Breaking News
light_mode
Trending Tags

Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
  • visibility 89
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat slogan, mars, dan ritual.

Namun, apakah nasionalisme sebatas itu? Apakah cinta tanah air hanya hidup dalam momen-momen seremoni dan ekspresi heroisme simbolik? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendalam—lebih membumi—dalam makna nasionalisme yang selama ini terlupakan?

Kita sering lupa, nasionalisme Indonesia dibangun dari dua unsur yang sangat konkret: tanah dan air. Bahkan, ketika kita menyebut Indonesia sebagai tanah air, kita sesungguhnya sedang menyebutkan esensi ekologis dari nasionalisme itu sendiri. Tanah tempat kita berpijak dan air tempat kita hidup bersama. Tapi ironisnya, dalam praktik sehari-hari, nasionalisme sering terpisah dari upaya merawat tanah dan air itu sendiri.

Nasionalisme dalam Krisis Ekologis

Kita hidup di tengah krisis ekologis yang makin mendalam. Perubahan iklim mengancam ketahanan pangan. Banjir dan kekeringan terjadi bersamaan di berbagai wilayah. Sungai-sungai kita tercemar limbah rumah tangga dan industri. Hutan-hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia ditebang demi ekspansi ekonomi jangka pendek. Dalam semua ini, kita seolah diam. Atau lebih buruk: kita merasa itu bukan urusan nasionalisme, tetapi hanya urusan lingkungan.

Padahal, nasionalisme yang mengabaikan tanah dan air adalah nasionalisme yang pincang. Merayakan bendera, tetapi membiarkan hutan rusak, adalah kontradiksi. Menyanyikan lagu kebangsaan di stadion, tetapi membuang sampah sembarangan ke laut, adalah pengkhianatan halus terhadap ibu pertiwi.

Inilah saatnya kita menggeser—atau lebih tepatnya, memperluas—paradigma nasionalisme kita. Dari yang semata seremoni menjadi aksi ekologis. Dari cinta tanah air sebagai slogan, menjadi cinta tanah dan air dalam praktik sehari-hari. Inilah yang disebut sebagai Eco-Nasionalisme.

Dari Simbol ke Tindakan

Eco-Nasionalisme menolak menjadikan lingkungan hidup sebagai isu pinggiran. Ia menempatkan pelestarian alam sebagai inti dari nasionalisme kontemporer. Dalam kerangka ini, menanam pohon adalah tindakan patriotik. Mengurangi jejak karbon pribadi adalah bentuk bela negara. Menjaga sumber air bersih adalah bagian dari menjaga kedaulatan bangsa.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil: memilah sampah, tidak membuang limbah ke sungai, mengurangi plastik sekali pakai, mendukung pertanian lokal, ikut dalam reboisasi. Tapi kita juga perlu menuntut perubahan pada skala yang lebih luas: regulasi yang berpihak pada kelestarian, penghentian deforestasi atas nama investasi, perlindungan terhadap masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan dan air paling setia.

Dalam semangat ini, setiap warga negara menjadi penjaga ekosistem. Setiap tindakan yang merawat bumi adalah bagian dari membela negara. Karena Indonesia bukan hanya ide di kepala atau simbol di kain, tetapi juga jejak tanah dan aliran air yang menghidupi kita bersama.

Merawat Masa Depan Indonesia

Kita butuh narasi nasionalisme baru yang tidak hanya membanggakan sejarah masa lalu, tetapi juga merawat masa depan. Kita tidak bisa mencintai Indonesia sambil membiarkan ekosistemnya rusak. Karena ketika sungai-sungai kering, ketika hutan-hutan terbakar, ketika udara tak lagi layak dihirup, pertanyaan penting akan datang: apa arti menjadi bangsa, jika tanah dan air kita tidak lagi bisa dihidupi?

Eco-Nasionalisme menawarkan jalan keluar: nasionalisme yang tidak melulu tentang simbol, tapi tentang keberlanjutan. Nasionalisme yang sadar bahwa Indonesia bukan hanya batas wilayah, tapi ekosistem yang saling terhubung. Bahwa tanah dan air adalah ibu sejati dari Indonesia.

Maka, mari perluas nasionalisme kita. Mari kibarkan bendera Merah Putih, sambil memegang cangkul dan bibit pohon. Karena menanam pohon di bumi Indonesia adalah cara lain menyanyikan “Indonesia Raya.” Karena sekali lagi, dan untuk selamanya: tanah airku Indonesia.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 242
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kapal nelayan, KM Elnas III, dilaporkan mengalami mati mesin saat beroperasi di perairan Teluk Tomini. Beruntung, seluruh awak kapal berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Kejadian ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rahman, pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, KM Elnas […]

  • Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Penulis : Asrul G.H. Lasapa (Da’i dan Pemerhati Sosial Keagamaan) Suasana semakin genting. Pergerakan massa sudah tidak terkendali. Teriakan demi teriakan menggelinding hingga ke petala langit. Suara dentuman benda keras menghantam genteng dan kaca bangunan megah seakan berlomba dengan suara letusan senjata aparat keamanan. Kobaran api semakin membara. Gumpalan asap hitam membumbung pekat ke angkasa […]

  • Putra Banggai Murka di RDP: DPRD Sulteng Soroti Dugaan Kriminalisasi dan Izin Tambang PT Pantas Indomining

    Putra Banggai Murka di RDP: DPRD Sulteng Soroti Dugaan Kriminalisasi dan Izin Tambang PT Pantas Indomining

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Firman Dauda
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Sulteng – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan PT Pantas Indomining berlangsung alot. Rapat tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi tegas menyangkut sengketa lahan, dugaan kriminalisasi warga, hingga persoalan dokumen perizinan perusahaan. Dalam forum itu, DPRD menyoroti aktivitas pertambangan […]

  • Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium. Berguru pada Tauhid ala […]

  • Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kehidupan zuhudnya. Ia berasal dari kabilah Ghifar, sebuah kabilah Arab yang tinggal di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Sebelum masuk Islam, kabilah ini dikenal keras dan hidup dari merampok kafilah dagang. Namun Abu Dzar memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan orang […]

  • Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Fatayat NU. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj Margaret Aliyatul Maimunah binti KH Faruq, wafat pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB setelah menjalani perawatan intensif di RSUP Fatmawati, Jakarta. Kabar berpulangnya almarhumah disampaikan langsung oleh suaminya, KH Abdullah Masud, yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Tangerang Selatan. […]

expand_less