Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kesalehan yang “Dipertontonkan”

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
  • visibility 191
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan tuna, dan kuah bugis.

Selesai makan, saya duduk sambil membuka whatsapp ada banyak pesan masuk dengan kalimat; “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal ‘aidin Walfaidzin, Mohon maaf Lahir  dan Bathin”. Ada juga yang mengirim  dalam bentuk flayer. Ternyata banyak yang meminta maaf, maklum tak ada manusia yang tidak pernah salah.

Setelah itu saya membuka facebook, dan di facebook orang ramai-ramai memposting Shalat Ied di rumah. Orang-orang yang melaksanakan shalat di rumah alasannya bervariasi. Ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan MUI untuk shalat di rumah, ada yang karena takut akan bahaya terinfeksi virus corona, ada yang “terpaksa” karena tidak tahu shalat dimana.

Di kampung saya di Dehualolo, kira-kira pukul 06.00, saya melihat orang-orang berjalan mengenakan mukena dan saya tidak tahu kemana mereka hendak melangkah untuk bepergian Shalat Idul Fitri. Saya mengikuti mereka dan bertanya, mau Shalat dimana? Mereka menjawab di lapangan. Saya kembali bertanya; “Kenapa tidak Shalat di Rumah?”, “Tidak ada yang bisa jadi Imam dan Khatib”, kata orang-orang itu menimpali

Saya termenung dan balik ke rumah. Dalam benak-pikiran saya ada seribu pertaanyaaan, tapi saya berasumsi bahwa mereka “pasrah” dengan keadaan yang ada. Kalaupun mati itulah ajal, yang telah ditentukan oleh Allah swt di tengah pandemic covid-19.

Pada pukul 15.00 saya membuka kembali facebook saya, ternyata ada postingan lagi tentang kelompok-kelompok keluarga yang Shalat di rumah. Saya tidak tahu apakah ini gejala yang menunjukan kedisiplinaan yang harus dipublish di tengah orang-orang yang tidak disiplin, ataukah ingin menunjukkan kesalehan kelompok keluarga yang mesti dipertontonkan di wilayah public? Ataukah ini gejala dari postmodernisme? Ataukah gejala post truth? Saya tidak tau.

Setahu saya, bahwa ruang publik akhirnya menjadi kotor dibalik sucinya identitas kelompok. Karena ruang public mulai di pertontonkan dengan kesalehan yang semestinya tidak perlu orang lain mengetahuinya. Dalam pandangan teologis “Jika ingin melakukan kebajikan tidak perlu orang lain mengetahuinya”. Artinya, kebajikan tidak berlu diumbar-umbar di wilayah publik. Biarlah Anda dan Tuhanmu yang tahu akan perbuatan baikmu.

Oleh orang lain, mempertontonkan kesalehan di wilayah publik, sebenarnya yang muncul adalah fenomena dusta, ilusi, kepura-puraan, dan hoaks. Karena agama hanya dijadikan jubah untuk membungkus tubuh dan tidak untuk menjadi perisai hati dan perbuatan, Itulah manusia. Oleh Adelbert Snijders (2008), manusia adalah makhluk yang memiliki segala keunikan dan juga paradox.

Saya tidak sedang menggugat religiusitas seseorang, tapi bairlah kesalehan itu terbungkus dengan iman (bukan riya), karena itu akan lebih mendatangkan kuantitas pahala dan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Jangan mengaggap Tuhan itu buta dan tuli, karena Ia dapat melihat amal ibadah setiap hambanya. Sekalipun itu dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tidak perlu divisualisasi dan dipertontonkan di wilayah publik.

Karena ketika perbuatan itu dipublish di Facebook yang bisa kita lakukan adalah mengklik “Like”, jika makin banyak yang like makin tinggi kepuasaan kesalehannya.

Gejala di atas mungkin menunjukan gambaran manusia di era postmodernisme. Dimana kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern yang begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan sehingga dapat dikatakan ideal.

Ciri ini dikonstruksi oleh manusia semacam mengiklankan kesalehan di ruang-ruang publik. Amal ibadah dikonstruksi seperti produk yang di iklankan di media sosial apakah dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya, atau justru ingin memperoleh penilaian atas amal ibadah?

Dalam bahasa agama, jika amal ibadah di pertontonkan di ruang-ruang publik dengan secara sengaja, itu menunjukan perbuatan riya, atau pamer yang tidak ada nilai pahalanya. Apalagi di tengah pandemic covid-19 yang sedang menggurita di negeri ini. Mestinya visualisasi keagamaan dalam rumah tangga tidak berlebihan. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul efek negatif dalam kehidupan rumah tangga orang. Bisa jadi istrinya mengatakan; “Lihat suaminya si anu bisa imam dan khatib, kamu bisa apa?”. Atau juga bisa memuncul kecemburuan pada diri anak-anak; “Lihat bapaknya si anu bisa jadi imam dan khotib, papa sendiri tidak bisa”.

Mari kita bertanya dalam diri kita masing-masing, kenapa Tuhan tidak terlihat? Karena Tuhan adalah symbol kebajikan dan kesalehan, maka kabajikan dan kesalehan yang kita perbuat tidak perlu terlihat oleh oleh orang lain. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Semogaa bermanfaat.(***)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan bathin

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dosen S2 Pendidikan IPA Gelar Sosialisasi Penggunaan Media Pembelajaran bagi Guru IPA SMP se-Bone Bolango

    Dosen S2 Pendidikan IPA Gelar Sosialisasi Penggunaan Media Pembelajaran bagi Guru IPA SMP se-Bone Bolango

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Faisal
    • visibility 234
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dosen di lingkungan Program Studi S2 Pendidikan IPA melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa sosialisasi penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran IPA bagi guru-guru IPA SMP se-Kabupaten Bone Bolango. Kegiatan yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Tapa, Kamis, (07/08/2025) itu sedikitnya diikuti oleh perwakilan guru IPA dari 16 sekolah. Adapun 16 sekolah tersebut yakni; […]

  • Wajar Tapi Palsu

    Wajar Tapi Palsu

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 605
    • 0Komentar

    Gus Dur pernah bilang, “Yang lebih lucu dari politik adalah orang yang menganggap politik itu serius.” Dalam konteks audit negara, barangkali yang lebih lucu dari korupsi adalah keyakinan bahwa WTP berarti pemerintah sudah beres. WTP itu sebenarnya sederhana: laporan keuangan tidak melanggar SAP. Titik. Tapi di negeri ini, WTP diperlakukan seperti air zam-zam—disiramkan ke mana-mana […]

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

  • Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 413
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan sahabat lamanya yang juga Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Istana Merdeka pada Jumat, 27 Maret 2026. Pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi Lebaran, tetapi juga […]

  • Gerakan Nurani Bangsa Desak Presiden Hentikan Kekerasan dan Kembalikan Kepercayaan Publik

    Gerakan Nurani Bangsa Desak Presiden Hentikan Kekerasan dan Kembalikan Kepercayaan Publik

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Gerakan Nurani Bangsa yang digerakkan sejumlah tokoh lintas agama, intelektual, dan budayawan menyampaikan seruan moral kepada Presiden Prabowo Subianto terkait situasi sosial politik yang belakangan ini memanas akibat gelombang aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Dalam pernyataannya, Gerakan Nurani Bangsa meminta Presiden selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan menjadikan kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai […]

  • Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Muhamad Pauzan
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Bangsa ini memikul tanggung jawab moral yang besar: memastikan setiap rupiah yang dialokasikan untuk program bantuan sosial benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Namun, realitas menunjukkan bahwa akuntansi program bantuan sosial masih menghadapi berbagai tantangan serius. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: sejauh mana efektivitas penyaluran bantuan sosial, dan apa saja hambatan dalam pengawasannya? Indonesia, […]

expand_less