Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Saldo Akhir

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 362
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Idul Fitri sering dimaknai sebagai “kembali ke fitrah”. Tapi dalam bahasa akuntansi, ini menarik. Apakah fitrah itu seperti saldo nol? Kalau iya, berarti kita reset semua dosa dan kembali ke titik awal. Tapi kalau kita pikir lebih dalam, fitrah itu bukan nol, melainkan “baseline kebaikan” yang seharusnya meningkat setiap tahun. Jadi bukan sekadar menghapus kesalahan, tapi memperbaiki kualitas pencatatan ke depan.

Masalahnya, banyak dari kita memperlakukan Idul Fitri seperti “write-off” dosa tanpa memperbaiki sistemnya. Ibarat perusahaan yang setiap tahun merugi, tapi selalu berharap ada investor malaikat yang menutup kerugian itu. Padahal, dalam akuntansi yang sehat, yang diperbaiki bukan hanya hasil akhir, tapi juga prosesnya: pengendalian internal, etika, dan tata kelola.

Di sinilah pentingnya melihat Ramadhan sebagai “training camp spiritual”. Ia melatih disiplin, kejujuran, dan empati. Tapi sebagaimana pelatihan, nilainya bukan pada sertifikat, melainkan pada implementasi setelahnya. Kalau setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama—malas ibadah, ringan berbohong, berat bersedekah—maka bisa jadi saldo akhir kita hanya tampak indah di laporan, tapi kosong di substansi.

Humor ala Gus Dur seringkali menyentil hal ini dengan cara yang cerdas. Beliau pernah menyindir, “Yang penting bukan seberapa lama kita berpuasa, tapi seberapa lama efeknya bertahan.” Ini seperti laporan keuangan: bukan hanya tentang angka pada satu tanggal, tapi tren dan keberlanjutannya. Percuma laba besar di satu periode kalau setelahnya langsung bangkrut.

Lebih lucu lagi, dalam kehidupan sosial pasca-Idul Fitri, kita sering lebih fokus pada “rekonsiliasi sosial” daripada “rekonsiliasi spiritual”. Kita keliling silaturahmi, saling memaafkan, makan ketupat sampai lupa niat awal puasa. Tidak salah, tentu saja. Tapi jangan sampai kita rajin meminta maaf kepada manusia, tapi lupa “melanjutkan kontrak kebaikan” dengan Tuhan.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • RUU Polri Jadi Sorotan, Aliansi Mahasiswa dan Aktivis Muda Sampaikan Kajian ke Komisi III

    RUU Polri Jadi Sorotan, Aliansi Mahasiswa dan Aktivis Muda Sampaikan Kajian ke Komisi III

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 245
    • 0Komentar

    “Hukum harus berdiri di atas prinsip keadilan. Karena itu, setiap perubahan kebijakan yang menyangkut institusi penegak hukum perlu dikaji secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesan adanya kepentingan politik yang lebih dominan dibanding kepentingan publik,” kata Randi. Sementara itu, Koalisi Aktivis Muda Indonesia (KAMI) menilai usulan perpanjangan usia pensiun berpotensi memengaruhi proses regenerasi dan pengembangan karier […]

  • DPR Setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

    DPR Setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 336
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi XI DPR RI secara resmi menetapkan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Penetapan tersebut diambil melalui rapat internal Komisi XI yang digelar usai pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Senin (26/1/2026). Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada kesepakatan seluruh […]

  • MUI Gorontalo Dikukuhkan, Prof. Amani Lubis: Jadikan MUI Garda Moderasi Beragama

    MUI Gorontalo Dikukuhkan, Prof. Amani Lubis: Jadikan MUI Garda Moderasi Beragama

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo resmi mengukuhkan kepengurusan baru masa khidmat 2025–2030. Prosesi pelantikan berlangsung di Auditorium Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sabtu (23/8/2025), dengan dihadiri tokoh agama, pejabat pemerintah, dan perwakilan ormas Islam se-Gorontalo. Pengukuhan dipimpin Ketua MUI Pusat, Prof. Dr. Hj. Amani Lubis, MA. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya MUI sebagai mitra […]

  • Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 395
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VII DPR RI resmi membentuk Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk menindaklanjuti berbagai laporan dan temuan terkait pelanggaran perizinan serta praktik usaha yang tidak sesuai aturan di sektor AMDK. Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menegaskan pembentukan Panja bertujuan memberikan rekomendasi dan solusi atas persoalan industri […]

  • Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    • calendar_month Minggu, 13 Nov 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Di mana-mana, sering kita mendengar panggilan “kiyai” kepada seseorang. Panggilan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada momen-momen keagamaan. Tak peduli apakah seseorang yang dipanggil kiyai tersebut pantas menyandang gelar sakral ini atau tidak. Entah parameter apa yang dipakai sehingga begitu mudahnya sebutan kiyai dialamatkan kepada seseorang..  Apakah setiap penceramah, ustadz atau guru agama, bisa […]

  • Administrasi yang Menelan Manusia: Ketika Birokrasi Kehilangan Jiwa Pelayanan

    Administrasi yang Menelan Manusia: Ketika Birokrasi Kehilangan Jiwa Pelayanan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Tidak ada negara modern tanpa birokrasi. Ia lahir sebagai jawaban atas kebutuhan akan ketertiban, efisiensi, dan kepastian hukum. Max Weber bahkan menyebut birokrasi sebagai bentuk organisasi paling rasional yang pernah diciptakan manusia. Dengan pembagian kerja yang jelas, aturan yang baku, serta pengangkatan berdasarkan kompetensi, birokrasi diharapkan mampu menghindarkan negara dari praktik kekuasaan yang sewenang-wenang. Namun, […]

expand_less