PMII Mangkoso Gelar Bincang Tokoh, Bedah Pemikiran Mahbub Djunaidi dan Tradisi Kritik Mahasiswa
- account_circle Zulkifli
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 21
- print Cetak

Kader PMII Mangkoso bersama mahasiswa IAI DDI Mangkoso berfoto bersama dalam kegiatan Bincang Tokoh yang mengangkat pemikiran Mahbub Djunaidi, Ketua Umum pertama PMII yang dikenal sebagai Sang Pendekar Pena. Kegiatan ini menjadi upaya merawat tradisi intelektual, budaya literasi, dan nalar kritis mahasiswa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam pembahasan mengenai situasi politik pada masa Orde Baru, diskusi turut menyinggung keterbatasan ruang kebebasan berekspresi dan berbagai risiko yang dihadapi para pengkritik kekuasaan. Di tengah situasi tersebut, tradisi menulis menjadi salah satu jalan untuk menyampaikan gagasan dan mempertahankan sikap kritis.
Pengalaman Mahbub Djunaidi menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan melalui demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Tulisan juga dapat menjadi sarana untuk mengungkap persoalan, mempertanyakan kebijakan, dan mengajak masyarakat melihat realitas secara lebih jernih.
Namun, keberanian menyampaikan kritik perlu disertai ketajaman analisis, penguasaan pengetahuan, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan. Di sinilah tradisi intelektual menjadi penting: kritik tidak berhenti pada penolakan, tetapi juga menghadirkan argumentasi dan menawarkan cara pandang alternatif.
Melalui kegiatan Bincang Tokoh ini, PMII Komisariat IAI DDI Mangkoso bersama PMII Rayon Tarbiyah dan Syariah berupaya menjadikan pemikiran Mahbub Djunaidi sebagai bahan refleksi bagi kader dan mahasiswa. Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum mengenang tokoh, tetapi menjadi ruang untuk menghidupkan kembali budaya literasi dan diskusi kritis di lingkungan kampus.
Semangat yang diwariskan Mahbub Djunaidi menjadi pengingat bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk membaca perubahan zaman, menguji berbagai kebijakan, serta menyampaikan pandangan berdasarkan pengetahuan dan argumentasi yang kuat.
Dengan demikian, merawat tradisi intelektual bukan sekadar mengenang tokoh-tokoh masa lalu, melainkan meneruskan keberanian berpikir dan menulis dalam menghadapi persoalan hari ini. Bagi kader PMII, pena dapat menjadi instrumen perjuangan untuk menjaga nalar kritis sekaligus memperluas kontribusi mahasiswa bagi masyarakat dan bangsa.
- Penulis: Zulkifli
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar