Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kesalehan yang “Dipertontonkan”

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
  • visibility 135
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan tuna, dan kuah bugis.

Selesai makan, saya duduk sambil membuka whatsapp ada banyak pesan masuk dengan kalimat; “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal ‘aidin Walfaidzin, Mohon maaf Lahir  dan Bathin”. Ada juga yang mengirim  dalam bentuk flayer. Ternyata banyak yang meminta maaf, maklum tak ada manusia yang tidak pernah salah.

Setelah itu saya membuka facebook, dan di facebook orang ramai-ramai memposting Shalat Ied di rumah. Orang-orang yang melaksanakan shalat di rumah alasannya bervariasi. Ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan MUI untuk shalat di rumah, ada yang karena takut akan bahaya terinfeksi virus corona, ada yang “terpaksa” karena tidak tahu shalat dimana.

Di kampung saya di Dehualolo, kira-kira pukul 06.00, saya melihat orang-orang berjalan mengenakan mukena dan saya tidak tahu kemana mereka hendak melangkah untuk bepergian Shalat Idul Fitri. Saya mengikuti mereka dan bertanya, mau Shalat dimana? Mereka menjawab di lapangan. Saya kembali bertanya; “Kenapa tidak Shalat di Rumah?”, “Tidak ada yang bisa jadi Imam dan Khatib”, kata orang-orang itu menimpali

Saya termenung dan balik ke rumah. Dalam benak-pikiran saya ada seribu pertaanyaaan, tapi saya berasumsi bahwa mereka “pasrah” dengan keadaan yang ada. Kalaupun mati itulah ajal, yang telah ditentukan oleh Allah swt di tengah pandemic covid-19.

Pada pukul 15.00 saya membuka kembali facebook saya, ternyata ada postingan lagi tentang kelompok-kelompok keluarga yang Shalat di rumah. Saya tidak tahu apakah ini gejala yang menunjukan kedisiplinaan yang harus dipublish di tengah orang-orang yang tidak disiplin, ataukah ingin menunjukkan kesalehan kelompok keluarga yang mesti dipertontonkan di wilayah public? Ataukah ini gejala dari postmodernisme? Ataukah gejala post truth? Saya tidak tau.

Setahu saya, bahwa ruang publik akhirnya menjadi kotor dibalik sucinya identitas kelompok. Karena ruang public mulai di pertontonkan dengan kesalehan yang semestinya tidak perlu orang lain mengetahuinya. Dalam pandangan teologis “Jika ingin melakukan kebajikan tidak perlu orang lain mengetahuinya”. Artinya, kebajikan tidak berlu diumbar-umbar di wilayah publik. Biarlah Anda dan Tuhanmu yang tahu akan perbuatan baikmu.

Oleh orang lain, mempertontonkan kesalehan di wilayah publik, sebenarnya yang muncul adalah fenomena dusta, ilusi, kepura-puraan, dan hoaks. Karena agama hanya dijadikan jubah untuk membungkus tubuh dan tidak untuk menjadi perisai hati dan perbuatan, Itulah manusia. Oleh Adelbert Snijders (2008), manusia adalah makhluk yang memiliki segala keunikan dan juga paradox.

Saya tidak sedang menggugat religiusitas seseorang, tapi bairlah kesalehan itu terbungkus dengan iman (bukan riya), karena itu akan lebih mendatangkan kuantitas pahala dan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Jangan mengaggap Tuhan itu buta dan tuli, karena Ia dapat melihat amal ibadah setiap hambanya. Sekalipun itu dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tidak perlu divisualisasi dan dipertontonkan di wilayah publik.

Karena ketika perbuatan itu dipublish di Facebook yang bisa kita lakukan adalah mengklik “Like”, jika makin banyak yang like makin tinggi kepuasaan kesalehannya.

Gejala di atas mungkin menunjukan gambaran manusia di era postmodernisme. Dimana kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern yang begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan sehingga dapat dikatakan ideal.

