Lebaran Dua Versi
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Ilustrasi suasana silaturahmi Idul Fitri di rumah seorang kyai, saat para santri berkumpul, menikmati hidangan lebaran, dan berdiskusi santai tentang perbedaan penetapan hari raya dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Tapi ada tong saya liat di medsos bilang, ini pemerintah pakai sidang isbat, melihat hilal karena ada proyeknya, ada uangnya.”
Kyai Saleh tersenyum, “Dunia sekarang manusia tidak bisa dihalangi berpendapat. Hal-hal tidak terkait bisa dikaitkan, apalagi kalau terlihat ada kaitannya. Masih ingat pendapat ateis yang bilang, kalau tujuan menyembah Tuhan hanya untuk menjadi baik, saya tidak salat juga bisa jadi orang baik. Logikanya terlihat benar, tapi jelas tidak memahami arti beribadah kepada Allah. Dia hanya melihat satu sudut saja.”
Para santri kembali terdiam.
“Tetapi… memang perbedaan seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ada banyak cara yang bisa dilakukan.”
“Apa itu, Kyai?”
“Kalau boleh saya usulkan, ada dua cara. Pertama, untuk menghindari kesan ada versi pemerintah dan versi organisasi, setiap sidang isbat pemerintah menambahkan keputusannya. Misal, melalui pendekatan hisab ramadahan berakhir tanggal 19. Melalui pendekatan rukyat, karena hilal belum ditemukan sesuai ketentuan, istikmal menjadi 30, dan berakhir tanggal 20.”
“Yang kedua, Kyai?”
“Bagi yang duluan mengakhiri puasanya, ada baiknya menunda sehari lebaran. Sembari menunggu masyarakat lain menyelesaikan puasanya. Jadi, perbedaannya dapat, persatuannya juga dapat. Apalagi salat Ied posisi hukumnya sunnah.”
“Kalau 1 Ramadhan, Kyai? Bisa juga begitu?” Sampara ikut bertanya.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar