesan peyoratif. Komunitas Bawakaraeng yang tadinya dikonstruksi identitasnya sebagai sebuah ejekan, melakukan semacam resistensi dengan membentuk makna baru pada identitas yang dilekatkan tadi. Pada akhirnya, terjadi semacam pembacaan ulang dan pembentukan identitas baru dari apa yang dibangun sebelumnya oleh kelompok dominan.

Kalau demikian, komunitas yang sering naik ke Bawkaraeng tidaklah sungguh-sungguh, ingin mengganti haji ke Makkah dengan mencari jalan pintas ke Bawakaraeng. Haji Bawakaraeng tak lain hanyalah permainan bahasa. Ia bisa pula disebut sebagai mimikri. Apa itu? Mimicry is thus the sign of a double articulation; a complex strategy of reform, regulation and discipline, which appropeiates the Other as it visualizes power”. Begitu penjelasan  Homi Bhaba (1997) & tak perlu saya terjemahkan, saya takut salah (he..he..). Lagi pula anda yang membaca mungkin lebih paham terjemahannya.

Begitulah, pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan (sementara), tidak ada yang berhaji ke Bawakaraeng. Kalau soal mereka yang beribadah di atas puncak Bawakaraeng itu diganjar  setimpal dengan pahala haji, siapalah saya yang bisa menghalangi hak prerogatif Allah.

(Catatan; Nama dan kampung “Lelaki Berkulit Sedikit Legam,” sengaja tidak disebutkan dalam tulisan ini)

Oleh : Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bukan Menafikan Zakat, Ini Makna Strategis Seruan Menag soal Ekonomi Umat

    Bukan Menafikan Zakat, Ini Makna Strategis Seruan Menag soal Ekonomi Umat

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pernyataan Menteri Agama yang menyerukan agar pembangunan ekonomi umat tidak semata bertumpu pada zakat terus menjadi perbincangan publik. Sebagian pihak menilai seruan tersebut berpotensi menggeser posisi zakat sebagai rukun Islam. Namun, menurut Dr. Ahmad Shaleh Amin, M.A., pandangan demikian lahir dari pembacaan yang tidak utuh terhadap konteks yang disampaikan. Dr. Ahmad menegaskan bahwa […]

  • Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 366
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) merekomendasikan sejumlah destinasi wisata menarik bagi masyarakat untuk mengisi libur Idul Fitri 1446 Hijriah. Beragam pilihan wisata mulai dari pantai, alam, hingga budaya disiapkan untuk memberikan pengalaman liburan yang berkesan. Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyampaikan bahwa Kaltim memiliki potensi wisata yang sangat beragam dan siap […]

  • Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Di republik ini, guru dan dosen punya gelar kehormatan yang sangat sakral: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Setiap kali kalimat itu diucapkan, hadirin biasanya mengangguk khidmat. Tapi kalau direnungi ala santri pesantren, ada pertanyaan kecil yang suka muncul di sela-sela ngopi: “Tanpa tanda jasa itu maksudnya tanpa piagam atau tanpa angka di slip gaji?” Humor Nahdlatul […]

  • BAM DPR RI Ingatkan Perusahaan Sawit: Penuhi Hak Rakyat atau IUP Dicabut

    BAM DPR RI Ingatkan Perusahaan Sawit: Penuhi Hak Rakyat atau IUP Dicabut

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI mengingatkan perusahaan-perusahaan sawit di Sumatera Selatan agar segera memenuhi hak-hak masyarakat dalam konflik agraria yang terjadi di Kabupaten Empat Lawang dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur). Jika kewajiban tersebut diabaikan, pemerintah daerah diminta tidak ragu mencabut izin usaha perkebunan (IUP). Peringatan itu disampaikan Ketua BAM […]

  • Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo, – Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofian Ibrahim, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan layanan imigrasi dan pemasyarakatan di daerah. Hal ini disampaikannya saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di Kantor Imigrasi Kelas I Gorontalo, Senin (30/6/2025). Kehadirannya menjadi momentum penting dalam mempercepat reformasi kelembagaan dan pelayanan publik, khususnya di sektor keimigrasian […]

  • Pemkab Gorontalo Gelar Sidang MP-TGR, Dalami Potensi Kerugian Daerah

    Pemkab Gorontalo Gelar Sidang MP-TGR, Dalami Potensi Kerugian Daerah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 329
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Gorontalo menggelar sidang Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi (MP-TGR), Selasa (21/04/2026), di Ruang Dulohupa Kantor Bupati Gorontalo. Sidang dipimpin Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo, Sugondo Makmur, didampingi sejumlah pejabat terkait, di antaranya Asisten III Setda, Inspektorat, Badan Keuangan, serta Bagian Hukum. Agenda utama sidang adalah melakukan pendalaman terhadap potensi tuntutan ganti rugi […]

expand_less