Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan
- account_circle Suko Wahyudi
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 135
- print Cetak

Menteri ESDM dan Ketum Partail Golkar, Bahlil Lahadalia/ Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada 6 Maret 2026, dalam sebuah acara buka puasa bersama dan peringatan Nuzulul Quran di kantor DPP Partai Golkar di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, melontarkan sebuah kelakar yang segera menarik perhatian publik. Dalam suasana santai ia mengatakan bahwa bagi Golkar “Lailatul Qadar itu kalau kursi bertambah.” Candaan tersebut disambut tawa oleh sebagian hadirin, tetapi ketika pernyataan itu menyebar luas melalui media dan media sosial, respons masyarakat pun bermunculan.
Sebagian pihak menilainya sebagai humor politik yang wajar dalam percakapan publik. Namun tidak sedikit pula yang merasa bahwa ungkapan tersebut kurang tepat karena mengaitkan istilah yang sangat sakral dalam Islam dengan kepentingan politik elektoral. Perdebatan yang muncul kemudian tidak sekadar menyentuh soal sensitif atau tidaknya sebuah candaan, melainkan juga membuka refleksi yang lebih luas tentang bagaimana simbol agama diperlakukan dalam ruang politik Indonesia.
Indonesia adalah bangsa yang hidup dalam lanskap religius yang kuat. Agama tidak hanya hadir dalam ruang ibadah, tetapi juga membentuk kesadaran sosial, budaya, dan bahkan cara masyarakat memandang kekuasaan. Dalam konteks ini, simbol-simbol agama memiliki kedudukan yang tidak sekadar linguistik, melainkan juga spiritual dan kultural. Ia hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.
- Penulis: Suko Wahyudi

Saat ini belum ada komentar