Ciri ini dikonstruksi oleh manusia semacam mengiklankan kesalehan di ruang-ruang publik. Amal ibadah dikonstruksi seperti produk yang di iklankan di media sosial apakah dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya, atau justru ingin memperoleh penilaian atas amal ibadah?

Dalam bahasa agama, jika amal ibadah di pertontonkan di ruang-ruang publik dengan secara sengaja, itu menunjukan perbuatan riya, atau pamer yang tidak ada nilai pahalanya. Apalagi di tengah pandemic covid-19 yang sedang menggurita di negeri ini. Mestinya visualisasi keagamaan dalam rumah tangga tidak berlebihan. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul efek negatif dalam kehidupan rumah tangga orang. Bisa jadi istrinya mengatakan; “Lihat suaminya si anu bisa imam dan khatib, kamu bisa apa?”. Atau juga bisa memuncul kecemburuan pada diri anak-anak; “Lihat bapaknya si anu bisa jadi imam dan khotib, papa sendiri tidak bisa”.

Mari kita bertanya dalam diri kita masing-masing, kenapa Tuhan tidak terlihat? Karena Tuhan adalah symbol kebajikan dan kesalehan, maka kabajikan dan kesalehan yang kita perbuat tidak perlu terlihat oleh oleh orang lain. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Semogaa bermanfaat.(***)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan bathin

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 133
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo terus mendorong lembaga-lembaga semi otonom di bawah naungannya untuk aktif menjalankan tugas dan fungsi masing-masing. Langkah ini dilakukan guna mendukung kerja-kerja Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dalam mewujudkan program-program strategis dan taktis demi mencapai sasaran program NU di tingkat wilayah. Salah satu lembaga yang diharapkan berperan aktif adalah Lembaga […]

  • Koalisi Masyarakat Gorontalo Nilai Gugatan Menteri Pertanian terhadap Tempo Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers

    Koalisi Masyarakat Gorontalo Nilai Gugatan Menteri Pertanian terhadap Tempo Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Gorontalo untuk Demokrasi menilai gugatan hukum yang dilayangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terhadap majalah Tempo merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan pers sekaligus ancaman serius bagi demokrasi di Indonesia. Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “Pembungkaman Ruang Publik dalam Gugatan Perdata Menteri Pertanian terhadap Tempo” […]

  • Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 266
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait potensi dan pengelolaan dana umat kembali memantik diskursus publik mengenai peran keuangan sosial Islam dalam pembangunan nasional. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menegaskan bahwa pengelolaan dana umat tidak boleh berhenti pada zakat semata. “Zakat adalah fondasi. Namun, ekosistem dana […]

  • Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 48
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Sejumlah tokoh keagamaan, akademisi, hingga aktivis lingkungan hadir sebagai pemantik diskusi dalam rangkaian sesi forum Festival Jagat, yang berlangsung 29 – 30 Agustus, merumuskan 9 point ‘Risalah Jagat’ serukan taubat ekologis. Forum yang dilaksanakan di Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak tersebut, di hadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. […]

  • Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Emas telah lama menjadi instrumen investasi yang aman dan menguntungkan. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, Pegadaian menghadirkan Layanan Bank Emas yaitu sebuah layanan yang memungkinkan masyarakat melakukan transaksi dan investasi emas dengan lebih mudah, aman, dan terpercaya. Bank Emas merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang terhimpun dalam Asta Cita Prabowo-Gibran dengan tujuan hilirisasi […]

  • BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominasi Laporan 10–11 Februari 2026 di Jawa Tengah

    BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominasi Laporan 10–11 Februari 2026 di Jawa Tengah

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana yang terjadi pada periode 10 hingga 11 Februari 2026. Dalam laporan tersebut, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian di wilayah Provinsi Jawa Tengah akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Hujan intensitas sedang disertai angin kencang melanda Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, pada […]

expand_less