Saldo Akhir
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 66
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Idul Fitri sering dimaknai sebagai “kembali ke fitrah”. Tapi dalam bahasa akuntansi, ini menarik. Apakah fitrah itu seperti saldo nol? Kalau iya, berarti kita reset semua dosa dan kembali ke titik awal. Tapi kalau kita pikir lebih dalam, fitrah itu bukan nol, melainkan “baseline kebaikan” yang seharusnya meningkat setiap tahun. Jadi bukan sekadar menghapus kesalahan, tapi memperbaiki kualitas pencatatan ke depan.
Masalahnya, banyak dari kita memperlakukan Idul Fitri seperti “write-off” dosa tanpa memperbaiki sistemnya. Ibarat perusahaan yang setiap tahun merugi, tapi selalu berharap ada investor malaikat yang menutup kerugian itu. Padahal, dalam akuntansi yang sehat, yang diperbaiki bukan hanya hasil akhir, tapi juga prosesnya: pengendalian internal, etika, dan tata kelola.
Di sinilah pentingnya melihat Ramadhan sebagai “training camp spiritual”. Ia melatih disiplin, kejujuran, dan empati. Tapi sebagaimana pelatihan, nilainya bukan pada sertifikat, melainkan pada implementasi setelahnya. Kalau setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama—malas ibadah, ringan berbohong, berat bersedekah—maka bisa jadi saldo akhir kita hanya tampak indah di laporan, tapi kosong di substansi.
Humor ala Gus Dur seringkali menyentil hal ini dengan cara yang cerdas. Beliau pernah menyindir, “Yang penting bukan seberapa lama kita berpuasa, tapi seberapa lama efeknya bertahan.” Ini seperti laporan keuangan: bukan hanya tentang angka pada satu tanggal, tapi tren dan keberlanjutannya. Percuma laba besar di satu periode kalau setelahnya langsung bangkrut.
Lebih lucu lagi, dalam kehidupan sosial pasca-Idul Fitri, kita sering lebih fokus pada “rekonsiliasi sosial” daripada “rekonsiliasi spiritual”. Kita keliling silaturahmi, saling memaafkan, makan ketupat sampai lupa niat awal puasa. Tidak salah, tentu saja. Tapi jangan sampai kita rajin meminta maaf kepada manusia, tapi lupa “melanjutkan kontrak kebaikan” dengan Tuhan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar