Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kesalehan yang “Dipertontonkan”

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
  • visibility 117
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan tuna, dan kuah bugis.

Selesai makan, saya duduk sambil membuka whatsapp ada banyak pesan masuk dengan kalimat; “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal ‘aidin Walfaidzin, Mohon maaf Lahir  dan Bathin”. Ada juga yang mengirim  dalam bentuk flayer. Ternyata banyak yang meminta maaf, maklum tak ada manusia yang tidak pernah salah.

Setelah itu saya membuka facebook, dan di facebook orang ramai-ramai memposting Shalat Ied di rumah. Orang-orang yang melaksanakan shalat di rumah alasannya bervariasi. Ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan MUI untuk shalat di rumah, ada yang karena takut akan bahaya terinfeksi virus corona, ada yang “terpaksa” karena tidak tahu shalat dimana.

Di kampung saya di Dehualolo, kira-kira pukul 06.00, saya melihat orang-orang berjalan mengenakan mukena dan saya tidak tahu kemana mereka hendak melangkah untuk bepergian Shalat Idul Fitri. Saya mengikuti mereka dan bertanya, mau Shalat dimana? Mereka menjawab di lapangan. Saya kembali bertanya; “Kenapa tidak Shalat di Rumah?”, “Tidak ada yang bisa jadi Imam dan Khatib”, kata orang-orang itu menimpali

Saya termenung dan balik ke rumah. Dalam benak-pikiran saya ada seribu pertaanyaaan, tapi saya berasumsi bahwa mereka “pasrah” dengan keadaan yang ada. Kalaupun mati itulah ajal, yang telah ditentukan oleh Allah swt di tengah pandemic covid-19.

Pada pukul 15.00 saya membuka kembali facebook saya, ternyata ada postingan lagi tentang kelompok-kelompok keluarga yang Shalat di rumah. Saya tidak tahu apakah ini gejala yang menunjukan kedisiplinaan yang harus dipublish di tengah orang-orang yang tidak disiplin, ataukah ingin menunjukkan kesalehan kelompok keluarga yang mesti dipertontonkan di wilayah public? Ataukah ini gejala dari postmodernisme? Ataukah gejala post truth? Saya tidak tau.

Setahu saya, bahwa ruang publik akhirnya menjadi kotor dibalik sucinya identitas kelompok. Karena ruang public mulai di pertontonkan dengan kesalehan yang semestinya tidak perlu orang lain mengetahuinya. Dalam pandangan teologis “Jika ingin melakukan kebajikan tidak perlu orang lain mengetahuinya”. Artinya, kebajikan tidak berlu diumbar-umbar di wilayah publik. Biarlah Anda dan Tuhanmu yang tahu akan perbuatan baikmu.

Oleh orang lain, mempertontonkan kesalehan di wilayah publik, sebenarnya yang muncul adalah fenomena dusta, ilusi, kepura-puraan, dan hoaks. Karena agama hanya dijadikan jubah untuk membungkus tubuh dan tidak untuk menjadi perisai hati dan perbuatan, Itulah manusia. Oleh Adelbert Snijders (2008), manusia adalah makhluk yang memiliki segala keunikan dan juga paradox.

Saya tidak sedang menggugat religiusitas seseorang, tapi bairlah kesalehan itu terbungkus dengan iman (bukan riya), karena itu akan lebih mendatangkan kuantitas pahala dan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Jangan mengaggap Tuhan itu buta dan tuli, karena Ia dapat melihat amal ibadah setiap hambanya. Sekalipun itu dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tidak perlu divisualisasi dan dipertontonkan di wilayah publik.

Karena ketika perbuatan itu dipublish di Facebook yang bisa kita lakukan adalah mengklik “Like”, jika makin banyak yang like makin tinggi kepuasaan kesalehannya.

Gejala di atas mungkin menunjukan gambaran manusia di era postmodernisme. Dimana kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern yang begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan sehingga dapat dikatakan ideal.

Ciri ini dikonstruksi oleh manusia semacam mengiklankan kesalehan di ruang-ruang publik. Amal ibadah dikonstruksi seperti produk yang di iklankan di media sosial apakah dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya, atau justru ingin memperoleh penilaian atas amal ibadah?

Dalam bahasa agama, jika amal ibadah di pertontonkan di ruang-ruang publik dengan secara sengaja, itu menunjukan perbuatan riya, atau pamer yang tidak ada nilai pahalanya. Apalagi di tengah pandemic covid-19 yang sedang menggurita di negeri ini. Mestinya visualisasi keagamaan dalam rumah tangga tidak berlebihan. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul efek negatif dalam kehidupan rumah tangga orang. Bisa jadi istrinya mengatakan; “Lihat suaminya si anu bisa imam dan khatib, kamu bisa apa?”. Atau juga bisa memuncul kecemburuan pada diri anak-anak; “Lihat bapaknya si anu bisa jadi imam dan khotib, papa sendiri tidak bisa”.

Mari kita bertanya dalam diri kita masing-masing, kenapa Tuhan tidak terlihat? Karena Tuhan adalah symbol kebajikan dan kesalehan, maka kabajikan dan kesalehan yang kita perbuat tidak perlu terlihat oleh oleh orang lain. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Semogaa bermanfaat.(***)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan bathin

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 361
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

  • Petani Bukan Beban, Mereka Jantung Pembangunan

    Petani Bukan Beban, Mereka Jantung Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Di momentum Hari Tani Nasional, Ketua Tani Merdeka Indonesia Provinsi Gorontalo, Rian Uno, menyoroti persoalan investasi perkebunan dan pertambangan di Gorontalo yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat petani. Menurutnya, kondisi ini bertolak belakang dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa petani harus bangga menjadi tulang punggung bangsa. “Saya melihat petani di Gorontalo masih menghadapi […]

  • KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 138
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo berduka atas wafatnya KH Abdul Ghofir Nawawi, Rais Syuriyah PWNU Gorontalo. Kabar wafatnya almarhum beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan pesan singkat yang diterima redaksi nulondalo online. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa KH Abdul Ghofir Nawawi mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.25 […]

  • PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gorontalo bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Gorontalo menggelar aksi donor darah di Kantor PWNU Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar […]

  • KH. Abd. Muin Yusuf: Menanamkan Akar NU di Bumi Sidrap

    KH. Abd. Muin Yusuf: Menanamkan Akar NU di Bumi Sidrap

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Zaenuddin Endy
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Tokoh Kunci di Balik NU Sidrap Dalam sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, nama KH. Abd. Muin Yusuf memiliki posisi istimewa. Ia bukan hanya dikenal sebagai muassis (pendiri) NU Sidrap, melainkan juga sebagai sosok kiai yang menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) melalui jalur dakwah, pendidikan, dan keteladanan hidup. Perannya tidak sekadar administratif; […]

  • Hasil Perdagangan Karbon diterima Pusat, DPR : Daerah Harus Dapat Manfaat

    Hasil Perdagangan Karbon diterima Pusat, DPR : Daerah Harus Dapat Manfaat

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Anggota Komisi XII DPR RI Cek Endra menyoroti manfaat konkret dari perdagangan karbon bagi daerah, serta mekanisme distribusi manfaat bagi daerah penyumbang penurunan emisi karbon di Indonesia. “Jika perdagangan karbon ini diterima di pusat, apakah kabupaten penghasil karbon seperti di Jambi juga mendapatkan manfaatnya? Bagaimana mekanisme perhitungannya agar mereka mendapatkan hak yang seharusnya?” tanya Cek […]

expand_less