Lebaran Dua Versi
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 61
- print Cetak

Ilustrasi suasana silaturahmi Idul Fitri di rumah seorang kyai, saat para santri berkumpul, menikmati hidangan lebaran, dan berdiskusi santai tentang perbedaan penetapan hari raya dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Naah, kembali lagi. Ini persoalan metode yang digunakan. Kalau metodenya sama pasti hasilnya sama. Kalau metodenya berbeda, kemungkinan hasil akhirnya berbeda.”
Meski jawaban Kyai Saleh masuk akal, rasa penasaran masih tersisa.
“Jadi, yang tidak ikut pemerintah itu salah dong, Kyai?” sergah Yusran.
Kyai Saleh tersenyum tipis, tidak langsung menjawab.
“Tidak juga. Karakter Indonesia dan Arab itu berbeda. Negara Arab itu kerajaan. Seluruh keputusan sepenuhnya ada di pemerintah. Yang berbeda bisa dianggap penyimpangan. Di Indonesia, negara kita tidak memiliki otoritas keagamaan penuh seperti Arab Saudi dan Iran. Posisi fatwa ulama di Indonesia lebih lemah dibandingkan Mesir, meski sama-sama republik. Jadi, kalau ada kelompok mengumumkan di luar pemerintah, ya tidak apa-apa. Bukan penyimpangan, bukan pembangkangan. Itu hanya perbedaan.”
Kyai Saleh berhenti sejenak, menyeruput kopi yang tersisa seperempat.
“Karena itu, meski pemerintah menetapkan 1 Syawal hari Sabtu, itu tidak diikuti dengan pembatalan keputusan organisasi di luar pemerintah.”
Para santri manggut-manggut.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar